Rahasia Petani Tetap Bugar Selama Bulan Puasa

Rahasia Petani Tetap Bugar Selama Bulan Puasa

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Bertani bukanlah pekerjaan yang mudah, butuh kekuatan fisik yang besar untuk menjalankan aktivitas bercocok tanam, mulai dari penyiapan lahan, pembibitan, penyiangan, pemupukan, hingga panen dan pascapanen. Semuanya memerlukan kerja fisik yang cukup berat.

Petani biasa memulai kerjanya di pagi hingga siang hari. Panas dan teriknya sinar matahari seolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan ada pula yang bertani hingga sore saat hari mulai gelap. 

Bagi petani yang beragama Islam, tentu aktivitas bertani menjadi tantangan tersendiri saat menjalani Ibadah puasa di bulan Ramadan. Selama berpuasa tubuh cenderung lemah dan mudah lelah karena seharian tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. 

Lalu apa yang harus dilakukan agar kegiatan bertani tetap maksimal meski sedang berpuasa? Dikutip dari artikel Kompasiana berjudul “Bugar di Bulan Puasa ala Petani” yang ditulis oleh Fajr Muchtar, berikut rahasia petani di Pesantren Al Musthafa Cijapati, Kabupaten Bandung, Jawa Barat tetap bugar selama Ramadan.

1. Niat yang Ikhlas

Niat ini mendapat penekanan yang paling kuat buat petani yang berpuasa. Jika niatnya dan kuat, sekeras apapun puasanya dan bekerja tak akan membatalkan puasa. Niat menjadi kekuatan yang tak kasat mata dan pendorong yang sangat kuat.

Dalam berbagai kajian, niat yang ikhlas akan mempengaruhi kesadaran ragawi, indrawi serta ilahi. Dengan niat yang ikhlas kita sedang menghubungkan diri dengan energi ilahiah.

Energi ilahi inilah yang kemudian memberikan kekuatan luar biasa bagi para petani yang berpuasa. Energi ini yang memberi kekuatan untuk tidak merasa lapar, haus, capek, bahkan tetap penuh energi dan vitalitas dalam kondisi berpuasa.

Niat puasa ternyata juga merupakan pengkondisian bagi tubuh. Niat menggerakan seluruh anggota tubuh untuk menghadapi kondisi yang berat karena tak ada asupan makanan. Niat ini juga sekaligus mematikan hasrat makan dan minum. Selain itu, kebiasaan hidup menjadi petani membuat pekerjaan berat tidak menjadi hambatan puasa.

2. Mengatur Ritme 

Pada bulan Ramadan, petani diharuskan mengenal ritme pekerjaan dan ritme tubuhnya sendiri. Pagi hari saat badan masih bugar mereka melakukan kegiatan-kegiatan berat seperti mencangkul, menyiram dan mengangkat beban.

Saat badan mulai melemas dan tak bertenaga, diistirahatkan sejenak. Pekerjaan lalu beralih pada yang lebih ringan dan tak memerlukan tenaga seperti ngarambet (mencabuti gulma) serta membersihkan tanaman. Hal itu dilakukan hingga jam 12-an. Jam 12, merupakan puncak keletihan dan lemas. Pekerjaan ditunda dan istirahat kira-kira satu jam.

Di luar bulan Ramadan, jam 12 itu merupakan waktu makan siang. Karena di bulan ini tidak ada makan siang, maka biasanya waktu ini dipergunakan untuk tidur. Tidur siang di waktu puasa menjadi pengalihan perhatian dan juga mengembalikan kekuatan badan.

Setelah dirasa cukup, maka kemudian mereka mulai kembali dengan pekerjaan-pekerjaan yang ringan saja. Pembersihan lahan dari gulma merupakan pekerjaan yang tak terlalu berat dan dapat dilakukan saat petani puasa.

3. Jangan Lewatkan Sahur dan Berbuka

Pekerjaan petani yang memerlukan tenaga, karenanya betul betul memerlukan asupan makanan yang banyak. Asupan sahur akan dipakai pada awal-awal waktu bertani dan menipis di pertengahan. Kemudian asupan yang tipis dipenuhi lagi saat berbuka puasa.

Maka waktu sahur dan berbuka jangan sampai lupa. Petani sangat jarang memperhatikan makanan sesuai 4 sehat 5 sempurna. Mereka terbiasa menikmati apa yang ada di kebun mereka sendiri. Kebanyakan makanan yang disajikan di rumah-rumah petani adalah sayuran.

Karena kerja petani yang mengandalkan tenaga, maka asupan karbohidrat menempati porsi sangat besar baik di waktu sahur dan buka. Jika terlewat makan di waktu sahur, dapat dipastikan paginya tak akan bekerja maksimal.

4. Tidur yang Cukup

Ritme tubuh di jam-jam 12-an merupakan puncak dari lemasnya tubuh. Hal itu sebetulnya adalah mekanisme yang disebut dengan proses autolisis. Autolisis adalah proses pembuangan sel-sel yang mati atau rusak di dalam tubuh kita. 

Tidur di siang hari membantu proses itu. Sekaligus mempercepat proses kebugaran tubuh setelah beberapa jam bekerja keras di lahan.

Tidur malam yang cukup juga membuat tubuh lebih bugar. Petani yang suka begadang hingga larut malam dapat dipastikan paginya tidak fit untuk bekerja dan puasa. Tidur terlalu malam biasanya akan berakibat pada hilangnya waktu sahur yang kemudian berakibat pada hal lainnya.

Pelajari Pemupukan yang Tepat Agar Tetap Semangat

Selain menjalankan beberapa tips bugar selama puasa ala petani di Pesantren Al Musthafa Cijapati di atas, petani juga perlu mempelajari pemupukan yang tepat untuk tanaman dan tanah agar tetap semangat melihat tanaman tumbuh dengan baik.

Pupuk berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Perannya sekitar 20 persen – 40 persen dalam menyumbang tingkat kesuburan tanah. Untuk itu, pemupukan yang baik dan benar perlu dilakukan agar tanaman tumbuh dengan baik. 

Pemupukan yang baik dan benar harus memenuhi unsur 5 Tepat, yaitu Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, Tepat Tempat, dan Tepat Cara:

  1. Tepat jenis, yaitu pada saat pemupukan haruslah tepat dalam menentukan jenis pupuk apa yang dibutuhkan oleh tanaman. Unsur Urea jika tanaman kekurangan unsur N, SP 36 jika tanaman kekurangan unsur P. Jika pupuk yang digunakan salah, tanaman yang kita pupuk tidak akan bagus.
  2. Tepat dosis, yaitu pada saat pemupukan dosis yang diberikan harus tepat atau sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tepat dosis disini dimaksudkan agar dosis yang kita berikan ke tanaman tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit jika pemberian pupuk sedikit tanaman masih kekurangan unsur yang dibutuhkan, terlalu banyak tentu tanaman akan over dosis dan bisa menjadi racun.
  3. Tepat waktu, yaitu pada saat pemberian pupuk yang baik dan benar hendaknya disesuaikan kapan tanaman tersebut membutuhkan asupan lebih unsur hara atau pada waktu yang tepat. Hal ini agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
  4. Tepat tempat, maksudnya pada saat pemupukan harus memperhatikan tempat atau lokasi tanaman sehingga dapat mengaplikasikan pemupukan secara tepat. Misal lokasi pemupukan berada pada ketinggian dan kecepatan angin besar, maka tidak disarankan menggunakan pupuk yang berbentuk cair dan disemprotkan. Pemupukan juga memperhatikan cara peletakan pupuk pada tanaman. Hal ini mempengaruhi hasil penyerapan tanaman akan asupan pupuk.
  5. Tepat cara, yaitu pada saat pemupukan cara kita harus benar. Cara pemberian pupuk yang salah akan membuat pupuk terbuang sia-sia ataupun tercuci oleh air dan terdenitrifikasi sehingga tidak dapat diserap atau ditangkap langsung oleh tanaman. Untuk itu cara pemupukan harus benar dan tepat sasaran.

Jika prinsip 5 Tepat di atas dipenuhi dalam proses pemupukan, maka tanaman dapat tumbuh dengan subur dengan hasil panen yang optimal.  (*)