Petani sukses

Resign dari Bank, Petani Ini Untung Besar dan Bisa Go Internasional

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Meninggalkan kemapanan sebagai karyawan bank yang selama ini dianggap sebagai zoona nyaman menjadi tantangan yang belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Namun, Theodorus Dedy Tri Kuncoro mampu mendobrak hal tersebut dan menjadi petani sukses.

Lulusan Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini memilih untuk resign dan meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan bank swasta di Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, Dedy banting setir menjadi petani sayuran organik setelah tak laga menggeluti profesi bankir.

Padahal sebelumnya Dedy beranggapan bahwa menjadi petani identik dengan segala hal yang lekat dengan kesan kuno, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, pria asal Lampung Tengah yang lama bermukim di Yogyakarta itu justru mengaku memperoleh banyak hal yang selama ini tidak ia ketahui. Selain memberikan kesejahteraan dalam hidupnya, Dedy merasa profesi barunya itu sangat keren.

Keputusan banting setir yang dilakukan Dedy ini awalnya tidak berjalan mulus. Ia tidak memperoleh dukungan dari keluarga. Mereka meragukan prospek ke depan Dedy jika benar-benar menjadi petani. Dedy sendiri juga sempat ragu apakah penghasilan sebagai petani bisa menggantikan gajinya sebagai pegawai bank.

Sebelum resign, Dedy sudah mengawali kiprahnya sebagai petani dengan menjual bibit buah yang ia tanam di halaman rumahnya di Jalan Kaliurang Km 7,8, tepatnya di Dusun Rujakan, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya Dedy mulai berani menyewa tanah dari dana teman-temannya.

Dedy yang mulai menekuni profesi sebagai petani sejak keluar dari bank pada 2016 silam, semakin bertekad untuk lebih all out. Dedy mengaku sudah tak mungkin lagi kembali ke pekerjaan lamanya. Alasannya, ia telah menemukan kenyamanan pada profesinya sebagai petani.

Metode Berkebun Ramah Lingkungan

Untuk meraih kesuksesannya, Dedy mengalami berbagai macam tantangan. Banyaknya lahan yang tercemar, menjadikan Dedy harus menguras tenaga dan waktu dalam waktu yang cukup lama untuk menyuburkannya. Selama 1–2 tahun ia tekuni hanya demi menyuburkan tanah. Dalam waktu itu, Dedy sama sekali belum memanen maupun menanam tanaman yang lain.

Bekal dari Jurusan Biologi juga turut mempengaruhi usaha pertanian yang dijalankan. Menurutnya, selain memperoleh pendapatan, pertanian juga harus memperhatikan kelestarian tanah.

Dedy mengungkapkan dalam dua tahun terakhir, dirinya mencoba untuk melakukan sistem pertanian organik dengan integrated farming di kebunnya yang diberi nama Kebun Kuncup. Tidak hanya produksi sayuran dan buah semata, namun Dedy juga menanam empon-empon budidaya ikan di lahan pertaniannya.

“Jadi tidak hanya produksi sayuran atau buah saja di lahan itu tapi juga ada budidaya ikan. Ikan yang saya pilih adalah ikan bersisik seperti ikan nila. Semua air yang dari luar itu masuk ke kolam dulu, di situ ada ekosistem ikan sehingga itu menjadi parameter air itu sehat atau tidak,” terangnya.

Selain itu, Dedy juga beternak kelinci di lahan pertaniannya. Dedy memanfaatkan kelinci untuk diambil urinnya. Pasalnya urin kelinci merupakan sumber urea. Apalagi Kebun Kuncup mengedepankan pertanian organik atau pertanian ramah lingkungan.

“Selama ini kan yang sulit bagi petani adalah mengurangi beban produksi, termasuk juga merawat bumi dan memperbanyak suplai nutrisi untuk tanah. Jadi bukan memupuk tanaman, tetapi juga menghidupkan tanah. Itu menurut saya. Jadi memasukkan banyak bahan organik,” kata Dedy.

Tidak hanya kelinci, dalam integrated farming ini Dedy juga membudidayakan kambing. Menurut Dedy, kambing ini bisa dimanfaatkan kotorannya sebagai sumber kompos. 

“Kebun ini memang kita fokuskan untuk tanaman sayur. Ada sekitar 15 jenis. Target kita ada 30 jenis sayuran yang bisa ditanam di lahan ini. Walaupun mungkin sedikit-sedikit karena salah satu tujuan saya membuat kebun ini adalah untuk suplai toko. Sistem kita setiap hari tanam dan setiap hari panen. Jadi tidak langsung banyak,” imbuhnya.

Tips Mengurangi Beban Produksi

Dalam mengembangkan pertanian miliknya, Dedy membagi tanaman ke dalam dua bagian, yaitu tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan tanaman yang nilai ekonomi tingginya rendah. Contoh tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah cale curly atau cale nero. Tanaman ini ditanam di bedeng dan diberi atap. 

Sementara kangkung adalah contoh tanaman yang nilai ekonominya rendah. Karena itu, kangkung ditanam dengan menggunakan sistem polybag.

Selain sayur, Dedy juga menanam buah-buahan yang ditanam di polybag. Alasan tanaman buah ini ditanam di polybag karena lahan yang digunakan untuk menanam masih sewa. 

“Buah itu masanya panjang. Jadi penanamannya masih di polybag karena lahannya masih sewa. Nanti kalau ternyata lahannya diambil, kan susah untuk ngambilnya,” lanjut Dedy.

Perbanyak Suplai Nutrisi untuk Tanah

Tanaman juga membutuhkan nutrisi untuk bisa tumbuh dan berkembang. Untuk mendapatkannya, tanaman akan mengambil nutrisi dari tanah tempat dia tumbuh. Namun terkadang, tanah tidak menyediakan nutrisi yang sesuai. Itulah kenapa tanaman membutuhkan pupuk sebagai sumber nutrisi tambahan.

Pupuk merupakan suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara atau nutrisi yang digunakan untuk tanaman. Hal ini berguna untuk menopang tumbuh dan berkembangnya tanaman.

Unsur hara atau nutrisi yang diperlukan oleh tanaman ini seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), sulfur (S), magnesium (Mg), kalsium (Ca), kalium (K), besi (Fe), dan lain sebagainya. Pupuk dapat digunakan lewat tanah, daun, atau injeksi langsung ke batang tanaman.

Salah satu pupuk yang bisa memberikan nutrisi untuk tanah adalah NPK Pelangi. Pupuk yang diproduksi Pupuk Kaltim ini bisa membantu penyerapan air dan unsur hara dari tanah oleh tanaman. Dengan demikian, tanaman akan menjadi lebih hijau, pertumbuhan bagian vegetatif seperti daun, batang, dan akar menjadi lebih baik, serta mempercepat pertumbuhan tanaman dan akar.  (*)

sumber foto: Youtube CapCapung