Selain Pupuk, Ini Cara Efektif Dongkrak Produktivitas Petani

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Untuk mencapai target produksi pertanian, berbagai cara dilakukan pemerintah, salah satunya melalui pemberian bantuan pupuk dan sosialisasi pemupukan yang tepat.

Topik Pembahasan

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan musim tanam pertama (MT I) Oktober—Maret 2020/2021 mencapai 8,2 juta hektar. Dari target tersebut, diperkirakan akan menghasilkan 20 juta ton beras.

Target luas tanam tersebut lebih besar dibanding MT I Oktober—Maret 2019/2020 yang hanya 6,1 juta hektare dan MT II April—September 2020 sebesar 5,4 juta hektar.

Untuk mencapai target produksi pertanian, berbagai cara dilakukan pemerintah, salah satunya melalui pemberian bantuan pupuk dan sosialisasi pemupukan yang tepat.

Pupuk berkualitas baik disertai tata cara pemupukan yang tepat menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya tahan tanaman terhadap serangan hama.

Tidak hanya itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendongkrak produktivitas pertanian di Indonesia.

Digitalisasi Pertanian

Petani di Indonesia menghadapi beberapa masalah, di antaranya ongkos produksi yang tinggi, rantai pasok distribusi yang panjang, serta produktivitas lahan yang masih rendah. Digitalisasi diyakini sebagai solusi penting mengatasi permasalahan tersebut.

Beberapa perusahaan rintisan (start-up) di bidang pertanian berupaya menghubungkan petani dan pembeli sehingga petani yang dulunya hanya mengandalkan tengkulak menjadi lebih banyak pilihan dan pada akhirnya rantai distribusi pangan jadi lebih sedikit.

Masalah lain yang dihadapi petani yakni sulitnya mencari bibit dan pupuk dari distributor resmi dengan harga yang sesuai, sehingga petani terpaksa membeli di toko ritel atau tengkulak dengan harga yang jauh lebih mahal. Hal ini membuat ongkos produksi petani membengkak.

Start-up pertanian mencoba menghubungkan petani langsung dengan distributor resmi sehingga petani tidak perlu lagi kesulitan mendapatkan bibit dan pupuk dengan harga yang sesuai.

Selain itu, lahan di Indonesia masih rendah produktivitasnya. Untuk melakukan peningkatan produktivitas lahan, para petani perlu diberikan wawasan dan akses modal yang cukup. Start-up berperan penting untuk menjembatani kebutuhan-kebutuhan ini.

Beberapa start-up pertanian yang telah berkembang di Indonesia, di antaranya sebagai berikut.

TaniHub.

Start-up ini terbentuk pada tahun 2015. Melalui TaniHub, petani Indonesia bisa langsung menjual hasil panen dan berkomunikasi dengan calon konsumen, sehingga petani tidak lagi bergantung pada tengkulak yang memberatkan. Sejak 2017, TaniHub juga meluncurkan layanan TaniFund. Layanan ini merupakan sebuah layanan peer to peer (P2P) lending untuk membantu pendanaan petani Indonesia.

Eragano.

Start-up ini menyediakan beberapa layanan sekaligus dalam satu aplikasi yang bertujuan membantu petani Indonesia. Layanan tersebut di antaranya membantu petani mendapatkan perlengkapan pertanian dan pupuk, menjual hasil panen, edukasi tentang pengelolaan sawah, serta mendapatkan pinjaman dana untuk modal petani.

Limakilo.

Start-up ini memiliki visi menyejahterakan hidup petani bawang merah Indonesia. Layanan yang ada pada online platform Limakilo berupaya menghilangkan peran tengkulak dalam rantai distribusi bawang merah di Indonesia. Beberapa fitur andalannya adalah monitor harga produk dan toko online. Dengan demikian, petani dapat menjual produk pertaniannya dengan harga yang sesuai langsung pada konsumen.

Masih banyak start-up pertanian lainnya hasil karya anak bangsa yang dapat dimanfaatkan oleh para petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertaniannya.

Teknologi Pertanian

Penerapan teknologi pertanian juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan mendorong regenerasi petani. Penggunaan teknologi pertanian menyadarkan generasi muda bahwa sektor pertanian bukan lagi sektor yang penuh risiko dan tidak mendatangkan keuntungan besar.

Teknologi pertanian yang potensial untuk terus dikembangkan mulai dari teknologi pengolahan lahan, teknologi irigasi, hingga teknologi pascapanen. Ada juga teknologi informasi yang meliputi prediksi harga, market place, dan sebagainya.

Penerapan teknologi tepat guna sangat berkontribusi positif dalam peningkatan kesejahteraan petani. Penerapan teknologi bahkan bisa membangkitkan usaha tani menjadi skala besar tapi tetap efisien.

Sebelum penerapan teknologi pertanian, perlu adanya pelatihan bagi petani. Untuk itu, diperlukan sosialisasi, pelatihan, hingga stimulus seperti pinjaman atau sewa alat-alat teknologi.

Pemerintah daerah bisa memfasilitasi hal tersebut melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan di bidang pertanian.

Mekanisasi Pertanian

Pertanian di Indonesia sudah menjadi budaya di beberapa daerah, namun bertani konvensional kurang menguntungkan dalam hal waktu dan tenaga. Mekanisasi pertanian membuat proses produksi pertanian bisa lebih cepat dan tepat waktu, serta hasil yang didapat lebih optimal.

Dalam mekanisasi pertanian, alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi komponen utama untuk menunjang sistem pertanian dalam setiap tahapan pertanian. Alsintan berperan mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, penyiangan, pemeliharaan, pemupukan, pemanenan, dan bahkan sampai penanganan produk pascapanen.

Mekanisasi pertanian bertujuan meningkatkan produktivitas tenaga kerja pertanian, meningkatkan produktivitas lahan pertanian, menurunkan biaya produksi, mengurangi beban kerja para petani, mengurangi kerusakan pada produksi pertanian, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Tujuan mekanisasi tersebut dapat tercapai dengan penggunaan dan pemilihan alat yang tepat dan penggunaan yang benar. Ada pun beberapa alat yang digunakan dalam mekanisasi pertanian, yaitu sebagai berikut.

Mesin penanam. Alat ini dapat membantu dalam proses penanaman. Cara manual yang biasa digunakan ialah tenaga manusia dan hewan. Namun, saat ini sudah ada alat penanam dengan sumber tenaga traktor.

Mesin penyiangan. Alat ini berfungsi untuk memberantas tumbuhan liar atau parasit yang merupakan tanaman pengganggu, memperbaiki tanah, serta mempertahankan kadar lengas tanah memacu kerja mikroorganisme di dalam tanah agar lebih aktif, mengembangkan kandungan unsur hara tanah, serta menggemburkan tanah.

Mesin pemupukan. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan zat ke dalam tanah untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman supaya lebih optimal. Dalam meknisasi pertanian, dikenal pula alat yang dapat membantu petani menyebarkan pupuknya. Mesin pemupukan dalam pertanian modern menggunakan tenaga traktor. Ini akan mempercepat serta menghemat tenaga.

Riset Pertanian

Porsi anggaran untuk riset pertanian di Indonesia masih sangat rendah. Kementan hanya mengalokasikan sekitar 5% dari total anggaran tahun 2021 untuk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Peningkatan porsi anggaran riset di sektor pertanian sangat dibutuhkan untuk mengembangkan riset inovasi bioteknologi bidang rekayasa genetik varietas lokal.
Keterlibatan peneliti dalam membangun iklim riset bioteknologi sangat krusial. Tanpa keterlibatan peneliti, tidak akan ada penerapan hasil inovasi yang strategis di Indonesia.

Komitmen yang kuat dibutuhkan dari pemerintah dari pusat hingga daerah untuk menghasilkan kebijakan yang mampu menghasilkan inovasi bioteknologi varietas lokal yang unggul.

Selain itu, diperlukan juga pembangunan infrastruktur riset yang memadai dan mengalokasikan dana penelitian agar para peneliti fokus berkolaborasi dan membangun iklim riset bioteknologi di Indonesia yang optimal.

Berdasarkan data Kementan, Balitbangtan memiliki sekitar 560 peneliti dengan latar belakang pendidikan doktor, 1.153 peneliti dengan latar belakang magister, dan 1.579 peneliti dengan latar belakang sarjana. (*)