Semangat ’45 Petani Milenial Dongkrak Sektor Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Selama pandemi COVID-19, sektor pertanian menjadi salah satu yang bisa bertahan dari sedikit bidang usaha yang masih eksis di tengah pandemi. Bahkan, BPS menyampaikan sektor pertanian berperan dalam mendongkrak nilai ekspor selama dua tahun ini. Dimana pertumbuhan sektor pertanian untuk ekspor mencapai 14,3 persen dengan sub-sektor tanaman pangan sebagai penyumbang tertinggi dalam distribusi dan pertumbuhan ekonomi tahun 2020. 

Sedangkan produktivitas tanaman berdasarkan sub-sektornya secara rinci adalah tanaman pangan tumbuh 3,54 persen, tanaman hortikultura 4,37 persen dan tanaman perkebunan tumbuh sebesar 1,33 persen. Hanya satu subsektor yaitu peternakan yang mengalami minus sebesar 0,33 persen.

Atas capaian produktivitas sektor pertanian tersebut tentunya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, salah satunya yang diungkapkan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria yang mengatakan sektor pertanian menjadi penyelamat resesi ekonomi Indonesia.

“Sektor pertanian mampu memberikan andil yang besar menjadi penopang ekonomi nasional,” katanya mengutip pertanian.go.id, belum lama ini.

Meningkatnya produktivitas sektor pertanian tentunya tidak lepas dari beragam modifikasi yang telah dilakukan saat ini, baik dari teknologi maupun munculnya petani-petani milenial yang andil dalam mendukung terus berkembangnya produk pertanian berkualitas.

Bertani tampaknya mulai menjadi gaya hidup  bagi masyarakat di tengah pandemi, karenanya tak heran kalau kini pemuda-pemuda perkotaan pun mulai menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan untuk berusaha mencukupi kebutuhan hidup, bahkan tidak sekedar itu pertanian juga telah berkembang menjadi semi industri.

Salah satunya,  pemuda Ansar yang berikut ini, Demfarm.id coba sampaikan bagaimana ia akhirnya memilih menjadi petani milenial dengan menanam produk pertanian organik.

Petani millennial Ansar, memiliki sertifikat profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dalam bidang kompetensi fasilitator organik tanaman.

Diantara masih belum banyaknya petani memiliki sertifikat profesi, Al Ansar Ardabian yang biasa dipanggil Ansar adalah salah satu petani muda yang memiliki sertifikat profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dalam bidang kompetensi fasilitator organik tanaman.

Uji kompetensi, diikuti Ansar  di Tempat Uji Kompetensi (TUK) Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Gowa, Sulawesi Selatan, pada tahun 2020.

Bukan hanya memegang sertifikasi profesi, sebelumnya Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman (Faston) yang dilaksanakan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Alam Hijau Lestari telah diikuti oleh Ansar, demikian mengutip swadaya online. Pelatihan Faston menurut Ansar sangat penting, dia semakin termotivasi untuk membangun kesadaran petani agar bertani secara organik.

“Memang tidak mudah, karena untuk merubah cara berpikir petani tradisional tidak mudah. Namun, paling tidak mereka diberi pemahaman dahulu,” kata pemuda yang dilahir di Makassar, 2 januari 1981 ini.

Cara termudah dengan menyampaikan kepada petani, tambah Ansar setiap manusia membutuhkan produk yang sehat untuk dikonsumsi, khususnya sayur-sayuran. Apalagi, kota besar, seperti Makassar tentunya lahan pertaniannya terbatas karena itu juga melibatkan petani dari daerah lain.

“Kekinian kami fokus memfasilitasi petani sebanyak mungkin agar melakukan cara budidaya yang sehat,” jelas dia.

Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, dia mengungkapkan tetap melakukan pembinaan ke petani. “Tapi memang tidak semua kegiatan harus ke lapangan, kalau tidak cukup melalui telepon baru ke lapangan,” kata Ansar.

Ia mencontohkan, baru-baru ini salah satu petani binaan kami agak “memaksa” agar datang ke tempatnya, dan setelah tiba di rumahnya, beliau bercerita dengan penuh semangat bahwa panen di lahannya yang luasnya 28 are dan selama ini rata-rata menghasilkan 28 karung, alhamdulillah setelah panen dengan proses budidaya gabungan antara konvensional dan organik menghasilkan 40 karung.

Dengan komposisi penggunaan pupuk kimia hanya 30% dari dosis anjuran dan selebihnya menggunakan teknologi organik berdasarkan anjuran fasilitator, tambah dia.

Penggunaan teknologi organik yang tepat guna menjadi pilihan agar produksi tetap terjaga dan lambat laun petani mulai menghilangkan ketergantungannya dengan bahan kimia. Pertanian organik selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengkonsumsinya juga sehat. 

Petani binaan saat ini masih terus menanam cabai, padi, jagung dan berbagai komoditas lainnya yang dibudidayakan secara organik.

Pengalaman dan keberhasilan Ridwan Kamil dengan petani milenial

Seperti kita ketahui, munculnya petani-petani milenial saat ini telah mengambil peran sangat penting dalam mendukung produktivitas sektor pertanian. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menjadi salah satu contoh berperan dalam mendorong pemuda untuk menjadi petani milenial. Sejumlah program dilaksanakannya untuk mendorong petani milenial, mulai dari peminjaman lahan, mempermudah akses ke bank sampai ke pemasaran produk pertanian yang dihasilkan mereka. 

“Semua ekosistem yang akan membuat petani milenial berhasil, kita hadirkan hari ini,” kata gubernur, pada peresmian Kick-Off Program Millennial, akhir Maret lalu.

Program inovatif tersebut, jelas dia sebagai salah satu langkah untuk mengurangi angka pengangguran dan tentunya untuk memperkuat ketahanan pangan Jawa Barat. Apalagi, pandemi COVID-19 telah berdampak pada hampir semua sektor, namun tidak di pertanian, jelasnya.

Program Petani Milenial pun diharapkan dapat menarik minat generasi milenial untuk membawa perubahan pada sektor pertanian masa depan. Sebab, sektor pertanian saat ini belum menjadi magnet pekerjaan bagi generasi milenial di Jabar. 

Program magang ke Jepang untuk mendukung lahirnya petani-petani milenial

Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan kapasitas petani milenial. Salah satu caranya adalah melalui program magang ke Jepang. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  mengatakan program magang ke Jepang ini merupakan bentuk mempersiapkan petani milenial sebagai bagian dari regenerasi. 

“Masa depan pertanian ada di tangan petani milenial. Oleh sebab itu, Kementan terus menyiapkan petani-petani muda yang andal, salah satu dengan program magang ke Jepang,” katanya. dikutip dari jppn.

Petani muda yang mengikuti program magang ke Jepang, akan menjalani pelatihan terlebih dahulu selama 75 hari di Balai Besar Pelatihan Pertanian Peternakan (BBPP) Kupang, yang merupakan unit pelaksana teknis (UPT) Kementan.

Peserta berasal dari berbagai kabupaten yang ada di NTT antara lain, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Flores Timur,  Kabupaten Rote, Kabupaten Kupang, dan daerah lain. Mereka akan mengikuti pelatihan dengan segala aktivitas pertanian dan peternakan. Para peserta juga akan belajar budaya dan bahasa Jepang. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa pengungkit utama dan pertama suatu bangsa adalah SDM-nya.

“Percuma kita mempunyai senjata yang canggih, percuma kita mempunyai amunisi yang mampu menghancurkan musuh, tetapi penembak jitunya tidak ada. Artinya, di dunia pertanian juga yang paling penting bukan alat-alat mesinnya, melainkan SDM-nya atau petani, praktisi pertanian atau petani milenialnya yang bergerak disektor pertanian,” kata Dedi.

Implikasi pemuda menjadi petani milenial sangat penting dalam mendukung kemajuan sektor pertanian. Sebab, merekalah yang sesungguhnya berdiri di bagian paling depan, dan mengoperasikan semua alat-alat pertanian, serta lainnya. Petani milenial dari sekarang ini harus dididik, digenjot mental, serta ilmu dan pengetahuan mereka. Sebagai upaya mendorong lahirnya petani-petani yang terampil, tangguh, dan profesional. 

Dedi berharap mereka mampu menyerap ilmu serta pengalaman sebanyak-banyaknya di Jepang, agar kembali ke Indonesia atau NTT  dipraktikkan semuanya.