Sembari WFH, Yuk Kenalan Sama Pupuk NPK dan Urea, Ada Bedanya Nggak Ya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Work From Home (WFH), istilah tersebut menjadi populer sejak adanya pandemi COVID-19, tahun lalu. Apa sih sebenarnya WFH ini?

WFH adalah sebuah konsep kerja di mana karyawan dapat melakukan pekerjaannya dari rumah. Bekerja dari rumah juga memberikan jam kerja yang fleksibel bagi karyawan.

Imbauan untuk bekerja dari rumah disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 15 Maret 2020 saat kasus COVID-19 di Indonesia masih berada di angka 117 kasus. Saat itu Presiden Jokowi meminta segenap masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona.

Salah satu caranya, menurut Jokowi, adalah dengan mulai mengurangi aktivitas di luar rumah. “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah. Ini perlu dilakukan agar penyebaran COVID-19 bisa kita hambat dan stop,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Minggu (15/3/2020).

Sudah lebih dari setahun, konsep WFH ini diterapkan untuk ASN dan pekerja swasta. Penerapannya pun beragam, mulai dari 50 persen karyawan WFH dan 50 persen lainnya bekerja dari kantor atau ada juga yang melaksanakan WFH sebanyak 75 persen karyawan. 

WFH Membuat Hobi Baru Bercocok Tanam di Rumah

Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung dan imbauan untuk Work From Home (WFH), membuat banyak orang berusaha mencari cara untuk mengusir kebosanan. Bercocok tanam menjadi pilihan yang digemari masyarakat untuk mengisi waktu luang selama di rumah.

Umumnya, aktivitas bercocok tanam dilakukan untuk mempercantik atau menata ulang rumahnya. Apalagi beberapa jenis tanaman memiliki banyak manfaat bagi Kesehatan. Misalnya menjadikan udara ruangan lebih bersih, mengurangi debu, mengurangi rasa stress, serta menyegarkan mata.

Menurut Senior Business Analyst MarkPlus, Inc., Dini Bonafitria, bercocok tanam seolah menjadi gaya hidup baru masyarakat di perkotaan. Kegiatan ini disebut memiliki prospek cerah dalam mendukung kegiatan pertanian.

“Urban farming yang awalnya merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang di masa COVID-19, sat ini telah diketahui oleh banyak masyarakat dan mereka tertarik untuk melakukan kegiatan tersebut sebagai gaya hidup baru di perkotaan yang dapat dilakukan oleh semua kalangan,” ujar Dini.

Salah satu jenis tanaman yang cukup digemari adalah tanaman hias. Ada beragam tanaman hias yang populer selama pandemi COVID-19. Sebut saja aglonema, monstera, hoya, calathea, hingga lidah mertua. Selain itu, sebagian orang memilih untuk menanam sayuran seperti cabai, tomat, dan lain sebagainya.

Puti Andam Dewi Oka misalnya, mulai menanam sayuran microgreens atau tanaman sayuran berukuran kecil saat pandemi ini. Selain itu, Puti juga mengoleksi tanaman hias untuk mempercantik rumahnya.

Wanita yang hobi bercocok tanam lainnya adalah Sylke Febrina Laucereno. Ia menanam cabai, tomat, papaya, daun pandan, pohon bunga pacar air, jeruk keprok, hingga buah naga. Sejak pandemi dan WFH, Sylke bisa mencoba menanam secara hidroponik, karena merasa punya waktu untuk mengurus lebih banyak jenis tanamannya.

Pupuk yang Biasa Digunakan Untuk Bercocok Tanam

Pemupukan merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan saat bercocok tanam. Pemberian pupuk ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan unsur hara tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan lebih sehat. 

Tanaman perlu diberi pupuk sejak mengeluarkan akar, karena pada saat itu kebutuhan nutrisi tanaman akan meningkat. Pemupukan melalui akar maupun melalui daun penting dilakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman.

Ada berbagai macam pupuk yang dapat digunakan untuk menutrisi tanaman seperti pupuk urea dan NPK. Kedua pupuk ini diproduksi oleh Pupuk Kaltim sehingga mudah dijumpai di pasaran. Pupuk Kaltim merupakan produsen pupuk urea terbesar di Indonesia, di samping pupuk NPK dan amoniak.

Mengenal Pupuk Urea dan NPK

Perbedaan pupuk urea dan NPK terdapat pada kandungannya. Pupuk urea mengandung nitrogen (N) berkadar tinggi yakni 46% nitrogen. Ini artinya, dalam 100 kg pupuk, 46 kg-nya merupakan nitrogen. Pupuk urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2CONH2.

Berbeda dengan pupuk urea yang hanya mengandung nitrogen, pupuk NPK mengandung unsur nitrogen (N), fospor (P), maupun kalium (K), masing-masing unsur mewakili Namanya yaitu N, P, dan K. Pupuk NPK merupakan salah satu pupuk majemuk yang paling banyak digunakan. 

Jika pupuk urea hanya terdiri dari 46% nitrogen, pupuk NPK terdiri dari kombinasi unsur nitrogen, fosfor, dan kalium. Pada pupuk NPK, pupuk diberikan peringkat atau label berdasarkan kadar relatif komposisi nitrogen, kalium, maupun fosfornya.

Baik pupuk urea maupun pupuk NPK memiliki karakteristik yang mudah larut dalam air dan juga higrokopis atau mudah menyerap air. Karena sifat higroskopis ini, sangat penting untuk menyimpan pupuk pada penyimpanan yang kering dan tertutup rapat. 

Unsur-unsur yang terkandung pada pupuk urea merupakan unsur yang sangat dibutuhkan tanaman. Unsur nitrogen yang terdapat baik pada pupuk urea dan NPK berperan penting dalam perangsangan pertumbuhan vegetatif, baik pada bagian batang maupun daun. 

Unsur nitrogen juga akan meningkatkan jumlah anakan. Pada tanaman padi, nitrogen akan meningkatkan jumlah bulir. Kekurangan unsur nitrogen bagi tanaman akan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, dan sistem perakaran terbatas. Sedangkan kelebihan unsur nitrogen akan menyebabkan tumbuhan vegetatif memanjang sehingga lambat panen, mudah rebah, serta menurunkan kualitas bulir pohon terhadap serangan hama dan penyakit.

Unsur fosfor pada pupuk NPK berfungsi untuk memacu terbentuknya bunga serta menurunkan aborsitas dan menunjang perkembangan akar yang halus dan akar rambut. Sementara kalium berperan sebagai activator berbagai jenis enzim, yang akan membantu tanaman tumbuh lebih kokoh dan merangsang pertumbuhan akar. Unsur kalium juga akan membantu tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit.

Pupuk NPK dianjurkan untuk tanaman lahap nutrisi, yang membutuhkan banyak asupan nutrisi. Karena itu perlu untuk mempertahankan umur tanaman dan fase pertumbuhannya sehingga pupuk NPK cocok untuk fase awal pertumbuhan. 

Pada fase perkembangan, tanaman lebih banyak membutuhkan asupan nitrogen untuk pertumbuhan sehingga pupuk urea menjadi pilihan yang tepat. Sementara pada fase perkembangbiakan dibutuhkan lebih unsur fosfor dan kalium, disamping nitrogen.

Saat ini, Pupuk Kaltim yang berlokasi di Bontang dikenal sebagai salah satu perusahaan yang memproduksi pupuk urea, amoniak, dan NPK. Produksi pupuk urea dari Pupuk Kaltim ini mencapai 3,4 juta ton per tahun, pupuk amoniak 2,7 juta ton per tahun, dan NPK sebanyak 350 ribu ton per tahun. (*)