Suka Makan Pare? Ternyata Daunnya Punya Manfaat untuk Kesehatan Kita, Rawat dengan Pupuk Ini Ya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Menikmati sambal pare dengan rasa gurih dan pedas serta sedikit pahit bersama nasi panas banyak digemari masyarakat Indonesia. Tak heran kalau warung-warung nasi, restoran maupun warteg menyediakan menu menggugah selera tersebut.

Pare atau juga sering disebut paria tersebut ternyata sudah dibudidayakan orang-orang Belanda pada masa penjajahan. Tanaman merambat dengan buah berbentuk lonjong dan berwarna hijau serta berbintil ini termasuk dalam genus momordica, spesies momordica charantia L.

Tidak hanya dikenal di negeri kita, tetapi buah pare yang berasal dari India Barat dan Burma ini juga digemari penduduk China yang bisa menyebut buah ini ku gua atau foo gwa.

Masyarakat Philipina pun biasa menyebut buah pare dengan paria, lalu warga Vietnam menamai muop dang atau kho qua.

Bukan hanya enak dikonsumsi tetapi buah pare pun mengandung banyak manfaat untuk kesehatan.

Buah pare mengandung  vitamin A, vitamin B , vitamin C, betakaroten, fitokimia lutein, likopen, kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, abu, kalsium, fosfor, kalium, zat besi dan  natrium.

Kandungan vitamin dan beragam zat tersebut berguna untuk obat diabetes, perangsang nafsu makan dan obat cacing bahkan juga jadi antikanker.

Manfaat Daun Pare 

Selain buah, bagian daunnya juga sudah lama dikenal memiliki beragam manfaat, misalnya untuk meningkatkan produksi ASI,  menurunkan panas dan menyembuhkan batuk.

Daun pare biasanya diolah dengan cara ditumis menggunakan bumbu sederhana bawang putih, bawang merah plus cabai, dan tomat. Semua bahan tersebut diiris tipis.

Tak hanya itu, daun pare juga bisa mengobati ikan air tawar yang terinfeksi bakteri. Biasanya, bakteri yang paling sering menyerang ikan air tawar adalah Aeromonas hydrophila. Bakteri tersebut menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS), Motile Aeromonas Infection (MAI), Hemorrhagic Septicemia, Red pest, dan Red-sore pada ikan.

Serangan bakteri pada ikan, diperparah dengan resistensi antibiotik yang terjadi pada Aeromonas hydrophila. Resistensi bakteri akibat penggunaan antibiotik dapat ditangani oleh penggunaan fitofarmako. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai fitofarmako adalah Momordica charantia L.

Peneliti Universitas Airlangga, Surabaya Rahayu Kusdarwati dalam risetnya mengungkapkan banyak khasiat ekstrak daun pare, sifat antibakteri berasal dari senyawa 32% alkaloid, 22% flavonoid, 1,37 mg/100gr tannin, 1,6% terpenoid dan 5,2% saponin yang terkandung dalam daun Momordica charantia L. Aktivitas antibakteri dari senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun pare (Momordica charantia L.) dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pengobatan dari penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang dilakukan secara in vitro untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun pare terhadap Aeromonas hydrophila dengan membandingkan zona hambat yang terbentuk dengan kontrol, kata dia dalam new.unair.ac.id 

Dari tahapan penelitian yang dilakukan Rahayu menunjukkan bahwa pada uji kualitatif fitokimia dari daun pare diperoleh hasil alkaloid (+), flavonoid (+), tannin (+), terpenoid (-), dan saponin (+).  Artinya, ekstrak daun pare dalam penelitian ini mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin dan saponin, sedangkan hasil uji terpenoid yaitu negatif. Konsentrasi ekstrak daun pare pada perlakuan P1 (20 mg/ml), P2 (10 mg/ml), dan P3 (5 mg/ml) diperoleh rata-rata diameter zona hambat sebesar 13,6 mm; 12 mm; dan 12,3 mm. Ketiga perlakuan tersebut menunjukkan adanya aktivitas antibakteri yang masuk dalam kategori intermediet. 

“Kategori intermediet mengindikasikan bahwa pengobatan dapat menjadi lebih efektif jika dosis yang digunakan lebih tinggi,” tambah dia.

Kesimpulannya, ekstrak daun pare (Momordica charantia L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Aeromonas hydrophila dengan kategori resisten hingga intermediet. Konsentrasi minimal yang menghasilkan zona hambat terbesar dihasilkan oleh konsentrasi 5 mg/ml yang menghasilkan zona hambat dengan diameter 12,3 mm, yang merupakan antibakteri dengan kategori intermediet.

Begitu luar biasa manfaat buah dan daun pare, lalu bagaimana cara budidaya tanaman ini.

Menanam Pare di Rumah, Ini Caranya

Tanaman ini termasuk dalam golongan yang mudah dibudidayakan, tanaman pare dapat tumbuh optimal dengan tanah pH 5-6 dan banyak mengandung humus serta tekstur tanah gembur.

Bagian pojok halaman dinilai tepat untuk menjadi lokasi membudidayakan pare, karena tanaman ini tidak banyak membutuhkan sinar matahari tetapi memerlukan tempat yang teduh atau berbayang.

Mengawali proses dengan memilih biji yang bernas, caranya merendam biji dalam air, bernas adalah biji yang tenggelam sedangkan mengapung dibuang saja.

Biji ditanam dalam tanah yang telah dicangkul terlebih dahulu sehingga gembur. Lalu, tiga biji dimasukan dalam tanah sedalam 3-5 cm dan ditutup. Lakukan lagi di lokasi yang berjarak sekitar 3/4 meter sampai berapa banyak sesuai yang ingin kita tanam.

Biji pare biasanya akan tumbuh selang 4-7 hari setelah penanaman.

Pelihara dengan Pupuk yang Tepat

Pemeliharaan tanaman pare tidak cukup dengan hanya menyiram pagi dan petang saja, tetapi penggunaan pupuk yang tepat akan sangat memengaruhi hasil akhir tanaman, berupa buah berkualitas dan jumlah yang banyak.

Mengaplikasikan pupuk organik dan buatan menjadi solusi untuk merawat tanaman. Untuk pupuk organik bisa dibuat dengan mengolah sisa makanan menjadi kompos. Hanya saja, pupuk buatan juga tak kalah penting untuk mendukung pertumbuhan tanaman pare. Misalnya pupuk NPK yang mengandung unsur N, P, dan K atau diamonium phospat dengan kandungan nitrogen dan fosfor.

Pupuk NPK merupakan salah satu produk yang dibutuhkan tanaman pare karena kegunaan untuk pertumbuhan semua bagian tanaman. Salah satu produsen pupuk NPK adalah Pupuk Kaltim.

PT Pupuk Kaltim memproduksi NPK nonsubsidi yang dipasarkan dengan merek dagang NPK Pelangi sangat cocok untuk diterapkan pada tanaman pare. NPK Pelangi adalah merek yang digunakan untuk produk-produk Pupuk Majemuk NPK (Blending) Non Subsidi. Tampilan pupuk ini berwarna-warni. Jenis pupuk ini diproduksi oleh Pupuk Kaltim dalam beberapa jenis komposisi unsur hara, di antaranya komposisi 16-16-16 cocok untuk tanaman pangan dan hortikultura.

Cara mendapatkan pupuk keluaran anak perusahaan PT Pupuk Indonesia ini juga mudah, cukup mendatangi kios-kios penjualan pupuk atau membeli di platform belanja online, yang kini marak menawarkan pupuk mengikuti tren kekinian masyarakat menanam di pekarangan rumah. (*)