Sulap Lahan Tandus Jadi Kebun Singkong, Yuk

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Ingin menanam tapi lahannya kering alias tandus, bisakah? pertanyaan ini mungkin timbul saat melihat tanah yang kering tetapi ditantang untuk menyulap lahan tersebut menjadi produktif. 

Salah satu, tanaman yang memungkinkan untuk dibudidayakan di lahan yang cenderung tandus adalah singkong atau casava. Bahan makanan ini, sebenarnya bisa tumbuh di kondisi tanah yang beragam hanya saja perlu dilakukan pengolahan lahan yang tepat agar hasil tanaman menjadi produktif.

Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) telah berhasil melakukan uji coba dan simulasi penanaman singkong di lahan tandus dengan menggunakan media tanam serbuk sabut kelapa (coco peat). Coco peat berguna untuk mengatasi permasalahan lahan tandus alias miskin hara unsur hara.

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Ady Indra Pawennari mengungkapkan bukan hanya berhasil membudidayakan singkong, dengan menggunakan media tanam coco peat tetapi  hasil panen singkongnya juga luar biasa.

“Biasanya panen singkong hanya 100 ton per hektare, dengan menggunakan media yang telah mereka gunakan tersebut panen naik hingga 800 ton per hektare,” katanya belum lama ini melansir kompos.com. 

Seperti kita ketahui dan sangat memprihatinkan, tambah Ady, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor singkong yang berasal dari Vietnam, China dan Thailand.

Pemanfaatan serbuk sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas lahan miskin unsur hara adalah jawaban tepat untuk segera menghentikan impor bahan pangan, khususnya singkong, tambah dia.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, potensi lahan pengembangan tanaman singkong masih sangat besar, yaitu lahan tidur 5,84 juta hektar dan lahan sawah tadah hujan 1,18 juta hektar. 

Pemerintah mematok produksi singkong pada 2014 mencapai 27,6 juta ton dengan luas lahan 1,5 juta hektare. 

”Dalam hitungan uji coba dan simulasi AISKI, baik di lahan subur maupun lahan tandus, produksi singkong dengan menggunakan serbuk sabut kelapa dapat ditingkatkan menjadi 500-800 ton per hektar. 

Jadi, untuk mencapai target 27,6 juta ton, AISKI hanya butuh lahan seluas 55.000 hektar,” jelas Ady. 

Ia mengaku, sampai saat ini 95 persen penyerapan serbuk sabut kelapa Indonesia masih pasar ekspor. Padahal, manfaatnya luar biasa untuk meningkatkan sektor pertanian dan perkebunan dalam negeri. 

Seandainya penggunaan serbuk sabut kelapa sudah memasyarakat di kalangan petani, nilai impor bahan pangan Indonesia yang mencapai Rp90 triliun per tahun dapat dikurangi.

Lalu ia memaparkan hasil uji coba dan simulasi yang dilakukan koleganya, Tiara, di Samarinda, Kalimantan Timur. Dengan serbuk sabut kelapa sebagai media tanam, ia sukses memanen singkong siap jual 800 ton di lahan seluas 1 hektare. 

Cara menyuburkan lahan tandus dengan pupuk

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tanah atau lahan pertanian tidak subur, biasanya kering dan tandus. Mulai dari faktor cuaca, unsur hara dan mineral tanah yang rendah, kurangnya rongga udara pada tanah, hingga faktor rendahnya porositas struktur tanah.

Dalam hal ini, sebenarnya kesuburan tanah tandus tersebut dapat dikembalikan. Pengembalian bisa kita lakukan secara bertahap dengan cara dan formula menyuburkan tanah yang tepat pula.

Cara pertama untuk membuat tanah tandus menjadi subur kembali yang bisa dilakukan, memberikan pupuk. Pupuk menjadi sangat penting untuk mendukung meningkatkan kembali kandungan unsur hara pada tanah tandus yang rendah hara. 

Pupuk yang tepat untuk diterapkan di lahan yang tandus adalah Pupuk Ecofert yang diproduksi PT Pupuk Kaltim, pupuk kandang dan pupuk kompos serta kapur. 

Pupuk Ecofert

Merupakan pupuk hayati dengan komposisi yang terkandung terdiri dari jamur pelarut fosfat (Aspergillus niger), bakteri pelarut fosfat (Bacillus sp), Bakteri penambat  nitrogen (N) dan penghasil hormon pertumbuhan, asam humat, zeolit dan gypsum.

Pupuk ini bermanfaat untuk meningkatkan ketersediaan nutrien/hara Nitrogen (N) dan Fosfat (P). Berperan dalam menghemat dosis penggunaan pupuk NPK hingga 25 persen, juga dapat meningkatkan hasil panen yang diproyeksi naik dari 25 % sampai 50 %.

Selain itu, pupuk ini juga dapat memacu pertumbuhan tanaman, membantu penyerapan unsur hara fosfat (P) dan meningkatkan kesuburan tanah.

Pupuk Kandang

Pupuk kandang juga merupakan pupuk murah yang bisa didapatkan dengan sangat mudah. Seperti namanya, pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Baik itu sapi, kambing, atau kotoran unggas seperti ayam.

Untuk mengembalikan kesuburan, pupuk kedua ini memang terbilang efektif. Hal itu karena pupuk kandang mampu meningkatkan kandungan unsur hara pada tanah serta dapat mengurai bahan organik secara cepat.

Pupuk kompos

Pupuk organik yang dibuat dari bahan sisa tanaman dan hewan. Selain bisa didapatkan dengan cara membelinya, pupuk jenis pertama ini juga bisa Anda buat sendiri.

Dalam hal ini, tentu membuat pupuk kompos sendiri jauh lebih disarankan. Pertimbangannya, selain karena pupuk dapat dibuat dengan mudah, cara ini tentu juga jauh lebih hemat pula.

Kapur Dolomit

Kapur ini, berguna untuk menyuburkan tanah karena mengandung Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Zat itu sangat dibutuhkan tanah yang rusak dan masam untuk meningkatkan kesuburan lahan.

Penggunaan kapur dolomit juga sangat tepat untuk mendukung program menyuburkan tanah yang tandus. Kemudian akan digunakan untuk menanam beragam produk pertanian.

Untuk mengoptimalkan penerapan pupuk maka dianjurkan dosis Pupuk Hayati Ecofert untuk tanaman perkebunan sebanyak 100-120 Kg/Ha/Tahun. Sedangkan dosis Ecofert untuk tanaman Hortikultura adalah 40 Kg/Ha, lalu dosis Ecofert untuk tanaman Pangan dialokasikan 20 Kg/Ha.

Selan itu, untuk meningkatkan kesuburan lahan perlu melakukan rotasi tanaman bergilir (tanaman palawija) dan melakukan intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi pertanian.

Memperkaya Organisme Penyubur Tanah

Dalam kesuburan tanah, organisme penyubur memang memegang peranan yang sangat penting. Sebagian mungkin belum terlalu paham mengenai peranan organisme yang juga sering disebut sebagai biota tanah ini.

Padahal pada tanah, organisme ini akan membantu dalam banyak hal. Mulai dari, menjadi dekomposer untuk tanah, pengurai polutan, sebagai pereaksi kimia dalam tanah, serta banyak peran lainnya.

Dalam hal ini, cacing merupakan salah satu dari sekian banyak organisme penyubur tersebut. Adapun untuk memperkayanya, kita bisa melakukan pelapisan dengan cara memberikan pupuk kandang pada tanah. Dengan begitu, pupuk tersebut dapat menjadi media pengembangbiakan alami dari makhluk mungil tersebut.

Menutup Tanah dengan Mulsa

Dalam dunia pertanian, mulsa tentu bukan sesuatu yang asing. Benar, mulsa yaitu sebuah penutup yang diberikan dengan tujuan agar tanah dapat terhindar dari sinar matahari secara langsung.

Pada dasarnya, bukan hanya karena itu. Sebagian bahkan mengatakan, penggunaan mulsa ini dapat membantu mencegah pertumbuhan rumput, menyediakan nutrisi tambahan pada tanah, serta menjaga kelembaban tanah.

Dalam pengaplikasian, ada 2 jenis mulsa yang bisa dipilih. Pertama, mulsa organik yaitu jerami, kulit buah, kertas, atau kulit kacang. Kedua, mulsa anorganik seperti plastik dan batu. Selain kedua mulsa tersebut, sebenarnya bisa juga menggunakan mulsa hidup yang bisa didapatkan dari tanaman. Misalnya, semanggi dan ubi jalar.