Tahun Baru 2023, Begini Cara Hemat Biaya Produksi dengan Hasil Makin Berlimpah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Bagi petani, peningkatan produktivitas pertanian menjadi hal yang sangat penting. Upaya dari para petani ini ternyata mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Salah satu dukungan tersebut berasal dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) yang kemudian menggagas program Agrosolution. Program ini bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian, berupa pemanfaatan kawasan pertanian dengan konsep aliansi kemitraan berkelanjutan, bekerjasama dengan Pemerintah dan stakeholders multi pihak.

“Agrosolution sebagai konsep dari PKT yang bertujuan memberikan solusi kepada petani terhadap keterbatasan akses pasar, finansial, dan teknologi,” tutur Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi. 

Rahmad mengatakan gagasan program Agrosolution didasarkan pada 3 keterbatasan akses petani, yang menyebabkan produktivitas dan kesejahteraan petani terbatas, yaitu akses pasar, akses finansial dan akses teknologi. Dari program ini, petani tak hanya mendapat modal untuk mendapatkan bibit, pupuk dan pestisida saja, tapi juga asuransi sebagai antisipasi kerugian saat gagal panen. Program Agrosolution telah diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan dan Gorontalo, dengan komoditi padi, jagung dan singkong, di lahan seluas 1,427 hektar.

Pendampingan dari Program Agrosolution

Dalam program Agrosolution, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) menegaskan komitmen dan kontribusi dalam mendorong peningkatan sektor pertanian, guna mendukung ketahanan pangan nasional pada beragam komoditas. 

Langkah-langkah yang dilakukan, antara lain adalah mengkoordinir petani-petani, memberikan supervisi dan bimbingan teknis untuk membantu petani melakukan budidaya pertanian dengan tepat, Membantu memberikan akses terhadap permodalan, baik lewat bank ataupun lembaga lainnya. Selain itu, perusahaan juga membantu menyediakan agro input yang berkualitas seperti pupuk, benih dan pestisida.

VP Marketing Business Partner Korporasi PKT, Indah Febrianty, mengungkapkan PKT berupaya meningkatkan dukungan terhadap produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di Indonesia, baik melalui edukasi tata kelola pertanian dan penyediaan pupuk berkualitas hingga program pendampingan seperti Agrosolution. Hal ini terus didorong PKT, agar hasil komoditas pertanian mampu ditingkatkan secara signifikan dan memberi dampak terhadap perbaikan perekonomian petani.

Salah satu adalah kerja sama Agrosolution dengan petani dan Pemkab Ponorogo Jawa Timur, yang dilaksanakan untuk mendorong produktivitas jagung hingga dukungan terhadap program ‘Ponorogo Mandiri Benih’ dalam menghasilkan bibit jagung unggulan.

Program ini secara berkala memberikan edukasi dan pendampingan di berbagai kegiatan bersama para petani, sehingga pemahaman tata kelola pertanian dan penggunaan pupuk secara tepat semakin terimplementasi dengan baik oleh para petani dalam meningkatkan daya dukung lahan.

“Sesuai dengan tujuan program, Agrosolution digagas untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani melalui pendampingan secara optimal. Hal ini direalisasikan PKT secara berkesinambungan, hingga berbagai komoditas pertanian mampu mencapai hasil maksimal,” ujar Indah 

Hadirnya Agrosolution memang menjadi solusi bagi petani untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu program ini juga digagas untuk mendorong peningkatan penggunaan pupuk nonsubsidi oleh petani, untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk subsidi dengan target lahan yang jauh lebih produktif.

Komisaris PKT Gustaaf AC Patty, mengatakan penggunaan pupuk nonsubsidi ini didukung berbagai produk unggulan PKT yang telah teruji cocok dengan beragam jenis tanaman dan karakteristik lahan, seperti Urea Daun Buah, NPK Pelangi dan NPK Pelangi JOS, serta produk hayati Biodex dan Ecofert.

“Keunggulan produk nonsubsidi PKT telah terbukti cocok dalam meningkatkan produktivitas pertanian pada berbagai komoditas khususnya padi. Terlebih penggunaan dosis produk nonsubsidi PKT jauh lebih hemat dibanding pupuk bersubsidi, sehingga petani mampu menekan biaya produksi dengan hasil yang jauh lebih optimal,” kata Gustaaf.

Tentang Program Agrosolution

Program Agrosolution resmi dicanangkan oleh induk dari PT Pupuk Indonesia (Persero) selaku induk dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) di Jember pada 5 November 2020 lalu. Inovasi program Agro Solution ini diimplementasikan di seluruh wilayah di Indonesia, dalam rangka memajukan sektor pertanian Indonesia menuju era pertanian modern dan berkelanjutan. 

Peluncuran Agrosolution ini sekaligus sebagai langkah nyata Perseroan mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produktivitas pertanian.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan, tujuan program Agro-Solution adalah untuk membantu meningkatkan produktivitas pertanian. Jika produktivitas meningkat dan dapat dipasarkan dengan harga yang bagus, maka pendapatan petani juga akan meningkat dan kesejahteraan petani juga akan semakin baik.

Menurut Bakir, program ini juga bertujuan untuk membantu pemerintah dengan mengurangi penggunaan pupuk bersubsidi. Hasilnya petani Jember membuktikan bahwa tanpa pupuk subsidi, petani Indonesia bisa mendapat penghasilan tambahan dan menjadikan petani lebih makmur. 

Sementara itu Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero) Wijaya Laksana mengatakan lewat Agrosolution yang dijalankan PKT, petani mendapatkan pendampingan intensif tentang budidaya pertanian berkelanjutan serta melibatkan rantai pasok dan didukung teknologi. 

“Program ini dilakukan dengan berbasiskan triple bottom-line atau 3P (people, planet, profit) yang tersematkan dalam enam langkah penting implementasi Agrosolution,” katanya.

Pertama, pengelolaan tanah dan tanaman yang produktif dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

Kedua, pendampingan yang intensif. 

Ketiga, pola budidaya pertanian presisi berbasis teknologi digital (digital farming), yang didukung dengan penggunaan alat dan mesin untuk meningkatkan produktivitas lahan secara kualitas maupun kuantitas.

Keempat, akses permodalan dan perlindungan risiko berupa asuransi pertanian bagi petani. 

Kelima, pengembangan sosial masyarakat petani dan bisnis inklusif. 

Terakhir, menciptakan kemitraan pertanian pasar (farm to market partnership) guna meningkatkan ketersediaan pangan sesuai kebutuhan pasar, meningkatkan nilai tambah hasil panen, ketersediaan jaringan distribusi, serta ketersediaan off taker.

“Enam poin tersebut menjadi siklus berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga seluruh pihak yang menjadi bagian dari rantai pasok,” tutup Wijaya. (Tyo)

Latest Article