cara menanam jambu madu

Tanaman Jambu Madu di Rumah Suka Mati? Mungkin Kamu Belum Lakukan Hal Ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Jambu air memiliki berbagai jenis sesuai dengan varietasnya. Dengan keberagamannya itu, jambu air sangat cocok dibudidayakan. Apalagi jambu air memiliki keunggulan dengan rasa buahnya yang manis dan menyegarkan karena kandungan air di dalamnya sangat tinggi. 

Salah satu jenis jambu air yang sangat digemari karena memiliki rasa yang sangat manis dan menyegarkan adalah jambu madu. Ada beberapa varian dari jambu madu ini. Apa saja?

Jambu madu deli hijau

Jenis jambu air termanis pertama adalah jambu madu deli hijau. Jenis jambu air ini memiliki warna hijau dengan tingkat kemanisan yang luar biasa. Jambu madu deli hijau tidak memiliki biji di dalamnya dan dagingnya cukup rapuh sehingga lezat saat dimakan.

Pohon jambu madu deli hijau mampu menghasilkan buah yang lebih banyak walau memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan jambu madu lainnya. Keunggulan lain dari jambu madu deli hijau adalah sifatnya yang genjah, cepat berbuah.

Jika bibit yang ditanam berumur 3-4 bulan sejak dicangkok dengan ketinggian sekitar 60-70 cm, ia akan berbuah pada umur 8-9 bulan dengan perawatan standar.

Jambu madu kesuma merah

Jenis jambu air termanis berikutnya adalah jambu kesuma merah. Jambu air ini merupakan salah satu jambu madu air unggulan yang memiliki buah berwarna merah. Selain itu, jambu air ini memiliki daging yang tebal. Bahkan saking tebalnya,  lubang biji jambu ini hampir tidak ada, sehingga dagingnya padat.

Keunggulan lain jambu madu kesuma merah adalah memiliki tingkat kerapuhan yang sangat tinggi, sehingga terkadang cukup sulit untuk memecahkan jambu ketika ingin dimakan. Namun waktu berbuah buah jambu kesuma merah sedikit lebih lama. Hal ini disebabkan pohonnya yang besar dibandingkan dengan jambu madu deli hijau. Biasanya pohon jambu kesuma merah akan mulai berbuah pada usia 13-15 bulan.

Jambu madu super green

Jambu madu super green merupakan varietas unggulan lain dari jambu air. Jenis jambu air ini memiliki keunggulan berupa ukuran buahnya yang sangat besar. Bahkan jambu air ini bisa mencapai ukuran satu botol minuman kemasan gelas.

Jika ditimbang, satu kilogram jambu madu super green kemungkinan hanya berisi 4 buah. Meski memiliki ukuran yang besar, jambu madu super green tetap memiliki rasa yang super manis.

Tanaman jambu madu super green baru bisa berbuah pada usia 1-2 tahun sejak penanaman. Dengan pohon yang lebih besar, jambu ini bisa berbuah cukup banyak. 

Mengapa Jambu Madu Sering Mati?

Jambu madu termasuk jenis tanaman yang mudah dibudidayakan dan cepat dipanen. Namun, tidak sedikit jambu madu yang tiba-tiba daunnya rontok dan mati mendadak. 

Sebagian orang mungkin tidak menyadari bahwa penyebab rontoknya daun dan tidak berkembangnya jambu madu adalah ulat penggerek. Ulat penggerek ini menggerogoti batang dan bersarang di dalamnya.

Ulat ini termasuk dalam family cerambycidae. Hama dalam family ini kerap menyerang ranting dan cabang tanaman. Biasanya, tanaman yang diserang hama ini menunjukkan gejala daun menguning, kemudian rontok dan cabang atau ranting mengering.

Jika tanaman masih kecil, hama ini mudah dideteksi, yaitu biasanya terdapat lubang kecil pada batang, ranting, atau cabang tanaman. Namun, jika tanaman sudah besar, harus diamati lebih detail, karena gejala penggerek tanaman jambu madu ini gejalanya hampir sama dengan benalu atau jamur/bakeri yang menyerang batang tanaman tahunan.

Hama ini tidak hanya menyerang tanaman jambu. Tetapi juga menyerang batang tanaman tahunan lain, seperti mangga, petai, durian, lengkeng, duku, alpukat, coklat, cengkeh, dan lain sebagainya. 

Jadi, jika tanaman Anda mati pada sebagian cabang, ranting, atau batangnya, maka jelas itu merupakan gejala serangan hama penggerek batang cerambycidae. 

Cara Merawat Jambu di Dalam Pot

Masyarakat yang tinggal di perkotaan biasanya memiliki keterbatasan lahan. Untuk berkebun, biasanya mereka mensiasatinya dengan menanam di dalam pot. Masalahnya, kapasitas tanam yang terbatas membuat tanaman sulit menghasilkan buah.

Lalu, bagaimana mengatasi masalah tersebut dan bagaimana pula cara merawat tanaman buah seperti jambu madu di dalam pot?

1. Kontrol jumlah air

Menanam jambu madu di dalam pot tak berarti harus berlebihan dalam menyiramnya. Cukup disiram dua kali seminggu saat baru ditanam. Pasalnya, menyiram secara berlebihan akan menghambat rangsangan untuk menghasilkan bunga, justru hanya daunnya yang semakin lebat. Selain itu, di awal penanaman, biarkan tanaman jambu Anda terpapar sinar matahari untuk mempercepat proses fotosintesis.

2. Kurangi daunnya

Jika jambu madu yang Anda tanam semakin lebat daunnya, buat tanaman tersebut stress sehingga merangsang pertumbuhan bunganya. Caranya, buat goresan pada batangnya dan singkirkan daun-daun yang sudah tua seta kering, sehingga hanya bagian daun mudanya yang masih tersisa.

3. Tambahkan pupuk kandang agar tanah lebih subur

Jangan hanya puas menyiram dan membiarkan tanaman jambu madu Anda terkena sinar matahari. Asupan mineral dari pupuk kandang akan membuat tanaman menjadi tumbuh dengan subur dan menghasilkan tunas baru. 

4. Perhatikan intensitas sinar matahari

Tanaman seperti jambu madu membutuhkan sinar matahari. Tanaman ini akan bertahan meski sinar matahari cukup terik.

5. Bersihkan area sekitar pot

Buanglah segera daun yang jatuh agar tidak busuk sehingga bisa mengundang bakteri dan jamur yang berisiko menularkan tanaman. Lakukan pula pemangkasan setiap bulan agar tanaman tidak menjadi rimbun dengan daun tua karena membuat pertumbuhan bunga dan bakal buah terhambat. Anda juga harus rajin mengecek kondisi daun dan batang agar terhindar dari hama.

Untuk mempercepat tanaman jambu berbuah, Anda bisa memberikan pupuk. Salah satu pupuk yang direkomendasikan untuk mempercepat jambu madu berbuah adalah NPK Pelangi produksi Pupuk Kaltim. 

Pemupukan sebaiknya dilakukan dua minggu sekali dengan takaran satu sendok teh. Caranya, pupuk dilarutkan ke dalam air dan disiramkan ke bagian akar tanaman.

NPK Pelangi sangat cocok untuk semua jenis tanaman hortikultura. Dibuat dengan Teknik pencampuran secara fisik (bulk blending) menggunakan bahan baku berkualitas tinggi seperti urea granul, diammonium phosphate (DAP) dan KCL yang merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60%.

Keunggulan NPK Pelangi di antaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman. (*)