Tanaman Padi Butuh Pupuk Seperti Apa, Sih?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Padi dikenal sebagai tanaman pangan penghasil beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Sebagai kebutuhan pokok, beras memang menjadi bahan pangan yang harus diusahakan tersedia di setiap rumah tangga. Ada beragam beras yang dihasilkan tanaman padi, diantaranya beras putih, beras merah, beras hitam, hingga beras coklat. 

Indonesia sendiri merupakan penghasil beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada tahun 2020, produksi padi sebesar 54,64 juta ton gabah kering (GKG), mengalami kenaikan sebesar 45,17 ton (0,08%) dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 54,60 juta ton GKG.

Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras tahun 2020 adalah 31,33 juta ton. Angka ini meningkat 21,46 ribu (0,07%) jika dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 31,31 juta ton. Kendati mengalami peningkatan dari produksi beras, BPS juga mencatat terjadinya penurunan luas lahan panen sebesar 0,19% atau 0,02 juta hektar dari 10,68 pada 2019 menjadi 10,66 pada 2020.

BPS Provinsi Jawa Timur mencatat Provinsi Jawa Timur menempati peringkat pertama sebagai produsen padi terbesar di Indonesia pada tahun 2020. Produksi padi Jawa Timur meningkat 0,44 juta ton dari 9,58 juta ton pada 2019 menjadi 10,02 juta ton di 2020.

Bahkan surplus produksi beras Jawa Timur juga meningkat pada tahun 2020 yakni menjadi 1,50 juta ton. Dengan demikian, surplus produksi beras di Jawa Timur naik 0,22 juta ton dari sebelumnya 1,28 juta ton di tahun 2019.

Meskipun menjadi penghasil beras terbesar ketiga di dunia, Pemerintah Indonesia masih mengimpor beras hampir setiap tahun. Situasi ini disebabkan karena para petani masih belum optimal dalam menggunakan teknik-teknik pertanian ditambah dengan konsumsi beras per kapita yang besar. 

Manfaat Penggunaan Pupuk Urea

Pemupukan yang berimbang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi tanaman padi. Namun hal itu tidak lepas dari tercukupinya tiga unsur yakni nitrogen (N), phosphate (P), dan kalium (K). Salah satu pupuk jenis nitrogen yang kerap digunakan petani padi di Indonesia adalah pupuk urea.

Lalu, kapan sebenarnya tanaman padi membutuhkan pupuk urea? Padi yang kekurangan nitrogen akan terlihat warnanya pucat kekuningan, pertumbuhan lambat dan kerdil, serta daun tua berwarna kekuningan, dimulai dari ujung daun menjalar ke tulang daun. 

Untuk memantau kecukupan pupuk urea (nitrogen) pada tanaman padi, bisa dilakukan dengan menggunakan bagan warna daun (BWD). Pada alat ini, terdapat empat kotak skala warna, mulai dari warna hijau tua hingga hijau tua yang menggambarkan tingkat kehijauan daun tanaman padi. 

Pupuk urea memang menjadi andalan petani karena manfaatnya segera terlihat tidak lama setelah diberikan. Berikut ini adalah manfaat dari penggunaan pupuk urea:

  1. Membuat daun jadi tampak lebih segar, sehat, dan hijau.
  2. Meningkatkan jumlah protein pada tanaman padi.
  3. Mempercepat pertumbuhan tanaman padi, tanaman menjadi lebih cepat tinggi, mempunyai banyak cabang, dan jumlah anakannya juga banyak.

Pastikan Anda paham betul tentang kondisi tanah dan tanaman padi sebelum dilakukan pemupukan. Apabila kondisi semuanya bagus, Anda baru bisa memberikan pupuk urea sesuai dengan dosis yang berlaku.

Lihat contoh berikut:

  1. Pemupukan pertama dilakukan ketika padi berusia 7-10 hari. Anda bisa menggunakan pupuk urea sebanyak 75kg/ha.
  2. Tahap pemupukan yang kedua bisa dilakukan saat tanaman padi berusia 21 hari. Pada tahap ini, dibutuhkan pupuk urea dua kali lipat yaitu 150kg/ha.
  3. Pemupukan ketiga dilakukan saat padi berusia 42 hari dengan takaran pupuk urea sebanyak 75kg/ha.
  4. Cara pemberian pupuknya sendiri bisa anda lakukan dengan menyebarkan secara merata.

Pupuk Urea, Salah Satu Produk Andalan dari Pupuk Kaltim 

Pupuk urea, disebut juga pupuk nitrogen (N), memiliki kandungan nitrogen 46%. Urea dibuat dari reaksi antara amoniak dengan karbon dioksida dalam suatu proses kimia menjadi urea padat dalam bentuk prill (ukuran 1-3 mm) atau granul (ukuran 2-4 mm) yang keduanya diproduksi oleh Pupuk Kaltim. Urea prill paling banyak digunakan untuk segmen tanaman pangan dan industri, sedangkan urea granul lebih cocok untuk segmen perkebunan, meskipun dapat juga untuk tanaman pangan.

Sepanjang 2020 lalu, Pupuk Kaltim mampu memproduksi 3,68 juta ton pupuk. Jumlah ini meningkat 113% dibandingkan tahun sebelumnya yakni 3,24 juta ton. Dari jumlah tersebut, total yang pupuk urea bersubsidi yang dialokasikan mencapai 851.321 ton.

Khusus pupuk urea bersubsidi, Pupuk Kaltim menyalurkannya dengan merk dagang Urea Pupuk Indonesia, sementra untuk urea nonsubsidi menggunakan merk dagang Daun Buah. Selain pupuk urea, Pupuk Kaltim juga menyalurkan pupuk NPK subsidi dan nonsubsidi.

Meski tantangan COVID-19 mempengaruhi kondisi perusahaan secara keseluruhan, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Pupuk Kaltim untuk tetap memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara, utamanya pemenuhan pupuk dalam negeri guna mendukung ketahanan pangan nasional. (*)