Tanaman Rumah Ayudia Bikin Salfok, Pakai Pupuk Apa Ya

Tanaman Rumah Ayudia Bikin Salfok, Pakai Pupuk Apa Ya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pandemi COVID-19 tidak selamanya membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia. Artis cantik Ayudia Bing Slamet atau yang bernama asli Ayudia Chaerani Albar mampu mewujudkan cita-cita lama yang belum terwujud. Apa itu? Ayu panggilan akrabnya bisa berkebun. Bahkan setiap hari Ayudia sibuk mengurus tanaman-tanaman di kebun balkon rumahnya.

Artis 29 tahun itu mengatakan sebenarnya dirinya sudah suka merawat tanaman sejak 2017. Dia bahkan sampai mengikuti workshop tentang cara belajar menanam. Namun baru semenjak ada pandemi Corona ini dia mulai benar-benar fokus berkebun, tepatnya dengan menanam tanaman yang bisa dikonsumsi.

Wanita yang merilis buku ‘Teman Tapi Menikah’ bersama dengan suaminya, Muhammad Pradana Budiarto itu akhirnya memilih memanfaatkan balkon rumahnya sebagai tempat berkebun karena tak memiliki lahan yang luas. Bahkan, balkon rumahnya disebut laboratorium benih. “Pertama kali nanam banget pada saat pandemi, ada kaylan, selada, kemangi itu baru banget aku tanam. Khusus tanaman konsumsi. Kalau tanaman dekoratif beli satu dan dua,” ungkap Ayu.

Kendati demikian Ibu satu anak bernama Sekala itu langsung menemui kendala saat mencoba menanam. Tanaman sayuran perdananya langsung mati. Menurutnya ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses tanam-menanam.

“Kesulitannya detail, menanam itu banyak faktor, dari benih, pupuk, media tanam. Karena beberapa kali aku coba kok lama ya tumbuhnya? Ternyata gara-gara media tanamnya kurang bagus. Walaupun tidak tumbuh ya aku happy aja. Perawatannya juga nggak kalah repot, karena harus rutin diberi pupuk dan dipangkas. Kalau nggak ekosistemnya jadi kurang baik di balkon itu,” paparnya.

Tips Ayudia Merawat Tanaman

Ayudia memberi tips agar tanamannya bisa tumbuh dengan subur. Menurutnya, tanaman harus cukup cahaya. Ia pun melakukan berbagai trial and error hingga membuahkan hasil. Tanaman sayurannya bisa dipanen. Selain itu, Dia selalu memanfaatkan peralatan yang tersedia di dalam rumah seperti botol dan gelas. Karena itu, tidak sampai mengeluarkan biaya yang besar.

“Setiap belanja buat kebutuhan berkebun nggak nyampe mahal banget, sama sekali enggak. Jadi aku beli yang total Rp100.000, pokoknya terjangkau. Mungkin ada beberapa alat yang agak mahal misalnya alat hidroponik, kebetulan aku belum main ke arah sana, jadi sejauh ini oke-oke aja.”

Kesuksesan menanam sayur dari Ayudia ini menjadi inspirasi untuk mengusir kebosanan akibat pandemi COVID-19. Namun, dikutip dari situs pertanianku.com, kesuksesan menanam sayuran itu tergantung pada pemasangan ajir, penyiraman, penjarangan, dan pemupukan.

Pemasangan ajir sangat dibutuhkan bagi tanaman yang merambat dan yang lemah batangnya, seperti tomat, terung dan cabai termasuk mentimun. Ajir dari bahan bambu atau kayu cocok diberikan pada tanaman yang sudah berumur 3-4 minggu. Ajir bisa dibuat dari kayu atau bambu, bisa juga dari tali rafia yang diikatkan pada tali gantungan.

Penyiraman dilakukan dengan hati-hati agar tanaman tidak rusak, baik batang maupun daunnya. Frekuensi penyiraman dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Jangan lakukan penyiraman di siang hari karena dapat membuat tanaman layu. 

Penjarangan bertujuan agar tanaman yang ditinggalkan mendapatkan unsur hara secara optimal. Umumnya penjarangan dilakukan saat tanaman berumur 3-4 minggu. Tanaman yang dijarangkan dipindahkan ke pot yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan pemupukan tanaman sayur yang ditanam di pekarangan bisa menggunakan pupuk organik dan anorganik. Dosis dan cara penggunannya disesuaikan dengan kemasan pupuk tersebut.

Rekomendasi Tempat Membeli Pupuk

Untuk sayuran organic, jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk kompos, baik berbentuk curah maupun granul. Pemberian pupuk dilakukan pada saat pembuatan media tanam dengan menambah volume pupuk kompos atau pupuk kandang lebih banyak dalam media tanam, misalnya 2 atau 3 bagian dibandingkan tanah dan sekam. Pupuk susulan dapat berupa pupuk organik cair yang telah tersedia di toko-toko sarana pertanian atau dengan cara membuat sendiri. 

Intensitas pemberian pupuk organik biasanya dilakukan 3-7 hari sekali dengan cara melarutkan 10-100 ml pupuk dalam 1 liter air dan disiramkan secara merata pada media tanam. Sedangkan pada sayuran buah, disebabkan masa pertumbuhan yang lebih panjang, maka selain pemberian pupuk organik cair juga dapat dilakukan pemberian pupuk susulan berupa pupuk kandang atau pupuk kompos setiap 30 hari sekali sebanyak 50-100 g atau 2-3 genggam pupuk per tanaman.

Adapun budidaya non organik, pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk kimia seperti pupuk majemuk NPK seperti yang diproduksi Pupuk Kaltim; campuran pupuk tunggal Urea, TSP, dan KCL masing-masing satu bagian; atau pupuk pelengkap cair. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara menaburkan pupuk sebanyak 1/2 – 1 sendok teh disekitar permukaan tanaman. Setelah pupuk ditaburkan, maka harus segera dilakukan penyiraman tanaman untuk menghindari efek negatif kegaraman pupuk kimia terhadap tanaman.

Pemupukan susulan dapat dilakukan dengan cara melarutkan 1 sendok pupuk NPK atau campuran pupuk urea, TSP, dan KCL ke dalam 10 liter air. Lalu siramkan secara merata pada media tanam. Pengulangan dapat dilakukan setiap 3 atau 7 hari sekali.

Jenis pupuk kimia tersebut bayak tersedia di toko sarana dan prasarana pertanian atau pun kios-kios tanaman hias. Bahkan, saat ini bisa didapatkan melalui aplikasi E-Commerce melalui ponsel. Pupuk Kaltim sebagai produsen sekaligus pabrik pupuk terbesar di Indonesia menyediakan beragam pupuk sesuai dengan kebutuhan masyarakat mulai dari pupuk urea, amoniak, NPK dan pupuk hayati. (*)