Teknik Menarik Bercocok Tanam di Lahan Sempit, Jangan Lupa Pilih Pupuk yang Tepat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Bercocok tanam kini tengah jadi tren masyarakat perkotaan. Pandemi yang mengharuskan orang-orang banyak beraktivitas di rumah, membuat aktivitas ini makin diminati.

Selain dapat mempercantik rumah dan menghadirkan kesejukan, bercocok tanam dapat menjadi hobi yang bermanfaat untuk menghilangkan stres, lho!

Budidaya tanaman yang dilakukan di perkotaan lebih populer dengan sebutan urban farming, salah satunya adalah dengan memanfaatkan lahan terbatas yang ada di rumah.

Memiliki lahan sempit bukan halangan bagi Anda untuk bercocok tanam. Teknik bercocok tanam, pemilihan tanaman, serta penggunaan pupuk yang tepat menjadi hal yang penting dalam berkebun di lahan sempit. Empat teknik bercocok tanam berikut dapat menjadi alternatif dalam memanfaatkan lahan sempit di rumah.

  1. Tabulampot

Tabulampot merupakan suatu metode menanam tanaman buah di dalam pot. Untuk menanam tabulampot kita memerlukan media tanam berupa campuran tanah, kompos dan sekam dengan komposisi 1:1:1.

Tabulampot dapat menggunakan pot yang terbuat dari bahan apa saja, namun disarankan yang berbahan dasar tanah liat atau kayu. Karena kedua bahan ini memiliki pori-pori yang baik sehingga kelembapan media tanam lebih terjaga.

Pemupukan tanaman buah dalam pot bisa dilakukan setelah satu bulan pasca tanam dan selanjutnya 3 – 4 bulan sekali. Sedangkan penyiramannya kondisional tergantung jenis tanaman.

  1. Hidroponik

Hidroponik merupakan metode bercocok menggunakan air sebagai media tanam. Untuk menggantikan nutrisi dari tanah, air yang digunakan untuk budidaya tanaman diberi unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

Wadah penanaman hidroponik dapat menggunakan botol bekas yang sudah dilubangi bagian lehernya atau menggunakan pipa air. Bagian terpenting yang harus diperhatikan dalam membuat hidroponik adalah suhu, nutrisi untuk tanaman, dan intensitas cahaya.

Konsep hidroponik sendiri mengganti unsur hara yang biasa didapat tanaman dari tanah dengan memberikan nutrisi buatan pada air yang digunakan sebagai media tanam. Oleh karena itu, perawatan hidroponik pun memerlukan ketekunan.

  1. Vertikultur

Vertikultur memiliki banyak model mulai dari veltikultur gantung, tempel, tegah hingga rak. Wadah tanam yang digunakan bisa menggunakan pipa air tau botol air mineral bekas.

Untuk lahan yang sangat sempit kamu bisa meletakan tanaman vertikulturmu di tembok teras rumah. Asalkan ada sinar matahari yang cukup tanaman veltikultur akan tumbuh dengan maksimal.

  1. Aeroponik

Aeroponik merupakan cara bercocok tanam yang memanfaatkan udara sebagai media tanam utama dengan akar yang hanya menggantung di udara tanpa menggunakan tanah.
Media tanam aeroponik yang paling umum dilakukan di Indonesia, menggunakan styrofoam. Akar-akar tanaman dibiarkan menggantung dan nutrisinya diberikan dengan cara disemprotkan langsung pada akarnya tersebut.

Jenis Sayur yang Bisa Ditanam di Rumah

Menanam sayuran di rumah memberi banyak manfaat. Sayuran merupakan salah satu sumber vitamin dan mineral. Mengkonsumsi sayuran setiap hari dapat menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang virus.

Dengan menanam sayuran di rumah kita juga mempunyai cadangan oksigen, karena tanaman akan mengeluarkan oksigen pada malam hari. Berikut rekomendasi beberapa jenis sayuran yang bisa ditanam sendiri di rumah.

  1. Cabai

Cabai adalah salah satu sayuran favorit kebanyakan orang Indonesia. Harga cabai cenderung fluktuatif dan bisa melonjak tinggi menjelang hari raya atau saat pasokan terbatas. Untuk memastikan ketersediaan cabai di rumah, Anda bisa menanamnya sendiri.

Caranya cukup mudah, keluarkan biji cabai yang ingin di tanam dari buahnya, keringkan di bawah sinar matahari, lalu taburkan di atas pot berisi tanah. Untuk hasil maksimal, siram secara rutin dan letakkan di tempat yang terkena sinar matahari.

  1. Selada

Selada biasa dijadikan sebagai lalapan atau bahan campuran burger, salad, dan gado-gado. Tak hanya memiliki rasa yang menyegarkan, selada ternyata kaya akan kandungan nutrisi seperti vitamin A, vitamin K, zat besi, kalium, kalsium, serat, dan asam folat.

Menanam selada sangatlah mudah, yaitu dengan cara menaburkan bibit selada ke dalam pot yang berisikan tanah lalu siram dan letakkan di tempat yang terkena matahari. Jika tekun merawatnya, Anda tidak akan pernah kekurangan stok lalapan.

  1. Daun Bawang

Daun bawang hampir digunakan di setiap masakan berkuah, gorengan, atau tumisan. Aroma segar yang dikeluarkan daun ini menjadikan masakan semakin lezat. Untuk itu, daun bawang adalah salah satu jenis sayuran yang perlu ditanam di rumah.
Menanam daun bawang pun cukup mudah, yaitu potong bagian akar batang bawang daun lalu rendam di air hingga terlihat tumbuh serabut yang baru. Kemudian sahabat bisa memindahkannya ke media tanam pot. Siram secara rutin dan letakkan di tempat yang terkena sinar matahari.

  1. Kangkung

Kangkung merupakan salah satu jenis sayuran favorit keluarga Indonesia yang memiliki banyak manfaat, mulai dari menjaga kesehatan mata, mencegah diabetes, hingga melawan penyakit hati (liver). Jenis olahan kangkung yang populer di kalangan masyarakat adalah tumis kangkung. Kangkung termasuk jenis sayuran yang mudah di tanam dan cepat masa panennya.

Ada dua cara menaman kangkung di rumah, yaitu dengan menanam bibit kangkung pada pot atau dengan menanam langsung dari akarnya. Untuk hasil yang maksimal, siram kangkung secara rutin dan letakkan di tempat yang terkena matahari.

  1. Bayam

Sayur bayam juga termasuk favorit keluarga Indonesia. Sayur ini biasanya diolah menjadi sayur bening dengan tambahan tauge, jagung atau wortel. Selain kaya akan vitamin ternyata bayam tinggi akan kalsium seperti magnesium, zat besi, asam folat, kalsium, dan potasium, sodium.

Sama seperti kangkung, menanam bayam pun memiliki dua cara yaitu dengan bibit bayam yang langsung ditanam di pot atau dengan menanam akarnya.

Pupuk untuk Tanaman Sayuran

Jika Anda memilih budidaya secara organik, jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk kompos, baik berbentuk curah maupun granul. Pemberian pupuk dilakukan pada saat pembuatan media tanam dengan menambah volume pupuk kompos atau pupuk kandang lebih banyak dalam media tanam, misalnya 2 atau 3 bagian dibandingkan tanah dan sekam.

Pupuk susulan dapat berupa pupuk organik cair yang telah tersedia di toko-toko sarana pertanian atau dengan cara membuat sendiri. Intensitas pemberian pupuk organik biasanya dilakukan 3–7 hari sekali dengan cara melarutkan 10–100 ml pupuk dalam 1 liter air dan disiramkan secara merata pada media tanam.

Untuk budidaya non organik, pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk kimia seperti pupuk majemuk NPK; campuran pupuk tunggal Urea, TSP, dan KCL masing-masing satu bagian; atau pupuk pelengkap cair. Jenis pupuk kimia tersebut banyak tersedia di toko sarana dan prasarana pertanian ataupun kios-kios tanaman hias.

Pemupukan dapat dilakukan dengan cara menaburkan pupuk sebanyak 1/2–1 sendok teh di sekitar permukaan tanaman. Setelah pupuk ditaburkan, maka harus segera dilakukan penyiraman tanaman untuk menghindari efek negatif kegaraman pupuk kimia terhadap tanaman.

Pemupukan susulan dapat dilakukan dengan cara melarutkan 1 sendok pupuk NPK atau campuran pupuk urea, TSP, dan KCL ke dalam 10 liter air. Lalu siramkan secara merata pada media tanam. Pengulangan dapat dilakukan setiap 3 atau 7 hari sekali.

Rekomendasi pupuk NPK untuk tanaman hortikultura adalah NPK Pelangi milik Pupuk Kaltim. Pupuk ini dibuat dengan teknik pencampuran bulk blending atau pencampuran secara fisik menggunakan bahan baku berkualitas tinggi. Contohnya Urea Granul, Diammonium Phospate (DAP), dan KCL.

KCL sendiri merupakan sumber kalium dari serpihan asli (flake) dengan kandungan Kalium Oksida (K2O) sebesar 60%. Sehingga NPK Pelangi memiliki keunggulan di antaranya melepaskan unsur hara sesuai karakteristik atau sifat asli bahan baku, karena urea granul merupakan slow release nitrogen fertilizer yang lebih efisien diserap tanaman.(*)