Petani milenial

Teknologi Pemupukan Organik Cair dengan Menggunakan Drone Mempermudah Petani, Ini Penjelasannya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) terus berkomitmen untuk mendorong petani semakin melek teknologi digital. Salah satunya adalah dengan melakukan Gerakan Pemanfaatan Teknologi Digital oleh Petani di Desa Wisata Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, awal November 2021 lalu.

“Lahan pertanian di Indonesia menyimpan potensi yang belum digarap secara maksimal. Kita ingin potensi dikembangkan dengan cara memanfaatkan teknologi digital di bidang pertanian untuk meningkatkan keuntungan produksi,” kata Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Samuel Abrijani Pangerapan.

Samuel mengatakan, saat ini Kemenkominfo mencatat ada 130 juta pengguna internet di Indonesia. Dari jumlah tersebut hampir 50 persen lebih masih berusia muda. Aplikasi digital bisa mengembangkan dan meningkatkan perekonomian para petani milenial.

Kebutuhan bahan makan dan minum selama pandemi COVID-19 mengalami peningkatan. Kondisi itu harus membuka peluang peningkatan teknologi di sektor pertanian, agar dapat menjawab kebutuhan pasar. 

“Untuk membantu adopsi pemanfaatan teknologi, petani dan nelayan difasilitasi memanfaatkan fasilitasi teknologi digital,” kata Samuel.

Kemenkominfo melakukan pelatihan dan dapat memberikan penyuluhan dengan harapan petani bisa memiliki kemampuan sebagai penunjang dalam meningkatkan produktivitas. “Semoga ini bisa dilaksanakan sebagai komitmen meningkatkan produksi pertanian,” katanya.

Drone Sangat Membantu Petani

Ada berbagai macam teknologi di bidang pertanian saat ini. Salah satu teknologi di bidang pertanian yang cukup populer dan memberikan dampak positif bagi sektor pertanian adalah drone. 

Seperti yang dilakukan oleh para petani di wilayah Sumber Sari, Ciparay, Kabupaten Bandung. Mereka diberikan edukasi dan sosialisasi penggunaan teknologi pemupukan organik cair dengan menggunakan drone. Hal ini dilakukan sebagai bentuk upaya peningkatan produktivitas pangan khususnya bagi tanaman pangan padi di Indonesia, 

Berdasarkan pantauan, drone pertanian yang memiliki lebar sekitar 1 meter lebih itu terbang membawa sekitar 10-15 liter pupuk cair organik dan menyiramkannya secara otomatis sesuai luas lahan yang sudah disetting operator drone. Pesawat nirawak itu kemudian terbang sambil menyiram tanaman padi di bawahnya secara bolak balik. 

Salah satu petani di Sumbersari, Ayub Permana (55) mengaku tergiur ingin memiliki teknologi pertanian berupa drone tersebut. Pasalnya teknologi ini dapat memudahkan penyemprotan pupuk organik cair di lahan seluas 3,5 hektar yang digarapnya.

Sayangnya, harga jual drone tersebut terbilang cukup mahal sehingga tak terjangkau para petani. Meski begitu, Ayub berharap pemerintah membantu memfasilitasi teknologi tersebut guna meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian di wilayahnya. 

“Kepingin saya (drone pertanian), kalau harganya 20-30 juta Insha Allah bisa kebeli. Tapi kalau dihitung lagi lebih baik sewa cuman Rp160.000 ribu untuk (penggunaan drone) satu hektar,” katanya.

Selama ini penyiraman pupuk organik cair di lahan sawah yang digarap Ayub, masih dilakukan secara manual dengan menggunakan penyemprotan. “Kalau manual, saya satu hektar bisa menghabiskan waktu dua hari,” ucapnya. Meskipun secara manual, Ayub mengaku dapat memanen padi hingga 13 ton dari 20 kotak lahan sawah,” ucapnya.

Vice President Penjualan Wilayah Region 3A Pupuk Indonesia Aviv Ahmad Fadhil mengatakan penyemprotan pupuk organik cair Phonska Oca dengan menggunakan drone pertanian pada komoditas padi di Kabupaten Bandung ini, merupakan bentuk dukungan serta sarana edukasi kepada petani di Kabupaten Bandung dalam menerapkan pemupukan yang presisi menggunakan teknologi drone pertanian. Teknologi ini lebih mudah dan menyenangkan. 

Penyemprotan yang dilakukan di 14 Kabupaten tersebar di 3 provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat ini perdana dilakukan di Bandung. Inovasi perusahaan pada produk pupuk organik cair Phonska OCA dan peran Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang berkelanjutan menjadikan Phonska OCA sebagai salah satu produk subsidi pada tahun 2021. 

Phonska OCA merupakan pupuk yang memiliki kandungan unsur hara majemuk NPK dan pupuk organik dalam bentuk cair dengan kandungan C-Organik minimal 6 persen, serta diperkaya dengan unsur mikro serta mikroba fungsional yang bermanfaat untuk tanah dan tanaman. Pupuk cair organik ini telah melewati uji laboratorium di lembaga penelitian dan uji coba aplikasi di berbagai daerah yang mana hasilnya sangat cocok diaplikasikan pada tanaman padi maupun komoditas lain dan mampu meningkatkan produktivitas antara 13 hingga 61 persen. 

PKT Punya Teknologi Precipalm untuk Petani Sawit

PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) mengembangkan inovasi penerapan pertanian presisi, yang dinamakan PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm).

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman menjelaskan Precipalm bisa menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi unsur makro lahan kelapa sawit secara cepat dan presisi dalam bentuk peta digital lahan, yang diolah dari citra satelit dan model matematis. 

Informasi karakteristik lahan ini kemudian digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan N (Nitrogen), P (Phosphor), K (Kalium) dan Mg (Magnesium), serta bisa digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan pasca pemupukan secara realtime. 

“PreciPalm merupakan solusi pertanian presisi berbasis satelit pertama di Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit. PreciPalm dapat memberikan manfaat dalam mendukung efektifitas manajemen pemeliharaan kebun kelapa sawit di Indonesia,” jelas Bakir. 

Menurut Bakir, inovasi PreciPalm merupakan bagian dari transformasi bisnis Pupuk Indonesia Grup ini nantinya akan meningkatkan daya saing produk pupuk perseroan di era industri 4.0.

Pertanian presisi merupakan upaya efektif untuk mendapat keuntungan optimal dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. “PreciPalm menjadi salah satu rencana strategis dalam transformasi bisnis PI Grup, di mana perusahaan dituntut untuk mampu fokus pada customer oriented,” terang Bakir.

Prospek pemanfaatan Precipalm, menurut Bakir juga sangat strategis, karena baru Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim yang memiliki solusi rekomendasi pemupukan berbasis satelit. Petani sawit dapat fokus pada peningkatan produktivitas kebun sawit dengan menerapkan prinsip pertanian presisi sebagai cara menuju pertanian modern, seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian. 

“PreciPalm dapat menjadi cikal bakal penopang kesuksesan PI Grup dalam mengimplementasikan solusi pertanian melalui rekomendasi pemupukan presisi,” ungkapnya. 

PreciPalm merupakan sistem aplikasi rekomendasi pemupukan berbasis Pertanian Presisi (Precision Agriculture) yang cepat, tepat, dan efisien pada kebun kelapa sawit.

Teknologi ini dikembangkan bersama dengan tim ilmuwan Indonesia dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meningkatkan efisiensi pemupukan lahan kelapa sawit hingga 30%, dan mengoptimalkan produktivitas hasil pertanian kelapa sawit secara sustainable dalam jangka panjang.

PreciPalm menggunakan satelit Sentinel 2A untuk mendapatkan citra satelit yang berupa peta kondisi kandungan unsur hara tanaman Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) secara real time, dan kemudian diolah untuk menghasilkan rekomendasi dosis pemupukan di lahan terkait.

Penulis: Tyo