jenis-jenis beras

Ternyata Beras Punya Rasa Beda Tiap Jenisnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Beras merupakan hasil pertanian yang penting bagi sebagian besar negara di dunia. Bahkan, terdapat beberapa negara yang mendapatkan julukan sebagai negara penghasil beras terbesar di dunia.

Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA), produksi beras dunia mencapai 510,31 juta metrik ton per Februari 2021/2022. Jumlah tersebut meningkat 0,09% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 0,56% jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Saat ini, China menjadi negara penghasil padi terbesar di dunia. Dalam periode 2014-2018, negara ini bisa memproduksi padi hingga 210,91 juta ton dan memberikan kontribusi sekitar 27,81%. 

Selanjutnya, India berada pada posisi kedua. Produksi padi di India mencapai sekitar 163,7 juta ton atau sekitar 21,59%.

Lalu, di mana posisi Indonesia? Indonesia sendiri menempati urutan ketiga sebagai penghasil beras terbesar di dunia. Berdasarkan perhitungan dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional 2022 diperkirakan mencapai 32,07 juta ton. Jumlah itu naik 0,72 juta ton dari 2021, yang berjumlah 31,36 juta ton. 

Berdasarkan metode Kerangka Sampel Area (KSA), luas panen padi nasional 2022 sementara ini mencapai 10,61 juta ha. Luas tersebut naik 0,19 juta ha atau 1,87% dibandingkan dengan 2021 yang tercatat seluas 10,41 juta ha.

Beras Melimpah dengan Program Makmur

Ada faktor lain yang ikut memicu peningkatan produksi beras. Faktor tersebut adalah hadirnya Program Makmur yang diinisiasi PT Pupuk Indonesia (Persero).

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sebagai salah satu anak usaha PT Pupuk Indonesia juga ambil bagian dalam Program Makmur ini. Langkah nyata PKT terlihat dari keberhasilan mendorong produktivitas pertanian masyarakat, khususnya komoditas padi di Desa Panca Agung Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara. Pendampingan program Makmur PKT mampu meningkatkan hasil panen petani mencapai 5 ton per hektare, dari sebelumnya maksimal 2 ton per hektare. 

Direktur Operasi dan Produksi PKT Hanggara Patrianta, mengatakan program Makmur kali ini dilaksanakan diatas lahan seluas 24 hektare, dengan kenaikan produktivitas mencapai 150 persen berdasarkan hasil panen rata-rata para petani. Program ini merupakan salah satu fokus PKT bersama Pupuk Indonesia melalui sinergi BUMN, guna mendorong pengembangan sektor pertanian dalam mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional.

Sesuai tujuannya, peningkatan produktivitas melalui program Makmur dilaksanakan PKT dengan memfasilitasi berbagai kemudahan bagi petani. Mulai dari penyediaan agri input seperti bibit, pupuk dan pestisida, akses permodalan melalui Himbara, pendampingan berkala pengelolaan lahan, asuransi pertanian untuk antisipasi gagal panen, hingga jaminan pembelian hasil panen oleh offtaker secara kontinyu di atas rata-rata harga pasar.

Selain itu, program Makmur juga langkah aktif PKT mengajak generasi muda kembali bertani dan melirik pertanian sebagai sektor potensial, sekaligus mendorong peningkatan penggunaan pupuk non subsidi untuk mengurangi ketergantungan petani akan pupuk subsidi.

“Melalui optimalisasi tata kelola pertanian pada program Makmur, kesejahteraan petani pun dapat kita tingkatkan. Hal ini melihat produktivitas hasil yang jauh lebih tinggi dengan kepastian pembelian hasil panen secara berkala,” terang Hanggara.

Untuk menciptakan manfaat yang lebih luas, PKT menargetkan 25.000 orang petani menjadi anggota dari program Makmur di tahun 2022 sesuai dengan RKAP. Selain itu ada target cakupan lahan mencapai 60.000 hektar yang tersebar di wilayah pengembangan program Makmur yang dimandatkan kepada PKT.

Wilayah tersebut meliputi Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, NTB, NTT, dan Papua Barat.

“Beberapa wilayah pengembangan program Makmur PKT khususnya di Indonesia timur memiliki tingkat kesejahteraan dan ekonomi daerah yang rendah. Oleh karena itu, dengan adanya program Makmur ini diharapkan dapat meringankan beban petani di wilayah tersebut dan meningkatkan pendapatan mereka sehingga ekonomi keluarga pun meningkat,” tutur Project Manager Program Makmur PKT, Adrian R.D. Putera.

Jenis dan Rasa Beras

Beras menjadi sumber karbohidrat dan menjadi makanan pokok yang dapat diolah sebagai makanan lainnya. Selain karbohidrat, beras juga mengandung berbagai sumber vitamin dan mineral. Namun mengkonsumsi nasi putih dalam jumlah besar dapat memicu berbagai penyakit, termasuk meningkatkan kolesterol, diabetes, jantung hingga kanker.

Di Indonesia, paling tidak ada tujuh jenis beras yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia, yaitu:

  1. Beras Sentra Ramos – IR64

Beras Sentra Ramos berukuran panjang dan tanpa aroma khusus. Karakter setelah dimasak menjadi nasi akan bertekstur pulen, tidak lengket dan gurih. Secara harga beras IR64 masih di bawah Beras Pandan Wangi.

  1. Beras Pandan Wangi

Sesuai namanya, beras pandan wangi memiliki aroma daun pandan termasuk setelah dimasak menjadi nasi. Bentuk beras pandan wangi, yakni bulat tetapi tidak sempurna, berwarna putih bening namun sedikit kekuningan dengan bagian tengah berwarna putih susu. Beras pandan wangi merupakan varietas andalan daerah Cianjur yang bercita rasa pulen dan cenderung manis.

  1. Beras IR42

Bentuk beras IR42 lebih kecil, tidak terlalu bulat dengan tekstur sedikit keras dan kering setelah dimasak menjadi nasi. Tidak jarang beras IR42 disebut beras pera dengan harga cukup tinggi karena jarang petani yang menanamnya.

  1. Beras Rojolele

Beras Rojolele berbentuk bulat sedikit memanjang dengan warna tidak bening dan sedikit bagian yang berwarna putih susu. Beras ini hampirmemiliki kesamaan tekstur dengan beras pandan wangi, namun tidak beraroma pandan. Beras Rojolele berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang kerap dijadikan pilihan bagi yang tidak menyukai beras pandan wangi.

  1. Beras Batang Lembang

Beras yang dikenal sebagai beras Jepang memiliki bentuk panjang dengan warna putih jernih. Setelah dimasak menjadi nasi, beras Batang Lembang bertekstur sangat pulen dan sedikit lengket. Beras ini dianggap beras paling pulen dibanding beras lainnya.

  1. Beras Menthik Susu

Beras asil Jepang yang mulai dibudidayakan di daerah Magelang, Jawa Tengah memiliki bentuk gemuk lonjong dan berwarna putih susu seperti ketan. Beras Menthik Susu bertekstur lembut, kenyal dengan aroma spesial. Beras ini adalah beras Jepang yang dibudidayakan di Magelang, Jawa Tengah. Keunggulan beras Menthik Susu dianggap lebih menyehatkan karena kandungan glukosa, karbohidrat, dan proteinnya mudah terurai.

  1. Beras Menthik Wangi

Beras menthik wangi merupakan beras yang dibudidayakan secara organik sehingga harganya cukup tinggi. Secara rasa beras Menthik Wangi bertekstur pulen dan lembut. Dan dipercaya mampu membantu menjaga tekanan darah, mencegah obesitas, merawat kulit, hingga menurunkan risiko kanker.

Latest Article