Penerapan Sistem Pertanian Modern

3 Penerapan Sistem Pertanian Modern ini Bantu Petani Indonesia, Apa Saja?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

KEMENTERIAN Pertanian mencanangkan Program Pengembangan Pertanian Modern untuk mensejahterakan dan memuliakan petani. Kebijakan pemerintah yang mengutamakan keberpihakan kepada petani ini dicirikan dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pasca panen sehingga mengubah kegiatan usaha pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian yang modern (modernisasi pertanian).

Modernisasi pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Hingga kini pihaknya telah menggelontorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke seluruh pelosok Tanah Air. Sejak tahun 2015 Kementan telah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahun 2010-2014 jumlah bantuan alsintan yang dibagikan tidak lebih dari 50.000 unit dan pada tahun 2015–2017 jumlah bantuan alsintan berbagai jenis yang dibagikan pemerintah kepada petani masing-masing berjumlah 157.493 unit, 110.487 unit, dan 321.000 unit atau naik lebih dari 600%. 

Modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas komoditas pangan dan pendapatan keluarga petani sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen karena sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian mencatat Penggunaan traktor roda-2 dan roda-4 mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha. Lalu, biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%. Penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha. Begitu pula penggunaan combined harvester mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%. Bahkan menekan kehilangan hasil dari 10,2% menjadi 2%, serta menghemat waktu panen menjadi 4 sampai 6 jam/ha.

Penggunaan alsintan mulai dari olah sawah hingga panen dapat menekan biaya produksi padi sebesar 6,5% dan meningkatkan produksi sebesar 33,8 % (dari 6,0 ton GKP/ha menjadi 8,1 ton GKP/ha). Masing-masing bersumber dari penurunan kehilangan hasil sebesar 10,9% akibat menggunakan combine harvester, peningkatan produktivitas 11,0% akibat penggunaan transplanter yang mendorong petani menerapkan sistem tanam jajar legowo (jarwo), dan peningkatan produktivitas 11,9% akibat penggunaan input lainnya yang membaik. Artinya mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani mencapai 80%, dari Rp 10,2 juta/ha/musim menjadi Rp 18,6 juta/ha/musim.

Modernisasi pertanian juga dapat mendorong minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap dunia pertanian. Jika sebelumnya pertanian dipandang sebelah mata sebagai pekerjaan untuk orang yang kurang pendidikan dan miskin, bekerja penuh lumpur di bawah terpaan sinar matahari serta lebih banyak mengandalkan kerja otot.

Penerapan Teknologi Modern

1. Program Makmur PKT

Menteri BUMN Erick Thohir resmi meluncurkan Program Makmur, di Subang, Jawa Barat pada Sabtu (28/8/2021). Program ini merupakan inisiatif PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai upaya solusi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan bahwa Program Makmur merupakan bagian dari proses transformasi bisnis yang berkomitmen mendukung pemerintah untuk memperkuat ekonomi nasional. “Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan penghasilan para petani,” kata Bakir.

Pendampingan ini meliputi jaminan input pertanian komersil berkualitas (benih, pupuk, dan pestisida), kawalan budidaya, teknologi pertanian, jaminan pembelian hasil panen (offtaker), dukungan permodalan, hingga asuransi.

Manfaat dari program Makmur antara lain meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan keuntungan atau penghasilan petani, mengadopsi praktik pertanian unggul, dan penggunaan pupuk komersil atau nonsubsidi, sehingga petani tidak mesti bergantung pada pupuk subsidi.

Program Makmur telah dijalankan oleh masing-masing anak perusahaan Pupuk Indonesia grup, termasuk PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). 

2. Precipalm, Solusi Pemupukan Presisi untuk Kebun Kelapa Sawit

PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) mengembangkan inovasi penerapan pertanian presisi sebagai langkah antisipasi disrupsi industri berupa pemanfaatan teknologi informasi untuk menentukan rekomendasi pemupukan presisi dengan menggunakan teknologi satelit. Hal ini mampu untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta mengolah informasi keragaman spasial dan temporal pada lahan kebun kelapa sawit, yang dinamakan PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm).

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman mengatakan, Precipalm dapat menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi unsur makro lahan kelapa sawit secara cepat dan presisi dalam bentuk peta digital lahan, yang diolah dari citra satelit dan model matematis. Informasi karakteristik lahan ini kemudian digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan N (Nitrogen), P (Phosphor), K (Kalium) dan Mg (Magnesium), serta dapat digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan paska pemupukan secara realtime.

Menurut Bakir, inovasi PreciPalm yang merupakan bagian dari transformasi bisnis Pupuk Indonesia Grup ini akan meningkatkan daya saing produk pupuk Perseroan di era industri 4.0. Pertanian presisi merupakan upaya efektif untuk mendapat keuntungan optimal dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. “PreciPalm menjadi salah satu rencana strategis dalam transformasi bisnis PI Grup, dimana Perusahaan dituntut untuk mampu fokus pada customer oriented,” terang Bakir. 

PreciPalm memberikan prospek yang sangat baik untuk mendukung pemasaran pupuk NPK non subsidi. Prospek pemanfaatan Precipalm sangat strategis, karena baru Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim yang memiliki solusi rekomendasi pemupukan berbasis satelit. Petani sawit dapat fokus pada peningkatan produktivitas kebun sawit dengan menerapkan prinsip pertanian presisi sebagai cara menuju pertanian modern, seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian.

3. Pengembangan dan Revitalisasi Industri

Sejak 2015 terdapat beberapa pabrik pupuk baru ataupun pabrik pengganti yang sudah dibangun. Misalnya, pabrik Kaltim-5 di PT Pupuk Kalimantan Timur dengan kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton pada tahun 2015 untuk menggantikan pabrik Kaltim-1 yang berkapasitas produksi pupuk urea sekitar 700 ribu ton per tahun.

Saat ini, total kapasitas produksi PKT untuk pupuk urea mencapai 2,4 juta ton per tahuh, kemudian produksi amonia sebesar 2,7 juta ton per tahun, dan pupuk NPK sekitar 300 ribu ton per tahun.

Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin, Fridy Juwono menyatakan, keberhasilan pelaksanaan program revitalisasi industri pupuk tidak lepas dari dukungan penyediaan bahan baku yang cukup serta pelaksanaan roadmap kebutuhan pupuk jangka panjang. 

“Keberadaan pabrik baru akan membantu menurunkan konsumsi gas bumi untuk per ton amonia dan urea secara signfikan,” ungkapnya.

Penulis: Tyo