Smart production Pupuk Kaltim

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional: Melihat Lebih Dekat Konsep Smart Production PKT

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) merupakan produsen pupuk di bawah naungan Pupuk Indonesia Grup yang terus berkembang. Seiring dengan transformasi industri 4.0, industri pupuk Tanah Air memiliki tingkat kompleksitas produksi yang tinggi dan menjadi tantangan tersendiri bagi PKT.

Pada momen Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang akan diperingati pada 10 Agustus 2021 ini, Demfarm.id akan mengulas beragam inovasi teknologi yang diterapkan oleh PKT. Mulai dari konsep Smart Production, rencana pembangunan pabrik baru yang akan menggunakan teknologi tercanggih, hingga teknologi pemupukan presisi PreciPalm.

Usung Konsep Smart Production

Direktur Operasi dan Produksi PKT Hanggara Patrianta menyebut adaptasi teknologi dan SDM menjadi kunci produktivitas sebuah pabrik di industri petrokimia. PKT menerapkan konsep Smart Production yang meliputi digitalisasi dan integrasi data secara online pada seluruh lini proses produksi, meliputi performa pabrik baik produksi, konsumsi energi, inventori dan operasional pabrik, kualitas dan stok produk, evaluasi kesehatan dan pemeliharaan aset, kinerja lingkungan, serta dilengkapi dengan sistem alarm.

“Masing-masing lini ini dilengkapi dengan platform teknologi informasi yang dirancang khusus, yang terhubung dengan manajemen PKT untuk memudahkan pengambilan keputusan dan hasilnya sesuai dengan yang diinginkan,” ujar Hanggara dalam wawancara yang dikutip dari Bisnis.com, 12 Juli 2021.

Hingga Mei 2021, PKT berhasil melakukan efisiensi energi sebesar 2,69 persen di pabrik Amoniak dan 3,88 persen di pabrik Urea, terhadap target intensitas energi yang ditetapkan oleh Pemegang saham.

Hanggara juga optimis bahwa smart production dapat menjadi salah satu akselerator dalam mengadopsi inovasi teknologi terkini yang menjalankan otomasi, trending, dan prediksi. Mulai dari proses operasi hingga maintenance.

Selain itu, sejak 1977, kata Hanggara, pabrik pertama PKT telah terjadi perubahan signifikan dalam implementasi inovasi dan teknologi selama 44 tahun ini yang didorong sejumlah faktor, yaitu:

– Bahan baku, di mana mayoritas bahan baku pupuk ini gas alam yang ketersediaannya semakin menurun dan menjadikannya tentu semakin mahal. Teknologi telah menjustifikasi hal tersebut sehingga tetap efisien dan menghasilkan produk dengan harga kompetitif.

– Kualitas bahan baku, secara teknis jika dulu gas bagus dulu metannya 94 persen masih terbilang bagus sekarang menjadi 88 persen dan akan lebih rendah lagi karena pengaruhi teknologi.

– Permintaan pasar, setiap inovasi yang dilakukan PKT menyesuaikan dengan kondisi pasar dan permintaan produk.

– Regulasi lingkungan yang semakin ke sini semakin ketat.

– Aspek keamanan yang selalu memengaruhi setiap transformasi PKT.

Menurut Hanggara, inovasi teknologi memberikan dampak positif signifikan salah satunya dalam hal efisiensi. Jika dulu penggunaan gas 38-39 MMBTU per ton dalam proses produksi dianggap tidak boros, sekarang tentu berbeda. Teknologi mampu menurunkan penggunaan gas menjadi 24 MMBTU per ton.

“Jika dilihat secara pabrikan untuk energi pabrik pertama dan kedua kami paling jelek energinya kemudian pada 1999 pengembangan pabrik ketiga sudah bisa diturunkan menjadi 8-9 MMBTU per ton. Kemudian saat ini sudah ada batasan-batasannya, misal urea 24 MMBTU sampai 2025 nanti dan akan terus seperti itu,” imbuhnya.

Baru-baru ini, PKT juga mendapatkan predikat National Lighthouse Industry 4.0 dari Kementerian Perindustrian karena dinilai berhasil menerapkan teknologi berbasis industri 4.0 dalam operasinya.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi  mengatakan bahwa National Lighthouse Industry 4.0 merupakan wujud nyata komitmen PKT terhadap transformasi Industri 4.0, yang dikembangkan perusahaan untuk meningkatkan performa dan daya saing di pasar nasional maupun global.

Predikat ini menjadikan PKT sebagai role model dunia industri tanah air, terkait implementasi teknologi berbasis Industri 4.0 dalam aktivitas bisnis, sekaligus wujud dukungan PKT terhadap Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan pemerintah sejak 2018.

“Komitmen PKT sebagai National Lighthouse direalisasikan melalui integrasi proses bisnis melalui penerapan enterprise resources planning dan implementasi IT master plan, serta IT roadmap dengan inisiatif pengembangan aplikasi maupun infrastruktur IT,” kata Rahmad seperti dilansir Antara, 24 April 2021.

Berbagai kasus penggunaan Industri 4.0 juga berhasil ditetapkan PKT, seperti smart operation, smart maintenance, smart distribution, digital performance management system, smart farming solution, dan lainnya.

Melalui inovasi tersebut, PKT mampu meningkatkan kinerja secara signifikan yang berdampak pada pencapaian target serta daya saing perusahaan, mulai penurunan frekuensi dan durasi unscheduled shutdown, meningkatnya efisiensi energi, rate produksi, indeks keandalan pabrik, efisiensi biaya distribusi, produktivitas pekerja serta efisiensi biaya produksi.

PKT Mampu Bertahan di Masa Pandemi

Inovasi teknologi yang diterapkan PKT mampu membuatnya bertahan melewati masa-masa sulit akibat pandemi Covid-19. Hanggara mengatakan pada Maret 2020 PKT sempat mengalami guncangan dari sisi finansial. Covid-19 juga menyerang beberapa SDM sehingga PKT lebih fokus pada pengendalian seoptimal mungkin mulai dari membuat satgas hingga 3T dan 5M secara ketat.

Dengan kondisi Covid -19 saat ini Hanggara menyebut PKT belum memiliki target peningkatan kapasitas produksi. PKT masih akan berjalan sesuai yang target awal dan mengikuti regulasi pemerintah daerah setempat. Apalagi sekitar 86 persen karyawan sudah divaksin dan PKT sudah memiliki laboratorium PCR sehingga pendeteksian jauh lebih cepat.

“Dari sisi infrastruktur, penyekatan di pabrik juga kami lakukan tentunya berbagai inovasi yang bahkan dilakukan pada setiap kondisi terus kami lakukan. Adapun secara rencana kerja dan anggaran perusahaan atau RKAP, sejauh ini sudah lebih baik dibanding tahun lalu tahun lalu efisiensi kami 0,8 MMBTU per ton sedangkan sampai Mei sekitar 0,9 MMBTU per ton,” ujar Hanggara.

Pabrik Baru di Teluk Bintuni

Saat ini PKT juga tengah merencanakan pembangunan pabrik baru di kawasan industri petrokimia, Teluk Bintuni, Papua Barat. Nilai investasi untuk pabrik baru ini mencapai 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp35,9 triliun hingga lima tahun ke depan.

Pabrik tersebut akan memproduksi pupuk urea, amonia, dan metanol. PKT akan memproduksi sendiri urea dan amonia di pabrik tersebut dengan kapasitas produksi metanol 1 juta ton, urea 1,1 juta ton. Sementara, untuk produksi metanol masih mempertimbangkan untuk mencari mitra.

Persiapan lahan akan dilakukan pada 2022. Kemudian, rekonstruksi pabrik pada 2023. Jika sesuai rencana, maka pabrik tersebut bisa beroperasi pada 2026.

Hanggara menyebut pabrik ini akan menggunakan teknologi tercanggih dalam proses produksinya. Secara bahan baku gas saat ini terdeteksi akan mencukupi untuk 50-55 tahun ke depan sehingga jika kandungan gas lebih banyak akan membuat harga produk yang dihasilkan lebih kompetitif.

Produksi Pupuk PKT Per Kategori

PKT merupakan produsen pupuk urea terbesar di Indonesia. Selain itu, PKT juga memproduksi amoniak dan pupuk NPK. Adapun kapasitas produksi masing-masing produk, sebagai berikut.

Urea

PKT memiliki 5 pabrik Urea, yakni Pabrik 1A, Pabrik 2, Pabrik 3, Pabrik 4, dan Pabrik 5. Produk urea jenis prill diproduksi oleh Pabrik 2 dan Pabrik 3, sedangkan produk urea jenis granul diproduksi oleh Pabrik 1A, Pabrik 4, dan Pabrik 5. Kapasitas produksi total mencapai 3,43 juta ton urea per tahun.

Urea PKT dipasarkan dengan merek dagang Daun Buah untuk sektor nonsubsidi, dengan butiran pupuk yang berwarna putih dan variasi kemasan, antara lain 2 kg, 5 kg, 10 kg, 20 kg dan 50 kg. Sedangkan urea bersubsidi disalurkan dengan merek dagang Pupuk Indonesia Holding Company, mempunyai butiran pupuk berwarna pink, dengan kemasan 50 kg.

Amoniak

PKT memiliki 5 pabrik amoniak, yaitu Pabrik 1A, Pabrik 2, Pabrik 3, Pabrik 4, dan Pabrik 5. Kapasitas total mencapai 2,74 juta ton amoniak per tahun.

Amoniak digunakan sebagai bahan mentah dalam industri kimia. Amoniak produksi Pupuk Kaltim dipasarkan dalam bentuk cair pada suhu -33 derajat celsius dengan kemurnian minimal 99,5% dan campuran (impurity) berupa air maksimal 0,5%.

NPK

PKT memiliki 2 pabrik NPK dengan 2 teknologi pengolahan, yaitu NPK blending dan NPK fusion. Pabrik NPK blending memiliki kapasitas produksi sebesar 150.000 ton per tahun. Sementara itu, pabrik NPK fusion berkapasitas 200.000 ton per tahun, sehingga total kapasitas produksi NPK sebesar 350.000 ton.

Pupuk NPK nonsubsidi dipasarkan dengan merek dagang NPK Pelangi. Pada akhir 2020, kemasan NPK Pelangi mengalami perubahan dari segi visual, sesuai dengan gambar karung di samping, dan mempunyai variasi kemasan 2 kg, 5 kg, 10 kg, 20 kg dan 50 kg.

NPK Pelangi terdiri dari 2 jenis, yaitu NPK blending dan NPK fusion. NPK Pelangi jenis blending diproduksi dengan proses mechanical blending, dan berasal dari bahan baku berkualitas tinggi, yaitu urea granul, DAP (diammonium phospate) dan KCL flake, serta filler berupa Mg dan Ca sehingga butirannya berwarna warni.

Sedangkan NPK Pelangi jenis fusion diproduksi melalui proses steam granulation sehingga memiliki butiran pupuk homogen yang mengandung unsur N, P dan K dalam satu butirannya. Keunggulan NPK Pelangi adalah dapat diformulasikan dengan sangat fleksibel sesuai kebutuhan petani, serta terbukti dapat meningkatkan hasil panen.

NPK subsidi juga dipasarkan dengan merek NPK Pelangi, dikhususkan untuk komoditas tanaman kakao, yang disalurkan di Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, dengan kemasan 50 kg.

PKT Kembangkan Precipalm, Teknologi Pertanian Kelapa Sawit

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) bersama tim ilmuwan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan teknologi pertanian untuk perkebunan sawit yang disebut PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm).

Sejak diluncurkan pada Desember 2018 lalu, PreciPalm telah melalui serangkaian uji coba dan terbukti meningkatkan efisiensi pemupukan lahan kelapa sawit hingga 30%, serta mengoptimalkan produktivitas hasil pertanian kelapa sawit secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

PreciPalm merupakan solusi pertanian presisi berbasis satelit pertama di Indonesia untuk perkebunan kelapa sawit. PreciPalm menyediakan informasi mengenai kondisi nutrisi unsur makro lahan kelapa sawit secara cepat dan presisi dalam bentuk peta digital lahan, yang diolah dari citra satelit dan model matematis.

Informasi karakteristik lahan itu kemudian digunakan untuk menjadi dasar dalam menghasilkan rekomendasi pemupukan N (nitrogen), P (phosphor), K (kalium) dan Mg (magnesium), serta dapat digunakan untuk pemantauan kondisi nutrisi lahan perkebunan pasca pemupukan secara real time.

Menurut Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman, inovasi PreciPalm yang merupakan bagian dari transformasi bisnis Pupuk Indonesia Grup itu akan meningkatkan daya saing produk pupuk Perseroan di era industri 4.0.

PreciPalm menjadi salah satu rencana strategis dalam transformasi bisnis PI Grup, di mana Perusahaan dituntut untuk mampu fokus pada customer oriented (berorientasi konsumen). Pertanian presisi merupakan upaya efektif untuk mendapat keuntungan optimal dan berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Bakir mengatakan PreciPalm memberikan prospek yang sangat baik untuk mendukung pemasaran pupuk NPK nonsubsidi. Prospek pemanfaatan Precipalm, menurut Bakir, juga sangat strategis, karena baru Pupuk Indonesia melalui Pupuk Kaltim yang memiliki solusi rekomendasi pemupukan berbasis satelit.

Dengan penggunaan teknologi PreciPalm, peetani sawit dapat fokus pada peningkatan produktivitas kebun sawit dengan menerapkan prinsip pertanian presisi sebagai cara menuju pertanian modern, seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian. (*)