Menjadi petani muda sukses

Hari Sumpah Pemuda: Melihat Upaya Kementan dalam Mendorong Milenial untuk Majukan Sektor Pertanian

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Kementerian Pertanian (Kementan) terus berusaha mencetak petani muda. Salah satu Langkah konkrit yang dilakukan Kementan adalah dengan lahirnya Duta Petani Milenial/Duta petani Andalan (DPM/DPA). Lebih dari 2.000 petani milenial berada di bawah naungan DPM/DPA ini.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan upaya menumbuhkan petani milenial harus terus didorong secara massif dengan mengoptimalkan peran mereka untuk memacu sektor pertanian semakin melesat hebat.

“Petani milenial berperan penting dalam mendorong pengembangan jejaring usaha di wilayahnya. Saat ini telah terdata lebih dari 2.000 petani milenial yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia,” kata Mentan beberapa waktu lalu. 

Syahrul menambahkan, penguatan peran petani milenial di seluruh Indonesia ditujukan untuk mengkoordinasikan informasi dan program-program pembangunan di setiap kabupaten dengan cepat. Menurutnya, saat ini petani milenial tidak hanya berproduksi di ladang dan menghasilkan varietas baru, tetapi juga sudah mampu melakukan pemasaran produk dengan baik serta mempersiapkan market yang terkoneksi secara digital, bahkan menembus pasar ekspor.

Mentan berharap, ke depan 71 persen petani tua di Indonesia secara perlahan bisa diorientasikan, sehingga petani muda yang saat ini jumlahnya 20 persen bisa semakin bertambah besar.

“Kita harapkan dalam 5 tahun, kita akan mencetak 2,5 juta petani millennial. Salah satu caranya dengan melakukan pelatihan wirausaha pertanian bagi milenial yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani, terutama dalam melakukan pengembangan usaha melalui akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan, serta optimalisasi kegiatan bisnis,” ujar Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menyebut dalam sektor pertanian, peluang keterlibatan generasi muda sangat besar mengingat Indonesia mengalami bonus demografi, yang ditandai dengan dominannya jumlah penduduk usia produktif.

“Generasi milenial tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga memiliki kreativitas dalam segala aspek kehidupan,” tandas Dedi.

Oleh karena itu, generasi milenial diharapkan dapat menciptakan peluang baru dalam bisnis pertanian seiring dengan kebutuhan di masyarakat dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Untuk menggaet bonus demografi generasi milenial, Kementan telah mengukuhkan 2.000 DPM/DPA untuk meningkatkan peran generasi muda dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian.

DPM/DPA memiliki bidang usaha yang sangat variatif seperti budidaya hortikultura, budidaya tanaman pangan, budidaya ternak, pengolahan hasil pertanian, peternakan, perkebunan, jasa alat mesin pertanian, hingga agro-eduwisata.

Keberhasilan usaha dari DPM dan DPA diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi milenial untuk terjun berusaha di bidang pertanian dan berkontribusi nyata dalam pembangunan pertanian,” harap Dedi.

Menurut Dedi, upaya penguatan kapasitas DPM/DPA dan petani milenial terus dilakukan melalui berbagai pelatihan untuk meningkatkan hard skill maupun soft skill petani milenial yang dilaksanakan oleh BPPSDMP. Selain itu, untuk regenerasi, program Youth Entrepreneurship dan Employment Support Services (YESS) diintensifkan di Cianjur.

Program-program PKT Untuk Mendorong Produktivitas Pertanian

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) berkomitmen untuk terus mengembangkan Program Makmur, untuk meningkatkan pemberdayaan petani dan produktivitas pertanian di Indonesia. Ini merupakan langkah Pupuk Kaltim dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, melalui peningkatan produktivitas pertanian dan perluasan area tanaman pangan yang dibarengi kesejahteraan petani.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengatakan Program Makmur yang dilaksanakan Pupuk Kaltim Bersama Pupuk Indonesia, telah menunjukkan hasil signifikan di berbagai komoditas, terutama padi dan jagung dengan produktivitas mencapai 140-145 persen di wilayah tanggung jawab Pupuk Kaltim.

“Program Makmur terlaksana di sejumlah wilayah tanggung jawab distribusi Pupuk Kaltim, seperti Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Program ini merupakan upaya Pupuk Kaltim dalam meningkatkan penggunaan pupuk nonsubsidi dalam negeri dengan menciptakan ekosistem untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia,” kata Rahmad.

Salah satu keberhasilan Program Makmur Pupuk Kaltim terlihat jelas dari peningkatan produktivitas padi di Banyuwangi, Jawa Timur pada September 2021, yang mencapai 9 ton per hektar. Padahal sebelumnya hasil panen hanya 5 ton per hektar. Artinya pendapatan petani padi meningkat Rp24 juta per hektar dari sebelumnya maksimal Rp10 juta per hektar.

Rahmad menambahkan, berdasarkan capaian kuartal III tahun 2021, luas tanam Pupuk Kaltim untuk Program Makmur mencapai 13.796 hektar atau 115 persen dari target 12.000 hektar. Jumlah tersebut terbagi pada komoditas padi seluas 2.452 hektar, jagung 3.085 hektar, kelapa sawit 6.220 hektar, dan komoditas lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kakao, dan tebu seluas 2.039 hektar.

“Sementara untuk akuisisi petani, Program Makmur telah menggandeng 6.557 petani dari target 9 ribu orang atau sekitar 72,8 persen dari target,” ujar Rahmad.

Produktivitas rata-rata petani juga mengalami peningkatan 145 persen dengan keuntungan 147 persen, serta produktivitas jagung mencapai 140 persen dengan keuntungan 157 persen. 

“Bahkan dalam waktu dekat, kami juga akan melakukan panen raya sejumlah komoditas pertanian Bersama petani milenial yang juga dibina Pupuk Kaltim pada Program Makmur,” imbuh Rahmad.

Merujuk tema besar “Our Action Our Future-Better Production, Better Nutrition, a Better Environment and a Better Life” pada peringatan Hari Pangan Sedunia 2021, lanjut Rahmad, Program Makmur menjadi salah satu langkah Pupuk Kaltim untuk mengajak masyarakat menjadi pahlawan pangan dan berkontribusi pada transformasi sistem pertanian pangan yang lebih baik, melalui peningkatan produktivitas pertanian dalam mewujudkan kemandirian pangan Nasional.

Rahmad menjelaskan Program Makmur sebagai solusi peningkatan kapasitas pertanian, didasari pada tiga keterbatasan petani seperti akses pasar, finansial dan teknologi. Program ini direalisasikan melalui pendampingan intensif dan berkelanjutan, melibatkan rantai pasok yang didukung teknologi berbasis pada triple bottomline 3P (people, planet dan profit). Petani tak hanya difasilitasi permodalan untuk mendapatkan bibit, pupuk dan pestisida saja, tapi juga asuransi sebagai antisipasi kerugian saat gagal panen.

“Begitu juga penjualan hasil produksi, difasilitasi kepada offtaker dengan harga yang kompetitif,” sambung Rahmad.

Rahmad optimistis sektor pertanian nasional akan terus meningkat, mengingat produktivitas pangan yang didukung kualitas pupuk hingga akses pasar bagi para petani menjadi lebih terjaga dengan program Makmur.

“Pupuk Kaltim akan terus mengembangkan program Makmur ke depannya, dengan target luasan tanam yang jauh lebih besar untuk berbagai komoditas unggulan di Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Tyo