Smart production Pupuk Kaltim

Intip Upaya Industri Pupuk Wujudkan Keseimbangan antara Profit, People, dan Planet

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Zero waste merupakan gaya hidup meminimalisir sampah yang berangkat dari kesadaran untuk mengurangi penggunaan benda-benda sekali pakai. Selain itu, prinsip ini juga melahirkan metode 5R (Refuse, Reuse, Reduce, Recycle, and Repair) yang terbukti mampu menciptakan iklim perekonomian berkelanjutan dan mengurangi dampak buruk pada lingkungan.

Zero waste ini sangat cocok diterapkan di lingkungan perusahaan. Dalam praktiknya, konsep zero waste adalah mengendalikan penggunaan barang sekali pakai yang sulit terurai, misalnya plastik belanja. 

Gaya hidup bebas limbah sejalan dengan penerapan ekonomi sirkular, pemanfaatan sumber daya agar dapat digunakan selama mungkin, hal ini jelas dapat membantu mengurangi jumlah limbah. Dapat dikatakan, pengelolaan limbah di kantor tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tapi juga menguntungkan dari sisi bisnis.

Sebuah perusahaan di Hyderabad, CA Technologies menggunakan metode yang menarik untuk mengurangi limbah sisa makanan dari kantinnya. Mereka menunjukan volume limbah makanan yang dihasilkan setiap harinya, dengan data tersebut mereka mengandaikan jumlah orang yang seharusnya bisa mengonsumsi makanan yang terbuang sia-sia tersebut. Hasil dari metode ini berhasil menurunkan jumlah limbah hingga 80%.

Berikut ini adalah cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk menerapkan gaya hidup bebas limbah.

  1. Siapkan barang-barang yang dapat digunakan kembali (reusable);
  2. Hindari membuang-buang makanan;
  3. Batasi memesan makanan, bawa bekal makanan dari rumah;
  4. Gunakan peralatan kantor yang dapat didaur ulang;
  5. Gunakan gelas kaca untuk mengambil kopi/teh;
  6. Bijak dalam penggunaan air dan tisu di toilet;
  7. Menggunakan tempat sampah yang berbeda untuk jenis sampah yang berbeda;
  8. Matikan listrik yang tidak digunakan;
  9. Bijak dalam menggunakan kertas.

PKT Implementasikan ESG

Optimalisasi peran dalam menekan persoalan sampah menjadi salah satu komitmen utama PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) terhadap lingkungan. Direktur Utama PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Rahmad Pribadi menyebut komitmen ini ditunjukan melalui berbagai program dan inovasi sebagai wujud implementasi aspek Environmental, Social and Governance (ESG) secara konsisten dan bertanggungjawab dalam aktivitas bisnis perusahaan.

“Persoalan sampah merupakan salah satu isu global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang sampah terbesar di dunia,” ujar Rahmad, Senin (21/2/2022).

Kondisi ini, lanjut Rahmad, membutuhkan komitmen dan kesinambungan upaya untuk menekan penumpukan sampah yang terus terjadi. Dengan demikian, tak hanya dengan mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah tapi juga peran serta korporasi secara kontinyu.

Salah satu upaya yang dilakukan PKT bersama Pemkot Bontang adalah melalui inisiasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bessai Berinta sejak 2018. TPST Bessai Berinta ini menjadi tempat pemilahan untuk mengurangi volume sampah yang disalurkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Rahmad memaparkan data produksi sampah Kota Bontang saat ini mencapai 80-85 ton perhari. Jika tidak diikuti upaya penanganan serta penanggulangan secara optimal, jumlah sampah ini berpotensi meningkat.

“TPST Bessai Berinta merupakan salah satu upaya PKT mendukung pengurangan jumlah sampah di lingkungan perusahaan maupun Kota Bontang, dengan konsep pemberdayaan masyarakat untuk pengolahan dan pemilahan sampah,” ujar Rahmad.

Program TSPT Bessai Berinta, imbuh Rahmad, digagas sebagai tempat pengolahan sampah terpadu, sekaligus menjadi wadah edukasi pengolahan sampah bagi masyarakat Bontang. Masyarakat pengelola program yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dibekali kemampuan pengelolaan dan pemilahan sampah, didukung teknologi dan perangkat untuk memaksimalkan proses. 

Pengembangan program TPST Bessai Berinta juga langkah PKT memberdayakan masyarakat, khususnya di lima Kelurahan dan satu Kecamatan di Bontang. Di antaranya Kelurahan Tanjung Laut, Tanjung Laut Indah, Gunung Elai, Api-api, Bontang Kuala serta Kecamatan Bontang Utara secara umum.

Program ini juga melakukan pendampingan bagi Bank Sampah Unit (BSU) di tiap Kelurahan Kota Bontang, dengan mendorong masyarakat memilah langsung sampah rumah tangga untuk memperoleh manfaat berupa tabungan, dikonversi dari total sampah yang dikumpulkan setiap hari. 

“Saat ini sudah terdapat 22 BSU di seluruh kelurahan di Bontang dengan produktivitas yang terbilang tinggi untuk jenis sampah organik hingga anorganik,” lanjut Rahmad.

Mulai 2020, implementasi program tersebut ditingkatkan melalui inovasi pengolahan sampah sisa makanan dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF), guna memunculkan nilai ekonomi tambahan dengan target peningkatan produksi yang lebih besar.

“Pengembangan program BSF berhasil membina dua kelompok baru di Kelurahan Loktuan dan Api-api Bontang Utara, serta mampu mengolah 974.538 kg sampah sisa makanan dan 16,69 kg larva maggot dalam satu tahun,” ungkapnya.

Pada tahun 2021, PKT juga membekali pengelola TPST Bessai Berinta dengan peluang pembuatan Dry Maggot sebagai turunan BSF. Dengan demikian, potensi ini bisa dikembangkan pada produk yang lebih bernilai karena mengandung asam amino dan protein yang bisa diekstrak untuk berbagai kebutuhan industri seperti make-up, kompos, pakan ikan hingga pupuk cair

“Pengembangan potensi dry maggot ini juga didukung PKT berupa pengembangan infrastruktur bangunan budidaya maggot, penyediaan sarana prasarana hingga penyediaan kemasan produk dry maggot,” sambungnya.

Melalui bekal yang diberikan, potensi maggot didorong lebih optimal untuk dikelola mulai skala rumahan, menengah hingga industri yang bisa memberi dampak serta nilai ekonomi bagi masyarakat. Hal ini sekaligus memotivasi pengembangan pengolahan limbah organik untuk kepentingan lingkungan, sekaligus upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), karena jika sampah organik dibiarkan cukup lama dapat menghasilkan gas metan yang berpengaruh terhadap ozon.

“Jika inovasi ini diterapkan mulai skala rumah tangga, sampah organik pun dapat lebih ditekan karena bisa diolah sendiri menjadi maggot dan tidak perlu dibuang langsung ke TPA. Hal ini yang terus kami dorong di masyarakat,” tambah Rahmad.

Sejalan dengan tema “Kelola Sampah, Kurangi Emisi, Bangun Proklim” pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022, berbagai kebijakan dalam menekan jumlah sampah khususnya plastik, telah diterapkan PKT sebagai bentuk komitmen Perusahaan menjalankan aktivitas bisnis berbasis lingkungan. Mulai dari mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, meminimalisasi makanan dan minuman dengan kemasan plastik, hingga daur ulang pemanfaatan limbah karung reject menjadi barang bernilai ekonomis. 

Ke depan, penanganan persoalan sampah akan terus diperkuat PKT dengan berbagai langkah konkret, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat secara luas. Hal ini telah menjadi komitmen PKT untuk terus berkontribusi dalam mengembangkan manfaat bagi masyarakat sekaligus upaya mitigasi terhadap perubahan iklim.

“Utamanya membangun kesadaran bersama untuk lebih peduli terhadap sampah, dengan berbagai aksi nyata penyelamatan lingkungan dalam mewujudkan keseimbangan antara profit, people dan planet sebagai salah satu misi perusahaan,” pungkas Rahmad. (*)

Penulis: Tyo