Menjadi petani muda sukses

Keterlibatan Milenial dalam Perkembangan Industri Pertanian Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

POPULASI dan karakter generasi milenial saat ini berperan penting bagi kemajuan berbagai industri, tidak terkecuali pertanian. Namun, sebagai industri yang memiliki peran vital bagi ketahanan pangan dan perekonomian nasional, industri pertanian hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 19,18% dari total 64,92 juta penduduk kelompok usia muda di Indonesia. Angka ini terbilang rendah dibanding dengan sektor manufaktur yang menyerap sebanyak 25% dan sektor jasa sebanyak 55,8%. 

Di era industri 4.0 saat ini, peran generasi milenial pun memiliki potensi besar untuk turut mengembangkan sektor pertanian Indonesia. Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari fakta bahwa mayoritas generasi milenial saat ini merupakan usia produktif prima, dan tumbuh seiring dengan perkembangan internet sehingga lebih mudah mengadopsi penggunaan internet dan teknologi. 

Sebagai salah satu pelaku industri tanah air, yang berkomitmen dalam mendorong pembangunan nasional menjadi lebih baik, PT Pupuk Kalimantan timur (Pupuk Kaltim atau PKT) terus mendorong keterlibatan generasi milenial untuk berkarya di bidang pertanian modern.

Senior Executive Vice President (SEVP) Komersial PT Pupuk Kaltim, Meizar Effendi mengatakan terdapat dua hal yang saat ini menjadi tantangan di industri pertanian modern. Pertama adalah kurangnya partisipasi generasi muda dalam bidang pertanian, dan kedua dibutuhkannya digitalisasi sektor pertanian yang cenderung masih tradisional.  

“Sebagai salah satu pelaku industri, PKT melihat bahwa kedua tantangan ini dapat dijawab melalui pelibatan peranan aktif para milenial di bidang pertanian. Di PKT sendiri juga sudah diterapkan, dimana sebanyak 70% karyawan kami merupakan talenta milenial dan beberapa bahkan diberi kesempatan untuk memegang posisi strategis. Harapannya, dengan diberikannya ruang untuk berinovasi, keberadaan generasi milenial dapat membawa perubahan yang positif,” katanya.

Menumbuhkan Minat Generasi Milenial di Bidang Pertanian

Untuk menjadi negara yang mandiri dalam hal pangan, maka peran petani menjadi sangat sentral. Sayangnya, profesi menjadi petani nampaknya cukup menurun di era digital ini. Millennial, sebagai generasi dengan populasi usia kerja terbanyak kebanyakan lebih memilih menjadi pegawai negeri hingga pegawai perusahaan.

Dalam upaya peningkatan minat milenial untuk terjun di dunia pertanian, maka perlu strategi menumbuhkan minat petani milenial yang menarik. Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Pemanfaatan Teknologi Pertanian

Salah satu faktor yang membuat pertanian menjadi minim minat adalah karena pekerjaan ini dianggap kuno dan minim penggunaan teknologi. Padahal generasi milenial sangat bergantung pada teknologi. Oleh karena itu, inovasi dan penggunaan teknologi dalam pertanian akan sangat memungkinkan pertumbuhan minat milenial menjadi seorang petani.

2. Penjualan Langsung

Salah satu hal yang membuat petani mendapatkan keuntungan kecil adalah karena petani harus melewati berbagai pihak untuk menjual produknya sampai ke pasaran. Hal ini yang membuat harga dari petani dan harga pasaran sering kali berbeda sangat jauh.

Oleh karena itu, perubahan sistem penjualan yang langsung ke tangan pembeli bisa menjadi solusi. Dengan begitu keuntungan petani akan semakin besar dan minat pada sektor tersebut akan semakin meningkat.

3. Pendidikan

Pendidikan pertanian sangat penting, karena selain menumbuhkan petani yang andal juga bisa menumbuhkan perkembangan pertanian di sektor lain, seperti bisnis hingga teknologi. Selain itu, dukungan penelitian pada sektor pertanian juga sangat diperlukan untuk mengembangkan sektor pertanian itu sendiri.

Petani Milenial Miliki Potensi Kembangkan Pertanian dengan Teknologi Digital

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya mengubah wajah sektor pertanian mengandalkan para petani muda dan pemanfaatan teknologi digital.

“Pembangunan pertanian ke depan akan semakin mengandalkan para petani muda dengan teknologi digital, terutama sebagai strategi untuk memperkuat produksi dan distribusi. Agripreneur muda yang melek teknologi adalah potensi dan mitra strategis memecahkan kendala distribusi serta lemahnya akses pasar petani selama ini,” tutur Mentan SYL.

Syahrul menjelaskan naiknya jumlah pemuda di sektor pertanian pada masa pandemi dapat menjadi momentum tepat untuk memperluas adopsi teknologi di sektor pertanian. Sebanyak 85,62 persen di antara mereka merupakan pengguna internet dan berpeluang menjadi early adopter dari teknologi digital di sektor pertanian. 

Untuk itu, Kementan melibatkan generasi milenial dalam pembangunan sektor pertanian yang telah menjadi bagian dari Rencana Strategis Kementerian Pertanian (Renstra Kementan) 2020-2024. Contohnya melalui program bootcamp bertajuk Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Bersama pelaku industri seperti PKT, program bootcamp tersebut diadakan guna mencetak pengusaha tani muda di seluruh Indonesia sebagai upaya regenerasi serta meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor pertanian. 

Setidaknya, terdapat 3 aspek yang akan sangat terbantu oleh peran generasi milenial dalam industri pertanian modern: 

Pertama, pengembangan teknologi pertanian presisi. Sebagai generasi yang melek teknologi, generasi milenial dinilai dapat turut serta dalam upaya-upaya pengembangan sistem pertanian presisi berbasis teknologi. Di saat tantangan industri pertanian atas kebutuhan pangan yang terus meningkat namun terbatas luas lahan dan sumber daya, pertanian presisi sangat dibutuhkan untuk menjamin akurasi, presisi, keaslian, dan transparansi dalam menghitung permintaan dan pasokan secara optimal.

Salah satu contoh dari program pertanian presisi yang dimiliki PKT antara lain adalah sistem PreciPalm (Precision Agriculture Platform for Oil Palm) sistem berbasis satelit yang dikembangkan bersama dengan tim ilmuwan Indonesia dari Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan produktivitas hasil pertanian kelapa sawit secara sustainable dalam jangka panjang.

Kedua, pengembangan teknologi pada mata rantai pertanian. Pertanian tidak selalu identik dengan kegiatan di ladang. Keengganan generasi milenial untuk berperan serta pada kegiatan tani langsung di ladang dapat diatasi dengan memberikan mereka peranan terhadap pengembangan sisi hulu dan hilir pertanian, seperti pengembangan proses penjualan atau memasok produk pangan pertanian melalui e-commerce.

Dengan akses terhadap teknologi informasi, generasi milenial memiliki potensi untuk membangun jejaring serta menghubungkan pemasok-petani-pelanggan secara digital, seperti dengan penggunaan platform e-commerce.

Ketiga, pengembangan pengelolaan ekonomi desa pertanian. Memiliki pendidikan dan keterampilan dalam memahami teknologi informasi, generasi milenial yang memilih untuk tinggal di pedesaan juga dapat berperan serta dalam pengembangan dan manajemen kelembagaan ekonomi petani pedesaan berbasis korporasi, baik itu berbentuk perseroan terbatas, Commanditaire Vennootschap (CV), ataupun koperasi.

Di bawah naungan korporasi tingkat desa ini, nantinya petani atau kelompok tani dapat mengakses pengembangan pembiayaan pertanian, penyediaan sarana produksi, penyediaan alat dan mesin pertanian, juga pengembangan bisnis yang lebih menguntungkan para petani.

Salah satunya, melalui rangkaian program pembinaan petani muda yang telah dicanangkan perusahaan seperti Program PKT Menyapa Petani dan Program Makmur. Kedua program ini mengutamakan kolaborasi kemitraan antara berbagai pihak, seperti petani, instansi keuangan, instansi pemerintahan, hingga korporasi untuk membentuk ekosistem kondusif bagi petani.

Penulis: Tyo