Alat pendeteksi kebakaran hutan

Mengenal Alat Pendeteksi Kebakaran agar Hutan Tetap Sehat

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Indonesia memiliki 70% daratannya adalah hutan. Namun sayangnya sepanjang tahun 2002- 2022 Indonesia telah kehilangan 9,75 juta hektar lahan hutan primer. Hal ini setara dengan 36% lahan tutupan pohon dalam periode yang sama. Deforestasi hutan atau kehilangan lahan hutan yang dialami oleh Indonesia diakibatkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia. 

Kebakaran hutan yang disengaja ataupun tidak disengaja menjadi faktor terbesar berkurangnya hutan pohon di Indonesia. Perluasan lahan sawit, perluasan lahan pertanian masyarakat di pinggiran hutan, dan eksplorasi lahan pertambangan adalah penyebab terus tergerusnya lahan hutan primer. Kehilangan lahan terbesar Indonesia terjadi pada tahun 2016 yang mana 928,66 ribu hektar lahan telah hilang. 

Daerah Rawan Kebakaran Hutan

Pada musim kemarau, Indonesia sering kali mengalami kebakaran hutan yang sangat berdampak pada kehidupan. Kerusakan hutan yang diakibatkan oleh kebakaran akan menimbulkan kerusakan ekosistem, dan tentu saja akan menjadi polusi udara karena tercemar oleh asap kebakaran hutan. Di Indonesia ada beberapa wilayah yang rawan mengalami kebakaran hutan. Beberapa provinsi yang rawan akan kebakaran hutan adalah:

  • Aceh
  • Sumatera utara
  • Riau
  • Jambi
  • Sumatera Selatan
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Papua
  • Nusa Tenggara Timur
  • Nusa Tenggara Barat

Daerah- daerah diatas pada saat musim kemarau rawan akan terjadinya kebakaran hutan. Titik panas pada setiap provinsi akan meningkat karena diperikrakan curah hujan pada tahun 2022 akan berkurang. Untuk mengantisipasi kebakaran hutan pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan berbagai upaya. 

Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah seperti penyebarluasan keberadaan titik hotspot sebagai indikator terjadinya kebakaran hutan. Pemerintah melakukan pemantauan dengan menggunakan satelit Terra- Aqua MODIS, NOAA 20, SNPP, dan Landsat-8 yang dipantau lewat website sipongi.menlhk.go.id. Selanjutnya adalah peningkatan patroli yang dilakukan oleh TNI-Polri, Polisi Kehutanan, Aparat Desa, dan LSM Api. Upaya lain seperti perbaikan dan penataan lahan gambut juga dilakukan. Teknologi Modifikasi Cuaca juga dilakukan, di mana langkah ini terbilang berdampak signifikan.

Dengan TMC persentase penambahan curah hujan meningkat di beberapa daerah. Selanjutnya pemerintah juga melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dengan memasang alat pendeteksi kebakaran.

Alat Pendeteksi Kebakaran Hutan

Pemerintah melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dengan memasang alat pendeteksi kebakaran. Pemerintah melakukan pemasangan 7 alat pendeteksi kebakaran hutan di daerah- daerah yang rawan mengalami kebakaran hutan. Alat pendeteksi dini kebakaran hutan yang dipasang biasa disebut dengan Early Warning System (EWS).

WWF memperkirakan dengan pemasangan alat pendeteksi dini ini dapat memprediksi area lahan dalam radius 10 km.  dengan adanya pemasangan alat tersebut, lahan bisa dipantau setiap saat. EWS akan mendeteksi dan memberikan laporan ke data logger, dan selanjutnya akan mengirimkan data di lapangan ke concentrator. Data tersebut yang nantinya akan diolah dan hasilnya bisa diakses oleh publik melalui internet. 

Selain mendeteksi potensi kebakaran hutan, EWS juga dapat mendeteksi kelembaban udara, tanah, suhu udara, curah hujan, hingga ketinggian permukaan di lahan. Secara umum alat pendeteksi ini dipasang agar dapat mendeteksi kondisi lingkungan sebelum terjadinya kebakaran hutan. 

Penulis: Fitri