Mangrove Trees

Upaya Melestarikan Hutan Mangrove untuk Ciptakan Indonesia Tanpa Emisi Karbon 2060

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Dalam dua dekade terakhir, istilah emisi karbon sangat familiar di telinga kita. Istilah ini muncul beriringan dengan topik-topik perubahan iklim lainnya seperti efek rumah kaca, krisis iklim dan jejak karbon. Sebagai generasi yang hidup di tengah krisis iklim, masa depan bumi semakin bergantung pada tindakan kita sekarang. 

Jejak karbon merupakan jumlah total gas rumah kaca (termasuk karbon dioksida dan metana) yang dihasilkan oleh tindakan kita. Menurut WHO, jejak karbon adalah ukuran dampak aktivitas kita terhadap jumlah karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan melalui pembakaran bahan bakar fosil dan dinyatakan sebagai berat emisi CO2 yang dihasilkan dalam ton. 

Jejak karbon biasanya diukur selama periode satu tahun, dan mereka dapat dikaitkan dengan individu, organisasi, produk, atau peristiwa. Gas rumah kaca yang jumlahnya menghasilkan jejak karbon dapat berasal dari produksi dan konsumsi bahan bakar fosil, makanan, barang manufaktur, bahan, jalan, atau transportasi. 

Penyebab Jejak Karbon

Aktivitas manusia dapat menimbulkan jejak karbon seperti penggunaan kendaraan, penggunaan energi listrik yang berlebihan dan konsumsi makanan. Bagaimana bisa? Mari kita bahas satu per satu:

1. Penggunaan kendaraan

Kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil seperti bensin, solar, atau gas akan menghasilkan jejak karbon dari proses pembakaran bahan bakar tersebut. Bepergian menggunakan kendaraan pribadi artinya kita berkontribusi untuk menghasilkan lebih banyak gas emisi (CO2).

Apalagi jika kita terjebak macet, dimana mesin kendaraan menjadi panas dan melepas gas emisi ke udara. Naik kendaraan sendiri memang bagus, namun jika menambah lebih banyak jejak karbon gimana?

2. Penggunaan energi listrik 

Penggunaan energi listrik untuk keperluan sehari-hari misalnya seperti TV, AC, lampu, kulkas, mesin cuci, microwave dan berbagai peralatan listrik lainnya dapat menghasilkan gas emisi yang berasal dari pembakaran bahan fosil pada pembangkit listrik.

Begitupun dengan penyalahgunaan air, dibutuhkan banyak energi untuk mengelola air bersih agar bisa digunakan. Tetapi kita malah sering membuang atau menyalahgunakan air bersih.

3. Konsumsi makanan

Makanan yang kita konsumsi juga menjadi salah satu sumber gas emisi, terutama jika makanan tersebut berpotensi menjadi gunungan sampah. Mulai dari ekstraksi bahan baku, proses produksi, proses distribusi, hingga barang tersebut sampai di tangan kita.

Misalnya bagi kalian yang suka makan daging sapi, jejak karbon yang dihasilkan sangat tinggi. Karena daging sapi merupakan salah satu penghasil gas emisi terbesar di dunia. Belum lagi bila dagingnya harus didatangkan dari luar negeri, seperti USA, Jepang, atau Australia.

Atau contoh lainnya, 1 kg kopi yang berasal dari luar negeri juga menghasilkan jejak karbon sebesar 4.82 kg. Hal ini disebabkan oleh proses perkebunan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga akhirnya kopi tersebut diseduh.

Upaya PKT Serap Jejak Karbon

Upaya untuk menciptakan Indonesia bebas dari emisi karbon pada tahun 2060 (net zero emission) membutuhkan langkah nyata berdampak dari berbagai pihak, terutamanya pelaku industri. Selain menekan emisi dari hasil produksi, langkah penghijauan juga harus diakselerasi guna mencapai target tersebut.

Mangrove diketahui memiliki laju penyerapan karbon yang tinggi. Riset dari Center for International Forestry Research (CIFOR) mencatat penyerapan karbon oleh hutan mangrove lebih tinggi 300 persen-500 persen dibandingkan serapan pada ekosistem hutan terestrial. 

Langkah penyerapan karbon lewat konservasi hutan mangrove telah dilakukan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sejak tahun 2009. Mendukung target yang ditetapkan pemerintah untuk Indonesia, PKT mengakselerasi langkah penghijauan ini dengan memperluas area lahan hingga 20 hektar di akhir tahun lalu. Sampai saat ini, telah tertanam bibit mangrove sejumlah 335 ribu pohon yang tersebar di area konservasi PKT.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi, mengungkapkan konsistensi dan keberlanjutan adalah cara Pupuk Kaltim menjaga lingkungan dan ekosistem agar generasi mendatang tetap bisa menikmati sumber daya alam, serta kualitas lingkungan yang baik. Konservasi hutan mangrove yang diinisiasi PKT sudah memasuki tahun ke-11.

“Setiap tahunnya luas area dan jumlah bibit pohon yang kami tanam ditambah, untuk memperluas area hutan mangrove di pesisir Bontang, agar serapan karbon dapat memberikan dampak yang signifikan,” ujarnya.

Program yang diinisiasi oleh Departemen Lingkungan Hidup Pupuk Kaltim ini berlokasi di dekat pantai. Awalnya, program ini dilakukan di area Kedindingan dengan kegiatan pembibitan dan penanaman mangrove. 

Selanjutnya PKT juga bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk menjaga agar tidak terjadi deforestasi mangrove dengan memberlakukan pengawasan khusus dan menetapkan status Kawasan Konservasi pada area perairan yang dikerjakan PKT. Hingga akhir 2021 lalu, Pupuk Kaltim berhasil menanam 335.167 bibit mangrove dan tersebar di dua lokasi yakni Kedindingan dan Loktuan, Bontang.

Setiap tahun, Pupuk Kaltim menanam 17 ribu hingga 25 ribu bibit mangrove. Pada tahun 2015, program ini mampu memenuhi seluruh luasan kawasan perairan Kedindingan, dengan total 152 ribu bibit. Mulai 2016, penanaman mangrove dikembangkan ke kawasan baru, yakni area Hak Guna Bangunan (HGB) 65 di Kelurahan Loktuan Bontang Utara Kota Bontang, dengan penanaman antara 20 ribu sampai 25 ribu per tahun, hingga mencapai 183.167 bibit di tahun 2021.

Dalam prosesnya, PKT juga menggandeng beberapa organisasi dan masyarakat sekitar guna memastikan pertumbuhan pohon mangrove yang baik. Pasalnya, semakin dewasa usia pohon mangrove maka semakin banyak serapan dan karbon yang disimpan, sehingga pertumbuhan dari bibit sangatlah penting diperhatikan. Sejak 2019 lalu, di area HGB 65, PKT menggandeng Kelompok Tani Telok Bangko yang merupakan kelompok penggiat konservasi mangrove.

Kelompok Telok Bangko sendiri beranggotakan 16 anggota yang mayoritas merupakan masyarakat dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Sehingga, diharapkan dengan digandengnya dalam kegiatan ini juga dapat memberikan manfaat secara sosial dan ekonomi bagi mereka.

Terdapat berbagai jenis mangrove yang dikembangkan, di antaranya adalah Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera sexangula, Ceriops tagal dan Avicennia marina. Rhizopora apiculata sendiri merupakan jenis yang dipercaya menyerap lebih tinggi jejak karbon dibandingkan jenis lainnya.

Atas usahanya menjaga lingkungan dan menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik bagi masyarakat sekitar perusahaan, Pupuk Kaltim telah mendapatkan penghargaan Proper Nasional Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kelima kalinya pada 2021.

“Ke depan, PKT berkomitmen untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dalam operasional perusahaan. Komitmen ini merupakan bagian dari roadmap 40 tahun mendatang Pupuk Kaltim, yang berorientasi pada sumber daya terbarukan, sejalan dengan upaya mendukung pemerintah dalam mewujudkan net zero emission pada tahun 2060 mendatang,” tutup Rahmad.

Penulis: Tyo