Peran Industri Pupuk dalam Mendorong Konsumsi Pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Industri pupuk berperan penting dalam mendorong konsumsi pangan di Indonesia. Karena itu, di tengah pandemi Covid-19, produsen pupuk Tanah Air terus menggenjot produksi untuk memenuhi kebutuhan pupuk sektor pertanian.

Sebagai salah satu faktor penopang pertanian, industri pupuk ternyata termasuk sektor ekonomi yang mampu terhindar dari goncangan pandemi. Sebagaimana terjadi pada PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero). Meski pandemi, kegiatan produksi dan distribusi tetap berjalan lancar  memenuhi kebutuhan para petani.

Menurut Direktur Keuangan dan Umum PKT Qomaruzzaman, pada dasarnya setiap orang butuh makan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, pupuk diperlukan untuk meningkatkan produktivitas petani. Dengan demikian, kebutuhan pupuk tetap terus ada meskipun ada pandemi.

“Jadi kalau secara bisnis, bisnis lain-lain memang kemungkinan menurun ya, tapi bisnis di bidang pangan, alhamdulillah yang namanya pangan, semua orang butuh makan. Sehingga dari sisi produksi, dari sisi operasional itu sepertinya tidak gangguan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar karena dari sisi kebutuhan para petani tetap berjalan normal, kan petani tetap aja nanam, panen dan seterusnya,” ungkap Qomaruzzaman beberapa waktu lalu, dikutip dari detikcom.

Produksi PKT Lampaui Target, 2021 Jadi Tahun Terbaik

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengungkapkan hal serupa, menurutnya meski dihadapkan pada berbagai tantangan dalam 1 tahun terakhir, namun perusahaan tetap menunjukkan performa dan kinerja maksimal sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Bahkan tahun 2021 menjadi tahun terbaik dalam perjalanan 40 tahun pertama pertumbuhan PKT, yang mampu mencapai kinerja maksimal di atas target RKAP. 

Tercatat hingga 28 Desember 2021, produksi Amoniak PKT mencapai 105% atau 2,91 juta ton, dari target 2,78 juta ton dan produksi Amoniak DDJ mencapai 109% atau 850 ribu ton dari target 777 ribu ton. 

Selanjutnya produksi Urea mencapai 103% atau sebesar 3,53 juta ton dari target 3,41 juta ton, sedangkan produksi NPK mencapai 76% atau 215 ribu ton dari target 281 ribu ton.

“Ini menjadi kebanggaan besar bagi PKT untuk keluar sebagai pemenang, dengan tetap menunjukkan performa dan kinerja maksimal berdasarkan capaian yang telah diraih pada tahun ini,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi yang dirilis Senin, 3 Januari 2022.

Ia menambahkan, untuk memperkokoh dominasi pada industri petrokimia berbasis gas alami, PKT terus melakukan pengembangan industri kimia berbasis renewable resources, sekaligus memperkuat posisi di sektor agriculture melalui pengembangan agri-input, crop protection dan agri-services

Sejumlah langkah strategis disiapkan guna memastikan perusahaan terus tumbuh dan berkembang di fase kedua perjalanan PKT. Mulai dari peningkatan kapasitas pabrik dan produksi, peningkatan kinerja ekspor, ekspansi dan diversifikasi usaha, penetrasi pasar domestik dan global, hingga pengembangan portofolio bisnis melalui aksi korporasi lainnya. 

“PKT akan terus fokus pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas, dengan berbagai langkah konkret untuk memperbaiki proses bisnis, guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja di setiap proses,” lanjut Rahmad. 

Menghadapi tantangan 2022, transformasi bisnis menjadi upaya nyata PKT dengan menetapkan langkah strategis dalam mendukung optimalisasi dan efisiensi kinerja. Peningkatan produktivitas dan realisasi target diselaraskan dengan proyeksi tren masa depan, sehingga Perusahaan mampu mengoptimalkan peluang demi keberlangsungan bisnis secara berkesinambungan. 

“Hal ini menjadi landasan untuk penciptaan masa depan baru PKT, agar mampu mengantisipasi segala tantangan, menangkap peluang dan terus tumbuh di masa depan,” pungkas Rahmad. 

Kunci Keberhasilan Pupuk Indonesia Group

Kinerja positif PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) memberikan kontribusi terhadap keberhasilan PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam mencapai target produksi. Total realisasi produksi pupuk BUMN pada 2021 mencapai 12.235.419 ton. Angka tersebut setara 100,01 persen dari rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) yang ditetapkan 12.234.000 ton. 

Direktur Produksi Pupuk Indonesia, Bob Indiarto mengatakan bahwa total produksi pupuk yang mencapai 12.235.419 ton ini terdiri dari Urea sebesar 7.967.817 ton, NPK sebesar 3.169.247 ton, SP-36 sebesar 325.137 ton, ZA sebesar 759.194, ZK sebesar 14.024 ton. 

“Pencapaian ini berkat kerja keras para insan Pupuk Indonesia Grup yang selalu menjaga pabrik agar beroperasi secara optimal,” kata Bob Indiarto dalam keterangan resminya, Senin, 10 Januari 2022

Adapun, total realisasi produksi pupuk tersebut berasal dari PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Kalimantan Timur, dan PT Pupuk Iskandar Muda. 

Bob Indiarto menjelaskan salah satu kunci keberhasilan Pupuk Indonesia Group mencapai target produksi di tahun 2021 karena mengimplementasikan manufacturing excellence dan sistem digital fertilizer guna memonitor seluruh aspek kinerja pabrik serta menunjang kinerja produksi seperti peningkatan efisiensi bahan baku dan biaya pemeliharaan, meningkatkan reliability, serta menurunkan angka shutdown di pabrik. 

Selain pupuk, lanjut Bob, Pupuk Indonesia Grup juga berhasil mencatatkan produksi nonpupuk sebesar 7.285.533 ton di tahun 2021. Angka ini setara 101,82 persen dari RKAP yang ditetapkan 7.155.250 ton. Adapun riniciannya amoniak 6.149.001 ton, asam sulfat 881.602 ton, asam fosfat 191.924 ton, ALF3 7.273 ton, HCL 15.878 ton, dan CO2 39.855 ton. 

“Dengan begitu, total produksi Pupuk Indonesia Grup baik pupuk maupun nonpupuk mencapai 19.520.950 ton atau 100,68 persen dari target 19.389.250 ton,” ungkapnya.

Dengan capaian tersebut, Bob mengapresiasi lima anak perusahaan Pupuk Indonesia yang telah menjaga produktivitas di setiap tahunnya. “Ke depan kita akan tetap meningkatkan produktivitas demi mendukung program ketahanan pangan nasional,” tandasnya.

PKT Pastikan Stok Pupuk di 2022 Aman

PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) pastikan kesiapan stok pupuk bersubsidi bagi petani di seluruh wilayah tanggung jawab distribusi perusahaan dengan jumlah yang mencukupi. Sejak awal 2022, PKT telah menyalurkan pupuk bersubsidi melalui jaringan distributor dan kios di seluruh daerah tanggungjawab distribusi, sesuai kebutuhan alokasi yang ditetapkan pemerintah.

Saat ini, PKT memiliki tanggung jawab distribusi untuk 2 jenis pupuk bersubsidi, yakni Urea Subsidi Pupuk Indonesia dan NPK Bersubsidi Formula Khusus (Kakao).

Tanggung jawab distribusi Urea Subsidi PKT mencakup wilayah Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan seluruh wilayah Sulawesi yang terdiri dari Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawsi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Gorontalo. Sedangkan untuk NPK Bersubsidi Formula Khusus (Kakao) mencakup Seluruh Wilayah Indonesia.

Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi mengungkapkan, sejak 1–16 Januari 2022, PKT telah menyalurkan 12.769 ton urea bersubsidi dari total alokasi 727.528 ton untuk tahun 2022 sesuai Permentan.

“Sementara NPK Subsidi Formula Khusus yang telah disalurkan sebanyak 81 ton dari total alokasi 11.469 ton, terdiri dari 30 ton di Sulawesi Selatan dan 51 ton di Sulawesi Tenggara,” ujar Rahmad dikutip Senin, 27 Februari 2022.

Rahmad menambahkan, untuk kondisi gudang, stok urea subsidi di lini 2 dan 3 mencapai 98.215 ton, ditambah ketersediaan 323.672 ton urea non subsidi. Begitu juga NPK subsidi Formula Khusus tersedia 1.813 ton, ditambah 4.480 ton NPK nonsubsidi. Jumlah tersebut berada di atas batas aman untuk kebutuhan petani hingga Februari 2022.

Rahmad memastikan ketersediaan stok di gudang PKT hingga distributor dan kios selalu terjaga melalui pengiriman sesuai kebutuhan pupuk di setiap daerah secara berkala sesuai prinsip 6T.

“Dengan mempertimbangkan stok dan kapasitas produksi yang ada, PKT optimistis mampu memenuhi kebutuhan pupuk sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

Menurut Rahmad, jumlah pasokan yang disiapkan PKT sejauh ini disesuaikan dengan alokasi yang didasari Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK) di setiap daerah, sebagai acuan penebusan pupuk oleh petani yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah. 

Begitu juga untuk langkah pengamanan distribusi pupuk subsidi, PKT terus melakukan koordinasi dengan distributor, PPL, KP3 dan Pemerintah daerah setempat agar alokasi pupuk yang disalurkan tepat sasaran.

Di samping itu, ketersediaan pupuk nonsubsidi di lini 2 dan 3 juga sebagai langkah PKT untuk mengantisipasi kebutuhan petani yang tidak tercantum dalam E-RDKK, dengan menganjurkan setiap distributor menyediakan pupuk nonsubsidi di masing-masing kios, agar petani yang tidak memperoleh alokasi pupuk subsidi dapat memanfaatkan jenis non subsidi untuk kebutuhan pertanian di masing-masing wilayah.

“PKT terus berupaya agar pupuk bersubsidi teralokasi dengan tepat sasaran, serta mampu memenuhi kebutuhan petani yang tidak masuk dalam E-RDKK dengan penyediaan pupuk non subsidi. Seluruh upaya tersebut direalisasikan dengan penyediaan stok secara optimal untuk seluruh wilayah distribusi PKT,” lanjut Rahmad.

Guna memantau proses distribusi dan pasokan, Pupuk Indonesia beserta PKT juga menerapkan teknologi Distribution Planning and Control System (DPCS) yang terintegrasi dengan seluruh anak usaha Pupuk Indonesia. Teknologi ini didesain untuk melakukan kontrol rantai pasok distribusi pupuk bersubsidi yang optimal dan aman sepanjang tahun, mulai dari pusat produksi hingga lini 4.

Penggunaan DPCS memudahkan Pupuk Indonesia dan PKT dalam melalukan monitoring proses pengiriman pupuk dari pabrik di Bontang ke seluruh gudang di daerah, dengan menampilkan data lini 1 hingga 4 secara realtime, termasuk pupuk dalam perjalanan (intransit) dan status pelabuhan.

Data yang tersaji dalam sistem DPCS juga meliputi penjualan, alokasi di setiap daerah, kapasitas gudang, posisi pupuk yang dalam perjalanan baik darat maupun laut, kontak staf pemasaran di masing-masing wilayah, distributor, pengecer serta informasi rinci lainnya.

“Dengan sistem ini, Pupuk Indonesia dan PKT dapat setiap saat memonitor kegiatan distribusi dan stok di lapangan, guna meminimalisir potensi kekurangan pupuk di daerah, serta meningkatkan akurasi perencanaan distribusi,” pungkas Rahmad.

Penulis: Eva