Peran Transportasi dalam Kelancaran Penyaluran Pupuk Subsidi

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Pemerintah menganggarkan dana subsidi pupuk sebesar Rp 25,3 triliun dalam APBN 2022. Nilai tersebut porsinya mencapai 34,7% dari total subsidi non-energi tahun ini yang sebesar Rp 72,9 triliun. Kendati begitu, anggaran subsidi pupuk tahun ini turun 13,06% dari 2021 (outlook) senilai Rp 29,1 triliun.

Besaran dana subsidi pupuk berfluktuasi. Realisasi belanja subsidi pupuk pada 2016 sebesar Rp 26,85 triliun dan terus mengalami peningkatan menjadi Rp 34,31 triliun pada 2019. Namun pada 2020 turun menjadi Rp 31,1 triliun.

Agar lebih tepat sasaran, pemerintah melakukan verifikasi dan validasi dan penerima subsidi pupuk yang diselaraskan dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui sistem elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK). Pemerintah juga memperluas mekanisme penebusan subsidi pupuk melalui Kartu Tani.

Jaksa Agung ST Burhanuddin meminta kepada seluruh jajarannya untuk mencermati setiap proses distribusi pupuk bersubsidi apakah tepat sasaran. Burhanuddin juga meminta jajarannya di daerah agar segera menindak apabila ada pihak-pihak yang mencoba bermain terkait pupuk subsidi.

Anggaran subsidi pupuk memang cukup besar sehingga dibutuhkan pengawasan yang lebih ketat dan transparan agar penggunaan uang negara tersebut tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan. Hal ini diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, khususnya masyarakat  golongan miskin dan rentan terhadap gejolak perekonomian.

Pupuk Indonesia Memperkuat Kemampuan Distribusi

PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan pendistribusian pupuk bersubsidi dengan angkutan pupuk, baik melalui laut dan darat guna memenuhi ketersediaan stok pupuk bersubsidi di tingkat distributor dan kios resmi, berjalan lancar.

Direktur Pemasaran Pupuk Indonesia Gusrizal menyatakan salah satu faktor utama yang turut mempengaruhi kondisi stok pupuk bersubsidi adalah ketersediaan armada transportasi. Oleh karena itu, Pupuk Indonesia turut memperkuat kemampuan distribusi di tengah meningkatnya permintaan armada transportasi akibat ekonomi yang berangsur membaik pasca pandemic COVID-19. 

“Selain pemulihan ekonomi, faktor lainnya adalah adanya peningkatan target produksi sejumlah komoditas dari berbagai korporasi besar,” kata Gusrizal saat mengunjungi Unit Pengantongan Pupuk (UPP) dan Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar, Sabtu (19/2).

Kenaikan target produksi tersebut juga didorong oleh faktor kenaikan harga komoditas dunia seperti batu bara, nikel, tembaga, dan sebagainya, yang harganya sempat mencapai puncak tertinggi pada tahun 2021. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya permintaan angkutan transportasi di dalam negeri, mengingat harga komoditas dunia pada tahun 2022 dinilai masih akan sangat tinggi. 

Karena itu, imbuhnya, Pupuk Indonesia akan memperkuat dan meningkatkan koordinasi Bersama mitra transportasi, diantaranya dengan menerapkan system time charter untuk jasa angkutan darat dan laut. Dengan sistem itu, Pupuk Indonesia mendapat kepastian yang didasarkan pada kerja sama angkutan dengan ketentuan waktu tertentu. 

Dengan begitu, lanjut Gusrizal, pendistribusian pupuk bersubsidi dapat terpenuhi sesuai kebutuhan sehingga perusahaan dapat meminimalkan risiko keterbatasan angkutan di tengah melonjaknya permintaan angkutan barang.

Pupuk Indonesia juga turut meminta dukungan dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengutamakan pendistribusian pupuk bersubsidi. Karena pupuk merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan petani untuk menghadapi musim tanam dan demi ketahanan pangan nasional. 

Saat ini, Pupuk Indonesia sendiri telah memiliki fasilitas distribusi eksisting yang cukup kuat. Diantaranya 15 Unit Pengantongan Pupuk (UPP), 6 unit Distribution Center (DC), 4 buah dermaga, 203 unit kapal laut, kurang lebih 6.151 truk, 595 gudang dengan kapasitas 3,1 juta ton, dan jaringan kios resmi berjumlah 29.169 unit yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. 

Adapun jumlah pupuk bersubsidi yang harus disalurkan oleh Pupuk Indonesia berdasarkan Kepmentan No. 771 Tahun 2021 adalah sebesar 9,1 juta ton dan 1,87 juta liter pupuk organik cair. Hingga pertengahan Februari 2022, Pupuk Indonesia sendiri telah menyalurkan sebesar 1 juta ton, serta memiliki stok di tingkat produsen dan distributor sebesar 1 juta ton. 

“Selain itu, kami juga menyediakan stok pupuk non-subsidi atau komersil. Sehingga kami merasa perlu untuk memastikan kelancaran distribusinya,” jelas Gusrizal.

Target Produksi PKT

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim/PKT) menorehkan kinerja positif di tahun kedua pandemi Covid-19 yang diwarnai ketidakpastian. Bahkan, tahun 2021 menjadi tahun terbaik dalam perjalanan 40 tahun pertama pertumbuhan PKT, yang mampu mencapai kinerja maksimal di atas target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). 

Tercatat hingga 28 Desember 2021, produksi Amoniak PKT mencapai 105% atau 2,91 juta ton dari target 2,78 juta ton dan produksi Amoniak DDJ mencapai 109% atau 850.000 ton dari target 777.000 ton. Selanjutnya, produksi Urea mencapai 103% atau sebesar 3,53 juta ton dari target 3,41 juta ton, sedangkan produksi NPK mencapai 76% atau 215.000 ton dari target 281.000 ton. 

“Ini menjadi kebanggaan besar bagi PKT untuk keluar sebagai pemenang, dengan tetap menunjukkan performa dan kinerja maksimal berdasarkan capaian yang telah diraih pada tahun ini,” ujar Direktur Utama PKT Rahmad Pribadi, dikutip Minggu (2/1/2022). 

Guna memperkuat dominasi pada industri petrokimia berbasis gas alami, PKT terus melakukan pengembangan industri kimia berbasis renewable resources, sekaligus memperkuat posisi di sektor agriculture melalui pengembangan agri-input, crop protection dan agri-services. 

Menurut Rahmad, sejumlah langkah strategis disiapkan untuk memastikan perusahaan terus tumbuh dan berkembang di fase kedua perjalanan PKT. Mulai dari peningkatan kapasitas pabrik dan produksi, peningkatan kinerja ekspor, ekspansi dan diversifikasi usaha, penetrasi pasar domestik dan global, hingga pengembangan portofolio bisnis melalui aksi korporasi lainnya.

“PKT akan terus fokus pada peningkatan produktivitas dan profitabilitas, dengan berbagai langkah konkret untuk memperbaiki proses bisnis, guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja di setiap proses,” paparnya. 

Sementara itu dalam menghadapi tantangan di 2022, perseroan menjalankan transformasi bisnis dengan menetapkan langkah strategis dalam mendukung optimalisasi dan efisiensi kinerja. Peningkatan produktivitas dan realisasi target diselaraskan dengan proyeksi tren masa depan, sehingga perusahaan mampu mengoptimalkan peluang demi keberlangsungan bisnis secara berkesinambungan.

“Hal ini menjadi landasan untuk penciptaan masa depan baru PKT, agar mampu mengantisipasi segala tantangan, menangkap peluang dan terus tumbuh di masa depan,” tambah Rahmad.

Penulis: Tyo