cara menanam porang

Petani Milenial Ini Sukses Bertani Porang, Apa Rahasianya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Tanaman porang kini tengah naik seiring meningkatnya permintaan ekspor umbinya. Karena dinilai cukup menjanjikan, banyak petani milenial tertarik membudidayakan komoditas umbi-umbian tersebut. Salah satunya Yoyok Triyono, petani porang asal Madiun.

Yoyok mengatakan beberapa tahun terakhir semakin banyak pemuda di Madiun yang berminat menjadi petani porang. Padahal sebelumnya, kecenderungan pemuda di sana akan pergi mencari kerja ke kota setelah lulus sekolah. 

“Kalau zaman dulu, lulus sekolah cari kerja di kota. Kalau sekarang tidak, Pak. Lulus sekolah jadi petani porang, tiga tahun berjuang bertani porang, setelah tiga tahun bawa pulang mobil,” ujar Yoyok kepada Presiden Jokowi saat kunjungan kepala negara ke PT Asia Prima Konjac, Madiun, Jawa Timur, Kamis, 19 Agustus 2021 lalu, dikutip dari Tempo.co.

Yoyok yang merupakan generasi ketiga di keluarganya yang menanam porang itu mengaku mulai menanam komoditas ini sejak 2010. Awalnya, ia hanya memiliki lahan seluas 0,3 hektare yang merupakan warisan dari ayahnya. Kini lahan Yoyok bertambah luas hingga tiga hektare.

Menurut Yoyok, tanaman porang cukup mudah dibudidayakan. Selain itu, dukungan pemerintah juga cukup membantu para petani. Salah satunya, Kementerian Pertanian telah merilis varietas Madiun 1 pada tahun 2020 lalu dan para petani sebagai penangkarnya.

“Jadi berbudidaya porang tanam sekali, bisa dipanen tahun kedua atau tahun ketiga. Setelah itu bertahap setiap tahun tanpa harus tanam lagi,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan petani porang milenial lainnya, Didi Kuswandi. Menurut Petani asal Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun itu, berkat kesuksesan petani porang, kini banyak generasi milenial yang pandangannya terhadap petani telah berubah.

Keuntungan menggiurkan dari budidaya tanam porang juga dipaparkan oleh Warsito, seorang petani dari lereng Gunung Wilis. Ia menjelaskan dari satu hektare lahan dapat diperoleh 15 hingga 20 ton umbi porang dalam rentang waktu tanam 8 bulan. Bila dirupiahkan, nilai penjualan bisa mencapai Rp35 – Rp40 juta.

Mendengar kisah sukses petani milenial itu, Presiden Joko Widodo berpesan agar jangan puas dengan bertani saja. Ia berharap, ke depan Indonesia dapat mengekspor porang dalam bentuk olahan sehingga nilai jual produk akan meningkat.

“Jangan sampai nanti yang mengolah itu di Jepang, atau di Cina, atau di Korea Selatan, atau di Eropa, nggak. Kita harus mengolah sendiri, ada hilirisasi, ada industrialisasi, sehingga nilai tambah betul-betul ada di dalam negeri,” tandas Presiden.

Mengenal Tanaman Porang

Porang adalah tanaman umbi-umbian yang mempunyai nama ilmiah Amorphophallus Muelleri Blume. Di beberapa daerah, tanaman ini dikenal dengan nama iles-iles, iles kuning, acung atau acoan.

Dilansir dari laman Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, porang merupakan tanaman asli Indonesia dan sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat. Bahkan pada zaman penjajahan Jepang, masyarakat di sekitar hutan dipaksa untuk mencari porang guna keperluan bahan pangan dan industri.

Manfaat porang, terutama umbinya, digunakan untuk bahan baku pembuatan tepung konjak atau tepung glukomanan. Tepung ini yang kemudian dipakai sebagai bahan utama olahan shirataki, mi bening yang banyak dikonsumsi di Asia Pasifik.

Berbeda dengan tepung terigu atau tepung beras, konjak sendiri dikenal memiliki banyak serat. Itu sebabnya shirataki berbahan dari konjak memiliki rasa lebih kenyal namun kandungan karbohidrat lebih sedikit.

Mi shirataki ini juga seringkali dipakai untuk mi ramen di Jepang. Popularitas shirataki juga terus meningkat karena dipercaya sebagai menu diet dan gaya hidup sehat.

Presiden Joko Widodo menyebut porang tanaman akan menjadi makanan sehat sebagai pengganti beras pada masa depan. 

“Porang ini akan menjadi makanan masa depan karena low calorie, low carbo dan juga rendah kadar gula. Saya kira ini akan menjadi makanan sehat di masa depan. Ini juga bisa menjadi pengganti beras yang lebih sehat karena kadar gulanya sangat rendah,” katanya dilansir dari Kompas.com.

Cara Budidaya Tanaman Porang

1. Syarat Tumbuh

Sebelum menanam porang, Anda harus memahami terlebih dahulu apa-apa saja yang menjadi syarat tumbuhnya, agar tanaman porang dapat tumbuh dengan optimal. Berikut syarat-syaratnya:

Jenis dan pH Tanah

Pada dasarnya, porang bisa tumbuh pada jenis tanah apapun. Namun tanah gembur yang tak tergenang air dan memiliki pH 6-7 bisa memaksimalkan pertumbuhannya.

Kondisi Lingkungan

Porang membutuhkan tingkat kerapatan naungan setidaknya 40%. Naungan yang cocok untuk porang adalah pepohonan mahoni, jati, dan sono.

Iklim

Porang memiliki toleransi tempat teduh yang sangat tinggi. 

Ketinggian Tanah

Porang bisa tumbuh pada ketinggian 0-700 mdpl, namun ketinggian yang paling baik adalah 100-600 mdpl.

2. Teknik Budidaya Porang

Cara menanam porang bisa dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. 

Umumnya dalam kurun waktu empat tahun, tanaman porang akan berbunga dan menghasilkan biji.

Biji-biji yang dihasilkan kemudian harus disimpan terlebih dahulu hingga bisa ditanam saat musim penghujan.

3. Persiapan Lahan

Lahan yang bisa ditanami porang adalah lahan terbuka dan lahan dengan naungan pepohonan.

Untuk cara menanam porang di lahan terbuka, bersihkan dulu lahannya dari gulma lalu dibajak singkal atau lakukan proses penggemburan lahan.

Setelah itu buat guludan dan lubang tanam dengan jarak 25 x 50 cm atau 25 x 60 cm.

Tambahkan pupuk kompos dan sekam pada setiap lubang tanam untuk mengoptimalkan pertumbuhan.

Potensi pertumbuhan porang akan lebih tinggi jika menggunakan sistem monokultur.

4. Penanaman Porang

Porang dapat ditanam langsung menggunakan umbi. Jika menggunakan biji, sebaiknya bibitkan dulu dalam polybag.

Waktu penanaman porang yang paling cocok adalah pada saat awal musim penghujan. Biasanya terjadi sekitar bulan Oktober sampai Desember.

5. Perawatan

Perawatan tanaman porang terbilang mudah. Cukup melakukan tahap-tahap perawatan berikut ini:

Pembersihan Gulma

Di musim penghujan, gulma akan mudah untuk tumbuh subur. Bersihkan gulma yang tumbuh dan pastikan tidak ada yang tumbuh di sekitar tanaman porang. Gulma dapat menghambat pertumbuhan porang.

Peninggian Guludan

Timbun pangkal batang porang dengan tanah di sekitarnya supaya guludan semakin tinggi. Peninggian ini ditujukan untuk menjaga ketegakan tanaman porang.

Pemupukan

Pemupukan pertama menggunakan pupuk kompos dan dilakukan sebelum proses tanam. Pemupukan kedua menggunakan pupuk organik atau anorganik NPK dan dilakukan saat tanaman porang sudah mulai tumbuh.

Penjarangan

Lakukan penjarangan jika dalam satu lubang tanam terlalu banyak tanaman porang yang tumbuh. Penjarangan penting dilakukan supaya umbi dapat tumbuh besar.

6. Tahap Panen

Apabila penanaman menggunakan umbi, porang bisa mulai dipanen mulai 7 bulan. Sedangkan jika menggunakan bibit porang porang baru bisa dipanen mulai 18–24 bulan.

Cara panennya adalah dengan menggali tanaman porang sama seperti cara memanen tanaman umbi-umbian lainnya.

Rekomendasi Pupuk untuk Tanaman Porang

Sama halnya dengan tanaman lain, untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus diperlukan pupuk. Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Edi Santosa S.P., M.Si. menyarankan, pupuk yang digunakan untuk porang adalah pupuk kandang.

“Sebaiknya pupuk kandang. Ini akan bagus untuk kondisi tanah subuh, secara fisika, kimia dan biologisnya juga baik dengan pupuk kandang,” ujarnya dikutip dari Kompas.com.

Menurutnya, akan lebih baik jika petani memberikan 1 kilogram pupuk kandang sekali selama masa tanam porang. “Kalau pakai pupuk NPK itu memang hasilnya lebih bagus juga, tapi kandungan kimianya tinggi,” katanya.

Jika tetap ingin memberikan campuran pupuk kimia NPK, Edi menyarankan pemberian pupuk NPK cukup dilakukan satu kali saja selama masa tanam.

Penulis: Eva