PKT Peduli Stunting

Problematika Stunting di Indonesia dan Upaya Mencapai Kesehatan Pangan 2025

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Hal ini akibat asupan gizi yang diberikan dalam waktu yang panjang tidak sesuai dengan kebutuhan. Gejala umum stunting di antaranya anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya.

Stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas. Dari peta tersebut, 14 provinsi memiliki tingkat stunting di atas nasional (27,6 persen). 

Daerah dengan stunting tertinggi berada di kawasan tengah dan timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua. Hampir semua provinsi di pulau tersebut memiliki tingkat stunting diatas rata-rata nasional. Hanya Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara yang memiliki tingkat stunting di bawah rata-rata nasional. 

Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen. Dengan angka stunting di tahun 2021 sebesar 24,4 persen maka untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7 persen di setiap tahunnya.

Hal ini diungkapkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan persnya usai menghadiri Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Strategi Percepatan Penurunan Stunting yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Selasa (11/01/2022), secara virtual.

“Targetnya jelas, yaitu menurunkan stunting-nya kita, per tahun 2021 ini kan ada di angka 24,4 persen, itu beliau (Presiden Joko Widodo) harapkan bisa mencapai angka 14 persen di tahun 2024. Hitung-hitungan kami turunnya mesti 2,7 persen per tahun,” ungkap Budi.

Untuk mencapai target tersebut pemerintah melakukan dua intervensi holistik yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Dijelaskan Budi, intervensi spesifik adalah intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan kepada ibu sebelum dan di masa kehamilan, yang umumnya dilakukan di sektor kesehatan. Sedangkan intervensi sensitif dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan merupakan kerja sama lintas sektor.

“Untuk menurunkan stunting, 30 persen bergantung kepada intervensi spesifik (dan) 70 persen bergantung kepada intervensi sensitif,” imbuhnya.

Budi menyampaikan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pelaksana percepatan penurunan angka stunting nasional akan mengoordinasikan upaya intervensi tersebut dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait.

“Kami di Kementerian Kesehatan membantu Pak Kepala BKKBN konsentrasi yang intervensi spesifik, yang 30 persennya,” imbuhnya.

Gagas Program PEDALGAS

Langkah pencegahan stunting sangat perlu dilakukan secara terus menerus. Upaya ini tidak hanya mengandalkan pemerintah semata namun oleh seluruh pihak. Seperti yang dilakukan oleh PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) bekerjasama dengan PT Kaltim Medika Utama (KMU) menggagas program PEDALGAS (Pengendalian dan Pencegahan Stunting) bagi masyarakat Bontang. Program ini diresmikan oleh SVP Umum PKT Ardi Harto Mulyo, bersama Sekretaris Kota Bontang Aji Erlynawati di Posyandu Flamboyan Gunung Elai Bontang Utara, Selasa (29/3/2022). 

Diungkapkan Ardi Harto Mulyo, program PEDALGAS digagas PKT sebagai bentuk kepedulian perusahaan bagi pertumbuhan anak di Kota Bontang, sekaligus menekan risiko stunting pada anak sejak masa kehamilan. Program ini juga wujud dukungan PKT terhadap pencapaian 17 indikator Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya menghilangkan kelaparan dan segala bentuk mal nutrisi di tahun 2030, serta mencapai kesehatan pangan melalui penurunan angka stunting hingga 40 persen di tahun 2025. 

“Sasaran program ini anak usia di bawah dua tahun dan ibu hamil, yang merupakan kelompok rentan terhadap persoalan kesehatan dan gizi. Dari kesinambungan upaya yang dilakukan, diharap dapat mencegah risiko stunting sejak dini di Kota Bontang,” ujar Ardi. 

Dirinya menegaskan PKT sangat berkomitmen dalam mendukung kesehatan masyarakat, melalui berbagai program yang digagas untuk memberikan pelayanan secara optimal. Hal ini merupakan salah satu fokus perhatian PKT dengan mendekatkan pelayanan serta memudahkan masyarakat mendapatkan akses kesehatan di Kota Bontang.”Dukungan terhadap kesehatan masyarakat akan terus dioptimalkan PKT, melalui berbagai program secara berkesinambungan. Baik bagi masyarakat sekitar perusahaan maupun Kota Bontang secara umum,” tandas Ardi. 

Direktur Operasi dan Pengembangan PT KMU Ilham Normadina, mengatakan program ini menitikberatkan pada aspek identifikasi hingga edukasi pemantauan tumbuh kembang anak secara intensif. Hal ini mengingat angka stunting yang masih terbilang tinggi di Bontang, sehingga perlu kesinambungan upaya untuk pencegahan dan meminimalisasi risiko sejak dini. 

“Berdasarkan data status gizi Kota Bontang per Januari 2022, saat ini terdapat 1.825 balita stunting, 809 balita underweight serta 460 balita wasting. Diharapkan melalui program ini kita bisa mengidentifikasi dini risiko stunting untuk dilakukan pencegahan,” kata Ilham. 

Program PEDALGAS menyasar masyarakat pesisir Bontang seperti di Kelurahan Loktuan, Guntung, Gunung Elai, Bontang Baru, Bontang Kuala hingga pulau Gusung. Kegiatan meliputi screening pertumbuhan anak dan ibu hamil, edukasi terkait stunting, konseling ahli gizi, pelatihan pemantauan pertumbuhan anak bagi kader posyandu, pemantauan pertumbuhan anak dan ibu hamil sebanyak tiga kali serta pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita. 

“Kami harap program ini dapat membangun komitmen bersama dalam pengendalian serta pencegahan stunting di wilayah pesisir, agar generasi berikutnya bisa tumbuh lebih sehat dan cerdas,” tambah Ilham.

Sekretaris Kota Bontang Aji Erlynawati, mengapresiasi dukungan PKT dalam menekan angka stunting melalui program PEDALGAS, sebagai kesinambungan upaya identifikasi pertumbuhan anak dan kesehatan ibu hamil di Kota Bontang. Ia menilai program ini sejalan dengan langkah Pemkot Bontang untuk menekan angka stunting hingga 14 persen di tahun 2024, dengan mengerahkan seluruh sektor terkait untuk menangani persoalan tersebut secara konvergen dan terintegrasi. 

“Kami sangat menyambut positif sekaligus mengapresiasi dukungan PKT melalui program ini, sehingga kedepan stunting bisa terus ditekan seiring meningkatnya pemahaman masyarakat dengan kesinambungan upaya yang dilakukan,” tutur Aji.

Penulis: Tyo