industri-pupuk-pupuk kaltim

Upaya Industri Pupuk Menjaga Ketahanan Pangan untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sebagian besar penduduknya bekerja pada bidang pertanian. Selain itu, Indonesia juga memiliki lahan pertanian yang luas, sumber daya alam beraneka ragam dan berlimpah.

Sejauh ini, pertanian merupakan sektor penopang terbesar kedua bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestik bruto (PDB) lapangan usaha pertanian atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp2,25 kuadriliun sepanjang 2021. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 13,28% terhadap PDB nasional. 

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional pada tahun 2021 tercatat turun 0,42 persen poin dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 13,7%. Jika dibandingkan dengan posisi 2010, kontribusi sektor pertanian juga menyusut sebesar 0,65 persen poin.

Jika diukur menurut PDB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010, sektor pertanian sepanjang tahun 2021 hanya tumbuh 1,84% dibanding tahun sebelumnya.

Meskipun lebih tinggi dibanding capaian pada 2020, pertumbuhan sektor pertanian pada 2021 masih lebih rendah dibandingkan dengan sebelum adanya pandemi Covid-19, di mana pertumbuhannya selalu di atas 3%.

Upaya Meningkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang wajib terpenuhi setiap harinya. Kondisi terpenuhinya pangan ini berkaitan erat dengan performa industri pertanian yang merupakan salah satu penopang perekonomian nasional. 

Studi Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa sektor pertanian tumbuh 1,35 % pada Kuartal III/2021 dan secara konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasalnya, peran petani sebagai salah satu insan pertanian amatlah besar, bahkan digadang sebagai pahlawan bangsa di bidang pangan. 

Oleh sebab itu, pemerintah telah menjadikan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama. Mendukung program tersebut, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) sebagai produsen pupuk urea terbesar di tanah air memahami bahwa akselerasi pertanian diperlukan untuk mengoptimalkan produktivitas, diantaranya melalui pengembangan sumber daya manusia yang dalam hal ini adalah petani. 

Sejak 2020 lalu, Pupuk Kaltim menginisiasi program Makmur (sebelumnya Agro Solution) fokus pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani. Kini Pupuk Kaltim bersama instansi lainnya yang berada di bawah naungan grup PT Pupuk Indonesia bersama-sama menjalankan Program Makmur di seluruh Indonesia. 

Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Kaltim, mengungkapkan Program Makmur pada dasarnya merupakan program kemitraan yang melibatkan berbagai pihak, di antaranya adalah petani, instansi keuangan, instansi pemerintahan, hingga korporasi untuk membentuk ekosistem kondusif bagi petani. Kolaborasi strategis ini menjadi aksi nyata untuk menciptakan sistem pertanian yang mencapai produktivitas optimal sehingga tercapai kesejahteraan petani secara finansial.  

“Program Makmur senantiasa mendorong peningkatan penggunaan pupuk nonsubsidi untuk mengurangi ketergantungan akan pupuk subsidi. Lalu, program ini juga diharapkan dapat mendorong minat petani milenial yang menjadi harapan bagi industri pertanian masa kini untuk ikut serta dalam menciptakan ketahanan pangan,” katanya.

Lebih lanjut, proses kemitraan yang dijalankan pun mudah untuk diikuti dan dipahami oleh petani. Dengan melibatkan Dinas Pertanian, data petani lebih cepat untuk dikumpulkan yang mana mempersingkat proses kemitraan itu sendiri. Alhasil, para petani yang sudah terdaftar otomatis akan mendapatkan manfaat program. Setidaknya terdapat tiga upaya yang dilakukan oleh program Makmur untuk meningkatkan produktivitas petani: 

  • Adanya jaminan pasar

Tidak jarang isu yang dihadapkan kepada petani adalah ketidakpastian pembeli hasil panen. Oleh karena itu, program Makmur senantiasa menghadirkan pihak korporasi yang berperan sebagai offtaker dari produk-produk yang dihasilkan petani. Disini terpilih pihak yang terpercaya dan penuh berkomitmen untuk membeli hasil panen petani sesuai dengan harga pasar yang ada. Selain itu, offtaker juga dapat mengolah hasil panen untuk menciptakan nilai tambah produk. 

  • Akses permodalan dan asuransi

Dalam proses kemitraan ini, petani diberikan akses permodalan yang utamanya diperoleh dari instansi perbankan Himbara antara lain BNI, BRI, dan Mandiri. Lalu, petani juga berkesempatan untuk memperoleh permodalan secara pribadi (non bank).  Di sisi lain, program Makmur ini juga memberikan asuransi perlindungan terhadap risiko gagal panen atau gagal bayar yang mungkin dialami oleh petani. 

  • Adanya pendampingan dan sarana produksi (saprodi)

Sebagai upaya mengoptimalkan produktivitas petani, Pupuk Kaltim melalui program Makmur ini mendistribusikan sarana produksi yang diantaranya adalah benih, pestisida, dan pupuk yang terjamin kualitasnya. Lebih lanjut, ketepatan dan jaminan distribusi pupuk juga kerap diutamakan dalam proses pemenuhan sarana produksi ini. Terlepas dari itu, ada pula kegiatan pendampingan teknis yang secara intensif dilakukan, meliputi kegiatan analisis tanah, pendampingan argonomis dan budidaya, pemupukan dan rekomendasi, hingga teknologi dan mekanisasi pertanian melalui aplikasi IFARM – RMS untuk melakukan proses monitoring tanaman secara digital dan mengakses ekosistem dari hulu ke hilir (rantai pasok).

Dalam menjalankan program Makmur, Pupuk Kaltim diberikan tugas untuk mengembangkan program di wilayah Sulawesi (Barat, Selatan, Tengah dan Utara), Bali, Gorontalo, Jawa (Tengah dan Timur), Kalimantan (Barat, Timur dan Utara), NTB dan NTT. Dengan target cakupan lahan sebesar 12.000 hektar pada tahun 2021 lalu, Pupuk Kaltim berhasil merealisasikan hingga hingga 151% atau mencapai total 18.110 hektar. Di sisi lain, jumlah petani yang tergabung dalam program ini pun berhasil mencapai 9.780 orang yang mana target 2021 adalah 9.000 orang. 

“Kami secara konsisten berkomitmen untuk menjaga ketahanan pangan nasional dengan melakukan berbagai inovasi. Dengan terus memperhatikan unsur masyarakat, lingkungan dan ekonomi dalam menjalankan program Makmur, kami optimis kedepannya akan semakin banyak lagi petani yang berhasil kami tingkatkan produktivitasnya sehingga dapat mencapai kesejahteraan,” tutup Rahmad.

Penulis: Tyo