Program Makmur

Program Makmur dan Ekosistem Pertanian di Tahun 2022

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

TAHUN 2022 ini, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) fokus memperluas pengembangan program Makmur. Program ini bertujuan menciptakan ekosistem pertanian yang mendukung para petani, terutama di wilayah Indonesia Timur. Sejak diinisiasi pada tahun 2020, realisasi program Makmur terus meningkat setiap tahunnya. 

Sepanjang tahun 2021, program Makmur berhasil menggandeng 9.780 petani untuk bergabung. Selain itu, PKT juga berhasil mengembangkan 18.110 hektar atau berhasil merealisasi hingga 151% dari target 2021.

“Sejak awal terbentuknya program Makmur, kami menciptakan ekosistem pertanian yang kondusif guna mendukung petani untuk mencapai produktivitas yang optimal. Tak hanya mendampingi petani secara intensif dalam proses operasional, kami juga terus memperkuat kolaborasi end-to-end dengan berbagai pihak. Misalnya, instansi keuangan, pemerintahan, hingga korporasi,” ujar Qomaruzzaman, Direktur Keuangan dan Umum PKT.

Dengan cara ini, PKT tidak hanya ingin meningkatkan produktivitas petani, tapi juga mendorong tercapainya kesejahteraan petani secara finansial. Melalui program Makmur ini, PKT juga fokus pada penerapan triple bottom-line 3P (People, Planet, dan Profit) di setiap langkah yang akan dilakukan. Tak lain, upaya ini untuk menjamin budidaya pertanian yang berkelanjutan. Lebih dari itu, integrasi teknologi pun menjadi salah satu fokus PKT agar program semakin efektif dan efisien untuk mencapai target di tahun ini.

Pengembangan Program Makmur

Project Manager Program Makmur Pupuk Kaltim Adrian RD Putera memaparkan, Program Makmur terus dikembangkan berdasarkan karakteristik geografis dan komoditas unggulan di setiap daerah pengembangan. 

Salah satunya adalah dengan menggali potensi komoditas unggulan alternatif yang mampu memberikan nilai ekonomi lebih bagi para petani, seperti kelapa sawit.

“Selain itu, kolaborasi dengan kelompok tani di tiap wilayah pengembangan Pupuk Kaltim, dapat mempercepat proses keikutsertaan petani ke dalam Program Makmur. Kami juga melihat bahwa wilayah Indonesia timur memberikan tantangan tersendiri dalam penerapan Program Makmur, di antaranya karena medan lahan pertanian, ketersediaan fasilitas, hingga sumber daya manusia,” tambahnya. 

Menurutnya, Pupuk Kaltim menargetkan 25.000 orang petani menjadi anggota dari program Makmur di tahun 2022. Serta, target cakupan lahan mencapai 60.000 hektare yang tersebar di wilayah pengembangan program Makmur yang dimandatkan kepadanya.  Yakni di Sulawesi (Barat, Selatan, Tengah dan Utara), Jawa (Tengah dan Timur), Kalimantan (Barat, Timur dan Utara), NTB, NTT, dan Papua Barat. Dia mengatakan, beberapa wilayah pengembangan Program Makmur Pupuk Kaltim khususnya di Indonesia timur memiliki tingkat kesejahteraan dan ekonomi daerah yang rendah. 

“Beberapa wilayah pengembangan program Makmur PKT khususnya di Indonesia timur memiliki tingkat kesejahteraan dan ekonomi daerah yag rendah. Oleh karena itu, dengan adanya program Makmur ini diharapkan dapat meringankan beban petani di wilayah tersebut dan meningkatkan pendapatan mereka sehingga ekonomi keluarga pun meningkat,” kata Adrian. 

Adrian juga menjelaskan, berdasarkan studi yang dilakukan PKT, petani Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan, diantaranya adalah minimnya akses permodalan, kurangnya fasilitas sarana produksi, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, dan praktik budaya yang intensif, serta jaminan pasar atau offtaker bagi beberapa komoditas utama. 

Oleh karena, program Makmur dirancang untuk menjawab kebutuhan para petani melalui berbagai inisiatif strategis.

Pertama, PKT menjamin adanya pasar atau pihak yang akan membeli hasil panen. Di sini terpilih pihak yang terpercaya dan penuh komitmen untuk membeli hasil panen petani sesuai dengan harga pasar yang ada. Selain itu, offtaker juga dapat mengolah hasil panen untuk menciptakan nilai tambah produk.

Selanjutnya, PKT memberikan akses permodalan bagi para petani yang merupakan mitra program Makmur. Beberapa instansi perbankan yang ikut tergabung adalah BNI, BRI, dan Mandiri yang siap mendukung petani dengan modal yang dibutuhkan.

Selain itu, petani juga mendapatkan perlindungan terhadap risiko gagal panen atau gagal bayar yang mungkin dialami oleh petani melalui asuransi yang tersedia.

Terakhir, PKT melakukan pendampingan teknis bagi para petani yang meliputi kegiatan analisis tanah, pendampingan argonomis dan budidaya, rekomendasi pemupukan, hingga teknologi dan mekanisasi pertanian melalui aplikasi IFARM – RMS untuk melakukan proses monitoring tanaman secara digital dan mengakses ekosistem dari hulu ke hilir (rantai pasok).

Lalu, PKT juga mendistribusikan sarana produksi yang diantaranya adalah benih, pestisida, dan pupuk yang terjamin kualitasnya sebagai upaya mengoptimalkan produktivitas petani.

“Sejak awal diluncurkan, program Makmur dirancang untuk menciptakan ekosistem pertanian yang mendukung bagi petani, dengan sistem pengembangan yang terintegrasi mulai dari riset kebutuhan pasar, inovasi produk, hingga meningkatkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Melalui ekosistem pertanian end-to-end tersebut, kami tidak hanya fokus untuk menjawab tantangan produktivitas pertanian, tapi juga menjamin pertanian yang berkelanjutan,” tutup Adrian.

Pupuk Nonsubsidi Bantu Majukan Usaha Rakyat

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyinergikan atau mengawinkan program Makmur PT Pupuk Indonesia dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Komitmen ini disampaikan oleh Staf Khusus III Menteri BUMN, Arya Sinulingga, di hadapan para petani tebu Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Proses sinergi program yang memiliki makna ‘Mari Kita Majukan Usaha Rakyat’ dengan KUR ini sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap para petani, khususnya di Jawa Timur.

“Tujuannya supaya para petani semakin sejahtera dengan cara dapat pendanaan, kemudian dapat pupuk, kemudian kalau gagal panen dikasih asuransi, kemudian juga dana pengelolaan lahan, kemudian ada yang beli, ada offtakernya,” ucap Arya dikutip di Jakarta, Minggu (13/3).

Arya mengatakan bahwa program Makmur merupakan salah satu upaya dan solusi yang diberikan pemerintah kepada petani tanah air untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari usaha tani. Makmur menjadi solusi bagi petani lantaran program ini merupakan ekosistem yang menghubungkan petani dengan segala bentuk kebutuhan pertanian, mulai dari project leader, pihak asuransi, lembaga keuangan, teknologi pertanian, agro input, offtaker, dan pemerintah daerah.

Dengan begitu, Program Makmur mampu menjawab tantangan yang selama ini dihadapi oleh para petani. Adapun keluhan yang sering didapatkan para petani adalah mengenai ketersediaan pupuk. Melalui program Makmur ini, Arya memastikan kebutuhan pupuk petani akan lebih terjamin, apalagi pupuk yang dimanfaatkan merupakan non subsidi atau komersil.

“Pak Erick itu meminta perbankan BUMN seperti BRI dan lainnya dipakai sebagai yang menanggulangi pendanaannya, supaya ada perubahan di pertanian kita, dan sudah pasti kita menyarankan tidak pakai pupuk subsidi, karena dari pupuk non subsidi ini diharapkan hasil produktivitasnya naik 40 persen – 60 persen dibandingkan biasanya,” kata Arya.

Penulis: Tyo