rahasia sukses petani kakao

Rahasia Sukses Petani Kakao yang Meraup Untung Ratusan Juta Rupiah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

KAKAO atau Theobroma cacao L. merupakan komoditas perkebunan yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman yang merupakan bahan baku cokelat ini dapat berbuah sepanjang tahun. Tanaman ini termasuk golongan tumbuhan tropis yang cocok dengan kultur tanah dan iklim di Indonesia. 

Karena itu, banyak petani yang membudidayakan tanaman bahan baku cokelat ini. Salah satunya adalah petani asal Sikka bernama Eduardus. Dia menjadi salah satu petani kakao sukses dan bisa meraup untung ratusan juta rupiah setahun dengan menjual kakao dan anakan kakao dari kebun pembibitan. 

Sejak tahun 2009, pria yang berdomisili di RT 04 RW 07 Dusun Gedo, Desa Wolokoli, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, ini terlibat aktif menularkan ilmu tentang kakao mulai dari cara tanam, perawatan hingga panen. Bahkan Eduardus bisa mengajarkan dari cara memilih bibit dan menanamnya di polybag sebelum dipindahkan ke kebun. 

Hampir semua petani kakao di Sikka pernah mendapat ilmu darinya. Jiwa petani sudah tertanam dalam diri suami dari Maria Goreti Wurha ini sejak remaja. Setamat dari SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas ) Boawae tahun 1990, dia mengambil kursus pertanian,  tepatnya  di Kursus Pertanian Tanam Tani (KPTT) di Salatiga, Jawa Tengah. 

Selepas dari Salatiga, Eduardus bergelut dengan tanaman Vanila. Sempat bekerja di beberapa LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bersinggungan dengan pertanian, membuatnya mendapatkan beragam ilmu dan praktik bertani yang mumpuni. Tahun 1993 hingga 1996 dia bergabung dengan Yayasan Karya Sosial di Sikka yang mengembangkan kebun contoh Bertani Selaras Alam di Wolomarang.

Contoh sukses lainnya ada Baramang, 42 tahun dari Desa Saluparemang Selatan, Kecamatan Kamanre, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Ia termasuk petani sukses dan berprestasi sehingga ditunjuk mewakili petani kakao se-Indonesia dalam Jakarta Food Security Summit (JFFS) 2018, di Jakarta Convention Center, 8-9 Maret 2018. 

Cerita sukses Baramang memang tak biasa. Ia juga banyak membantu petani kakao lainnya, dalam perannya sebagai Cocoa Doctor, sebuah program pendampingan petani yang diinisiasi oleh PT Mars Indonesia. 

Baramang mampu bangkit dari keterpurukan, ketika produktivitas kakao menurun karena serangan hama PBK. Pada tahun 2015, Baramang mengikuti pelatihan Cocoa Doctor, di mana Ia mendapat banyak pengetahuan baru, termasuk budi daya, pemasaran dan penyuluhan. Namun yang paling berkesan baginya adalah teknik penyuluhan; tentang bagaimana berhadapan dengan petani lain berbagi pengetahuan tentang budidaya kakao.

Pemerintah Terus Berupaya Meningkatkan Produksi Kakao Nasional

Melansir WorldAtlas, Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia dengan produksi mencapai 659,7 ribu ton pada 2020. Indonesia juga merupakan satu-satunya dari lima besar negara penghasil kakao yang tidak terletak di Afrika, melainkan di Asia Tenggara. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah provinsi di Sulawesi menjadi produsen kakao terbesar secara nasional pada 2020. Sulawesi Tengah merupakan provinsi di Indonesia yang memproduksi kakao terbanyak, yakni 128,2 ribu ton. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, perlu sebuah perencanaan yang matang serta juga edukasi terhadap petani agar produksi kakao bisa terus meningkat. Apabila hal itu terwujud bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi kekuatan kakao baru di dunia.

Syahrul menambahkan, prospek kakao di Indonesia sangat bagus meski perlu waktu 2,5 tahunan panen buah kakao. Karena itu, optimistis UU Cipta Tenaga Kerja yang baru saja disahkan bisa menjaring investor di sektor kakao. Menteri Pertanian berharap produksi kakao Indonesia bisa terus meningkat sehingga jumlah yang diekspor juga semakin besar lagi. 

Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, ekspor kakao pada 2018 sudah mencapai 380 ribu ton dengan kontribusi devisa 1,25 miliar dolar Amerika. Namun, impor kakao juga terus meningkat yaitu hampir 20 persen per tahun. 

Menurut Musdhalifah, meningkatnya impor kakao disebabkan produksi lokal yang turun akibat serangan hama dan juga kebun kakao tua yang belum direvitalisasi. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Perekonomian memberikan subsidi pupuk khusus yang sesuai dengan kondisi perkebunan kakao. Program ini akan terus dilanjutkan pada 2021 dengan target produksi kakao bisa meningkat. 

“Kantor Menko Perekonomian juga sudah menyiapkan konsep yang intinya korporasi petani dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan kapasitas petani dan pendapatan petani. Ini yang diharapkan tujuan utama dari manajemen korporasi melalui kemitraan,” jelas Musdhalifah. 

NPK Khusus Kakao dari Pupuk Kaltim

Budidaya kakao sangat mengharapkan tanah yang kaya akan nutrisi di dalamnya. Pengolahan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari gulma dan kotoran yang mengganggu. Sedangkan pemupukan dilakukan dengan cara ditugal dengan menggunakan pupuk urea TSP dan KCl. 

Dosis pupuk sendiri ditetapkan berdasarkan umur tanaman. Pemupukan pertama pada tanaman kakao dilakukan ketika tanaman telah berumur 2 bulan setelah tanam. PT Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen pupuk berkualitas, telah memproduksi pupuk dengan formula yang khusus bagi tanaman kakao. 

Pupuk NPK Pelangi merupakan formula pupuk majemuk yang mengandung unsur nitrogen, fosfor dan kalium yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. PT Pupuk Kaltim telah memproduksi pupuk NPK Pelangi yang secara khusus untuk tanaman kakao. 

Sejak tahun 2017, Pupuk Kaltim telah mengembangkan pupuk NPK Pelangi 14-12-16-4 yang formulasinya diciptakan secara khusus untuk mendukung produktivitas tanaman kakao. Pupuk NPK Pelangi pabrikan PT Pupuk Kaltim, terdiri dari kandungan hara: 14% N, 12% P2O5, 16 % K2O, 4 % MGO dan tambahan nutrient 4% CaO, 3% S, 0,3 % ZnO dan 0,4 % B2O3.

Manfaatnya mulai dari menghijaukan tanaman, penyusun protein, klorofil dan berperan dalam proses fotosintesis. Pupuk NPK juga berfungsi untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif, seperti daun, batang, dan akar. Selain itu, mempercepat pembentukan bunga dan pematangan buah/biji, sehingga mempercepat masa panen, memperbesar persentase terbentuknya bunga menjadi buah, dan menyusun serta menstabilkan dinding sel, sehingga menambah daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit.

Pada suatu kesempatan, Direktur Eksekutif Cocoa Sustainability Partnership (CSP) Wahyu Wibowo, menyebut gagasan Pupuk Kaltim melalui NPK 14-12-16-4 untuk mendukung pengembangan komoditas kakao Indonesia sejalan dengan Road Map CSP 2020, yaitu menargetkan 200 juta tanaman kakao di tahun 2030. 

Program ini disebut Wahyu mampu menjawab keraguan stakeholders kakao maupun pihak lain, karena hasil uji produk Pupuk Kaltim diketahui mengutamakan kandungan nutrisi dalam rasio yang tepat. Penggunaan pupuk yang tidak sesuai menjadi penyebab utama turunnya pH dan kesuburan tanah, sehingga berimbas pada produksi kakao nasional yang saat ini hanya berkisar 800 Kilogram (Kg) per hektare. Padahal sejatinya satu kali masa panen, hasil produksi kakao berpotensi mencapai 2 – 2,5 ton per hektar. 

“Pupuk formula khusus dari Pupuk Kaltim ini merupakan terobosan baru dalam Program Pupuk Bersubsidi dan sangat dibutuhkan oleh petani kakao,” kata Wahyu. (*)

Penulis: Tyo

Latest Article