Budidaya sayuran organik

Tips Survive a la Jehamu Menjadi Petani Setelah Dirumahkan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Topik Pembahasan

Yohanes Jehamu sebelumnya merupakan seorang surveyor sebuah hotel di kota Semarang. Saat pandemi Covid-19 menyerang, Jehamu menjadi salah satu pegawai hotel yang dirumahkan pada Maret 2020. Meski demikian, Jehamu tak merasa putus asa. Jehamu mengembangkan keahliannya dalam membudidayakan sayuran organik

Jehamu mulai membudidayakan sayuran organik dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada di kompleks perumahannya di Kecamatan Tembalang. Jehamu mengaku bahwa membudidayakan sayuran organik bukanlah hal yang baru baginya.

Sumber Foto/SINDOnews/Ahmad Antoni

Pria asal Flores, NTT sebelum pindah ke Semarang merupakan seorang petani. Jehamu juga memiliki pengalaman bekerja sebagai petani sayur organik di Bandung. Jehamu menggunakan polybag sebagai tempat media tanamnya. Sayuran organik yang ditanamnya adalah terong, sawi, tomat, seledri dan masih banyak lagi. Tidak hanya sayuran, ia juga menanam obat-obatan dan bumbu dapur seperti jahe, lengkuas, kunyit, serai, dan temulawak.

Awalnya Jehamu menanam hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi lambat laun permintaan dari tetangga bertambah. Jehamu bisa melakukan panen dalam waktu 2,5 bulan. Jehamu bisa menjual terong dengan harga 25 ribu per kilo. Tidak hanya hasil panen yang dijualnya, Jehamu juga menjual bibit tanamannya. Terong dan cabe per polybag dihargai 25 ribu per polybag. 

Tips Merawat Pola Penanaman polybag Jehamu

Jehamu memilih menanam dengan menggunakan polybag karena tidak membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, menanam dengan polybag cocok untuk lahan yang tidak terlalu luas. Bercocok tanam menggunakan polybag juga merupakan salah satu alternatif bertanam bagi warga di perkampungan.

Dalam bertani sayuran organik, Jehamu memiliki cara unik, yaitu ia menggunakan campuran dari kotoran kambing, dedak / katul, tanah dan sekam padi sebagai media tanam. Sedangkan untuk pupuk cair, Jehamu menggunakan pupuk organik yang berasal dari ramuan sampah rumah tangga seperti kulit pisang, nasi basi, dan sampah organik lainnya.

Dalam meramunya Jehamu mengatakan sampai ramuannya terkena minyak. Ramuan tersebut kemudian harus diperam selama 21 hari sehingga bisa digunakan sebagai pupuk. Jehamu juga membuat ramuan pupuk organik dari batang pisang, lidah buaya, sabut kelapa, daun lamtoro dan daun kaliandra yang dicampur dengan air cucian beras dan diperam selama 21 hari.

Pupuk organik tersebut bisa digunakan bila baunya sudah menyengat. Jehamu menjamin bahwa ramuan pupuk organik ini bisa membuat panen sayuran menjadi lebih baik. Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah penyiraman sebanyak 2 kali dalam sehari.

Biodex Bantu Percepat Proses Pengomposan

Menilik dari kisah Jehamu di atas, tak ada salahnya mencoba untuk bertani sayuran organik. Pengomposan juga bisa kamu lakukan sendiri di rumah. Salah satu produk dari Pupuk Kaltim bisa membantu mempercepat pengomposan. Namanya Biodex.

Biodex merupakan bioaktivator perombak bahan organik. Biodex dibuat dengan menggunakan bahan aktif mikroba unggul yang memiliki kemampuan selulotik dan lignolitik tinggi seperti Trichoderma polysporum, T. viride, dan Fomitopsis meliae, sehingga waktu pengomposan relatif lebih singkat. Biodex berbentuk bubuk (powder) berwarna coklat kehitaman dan saat ini dijual dalam kemasan 2,5 kg.

Biodex memiliki beberapa keunggulan, yaitu sesuai untuk limbah organik padat, tidak membutuhkan tambahan nutrisi, tidak perlu dilakukan pembalikan pada saat proses pengomposan dan sesuai untuk daerah tropis, dengan dosis pemakaian 2,5-5 kg/ton bahan organik.

Yuk kita coba untuk bertani sayuran organik, diawali dengan untuk konsumsi sendiri agar menunjang kesehatan.

Penulis: Fitri